
Tak terasa waktu bergulir begitu cepat, Usia kandungan Delia telah memasuki bulan ke-9, Insyaallah di bulan ini Delia akan melahirkan dengan normal. Semua keluarga tentunya mempersiapakan sesuatu kebutuhan Delia beserta Calon twins baby dengan semangat 45.Mama Kiran yang sangat antusias,telah mempersiapkan Harta warisan untuk cucu nya kelak.Aneh memang aneh, tapi itulah Mama Kiran.
Kedua pasutri, telah berada di ambang ketegangan hati. Terutama Abay, tuan ferguso itu nampak pucat di awal bulan menjelang kelahiran istrinya. Banyak yang ia takuti dalam peroses persalinan kelak,takut istri beserta anaknya tak selamat lebih tepatnya, itulah sebabnya tuan ferguso nampak pucat, dan sedikit mengurus. Sedangkan Delia, dia nampak semangat, karena lontaran ayat suci yang di bacakan suaminya sebelum tidur dan ketika bangun tidur membuatnya lebih tenang.
"Mas.Aku mau nambah, ice cream nya. " Pinta Delia kepada Abay, Mereka sekarang berada di salah satu kedai ice cream, "Aku mau nambah yang coklat, sama sugar vanila, eummm yaumyyyy.. " Abay mengkerutkan dahinya, Abay melihay sendiri dengan mata kepalanya, ice cream yang di makan istrinya pun belum habis sudah meminta yang baru.
"Sayang.Itu ice cream nya abiskan. " Ucap Abay lembut, takut membuat istrinya ngamuk di depan umum. Delia mendengus. "Dasar Suami pelit. Kekayaan kamu gaa bakal habis deh mas, kalau beliin aku ice cream Lagi. Youdah kalau mas gaa mau pesan kan, biar aku beli sendiri. " Abay geram, ia mencengkram kedua tangan Delia. "Yaaa yaaa.. Baiklah, Istriku tersayang, biar mas pesankan. " Abay berlalu, sembari mengacak rambut panjang istrinya yang tegerai. Delia tersenyum tanpa dosa.
Dertt.. Dertt...
Caling is meta
"waalaikum salam. Iya kenapa dek? "Jawab dan Tanya Delia. Delia telah bertemu dengan meta saat usia kandungan nya telah memasuki 5 bulan. Sedikit rasa terkejut saat mendengar semua penjelasan Meta. Memang terbukti, Meta tak memiliki ikatan darah dengan dirinya, tapi bagi Delia. Meta tetaplah Meta adik kecilnya yang suka menolongnya dulu. Ada rasa kecewa yang di rasakan Delia,karena telah mengabaikan keadaan Meta selama ini.
Begitu pula dengan Meta, ia sangat terkejut, ketika ia mengetahui semua identitas kakaknya. Ia merasa asing berada di tengah keluarga yang menyayangi kakaknya. Sedangkan dirinya siapa? Bahkan Papa Askah pun tak tahu dimana. Mamanya? Jangan ditanyakan lagi, Sisi telah nyaman berada di dalam jeruji besi. Meta juga memberitahu perihal rencana pernikahan nya dengan Dokter Toni. Membuat Delia dan Abay tercengang. Meta juga menjelaskan semuanya saat ia berada di Palembang bersama Dokter Toni.
"Kak. Aku mengganggu mu tidak?.kalau tidak, bisahkah kakak pilihkan baju pengantin ku? Aku telah mengirimkanya padamu. "
"Aiss kau ini. Aku pikir ada apa.Okee siaapp kelak kakak pilihkan untukmu. Semoga berjalan dengan lancar yaa adiku. "
"Hahha.. Aminnn, your sister is the best in my heart. " Ucap Meta di sebrang sana. "See you tommorow sist. Semoga persalinannya lancar. Aku mau lanjut kerja. " Meta mengakhiri sambungan telepone, memang benar, Sekarang Meta bekerja di tempat yang sama dengan Kekasihnya Toni.
"Siapa sayang? " Tanya Abay, Tangan kanan dan kirinya membawakan ice cream pesanan Delia.
"Meta Mas. " Jawabnya. Mata nya fokus menatap ice cream yang ada di tangan Abay. "Sini mas suapin. " Dengan senang hati, dan penuh kesabaran Abay menyuapakan ice cream untuk istri tercintanya itu, bahkan ia rela menghabiskan waktu lebih untuk istrinya,terbilang bekerja. Semua urusan ia pindah alihkan kepada sekretaris Marco.
"Mas. Aku bukan mesin. " Delia manyum. Ia kesal dengan suaminya yang menyuapkan ice cream dengan cepat. "Ougkheeyy.. " Jawab Abay, sambil memandang muka istrinya.
"Mas.Aku sudah kenyang. Makanlah untukmu. " Delia menolak suapan suaminya.
"Heii.. Kau menyuruhku, memakan bekasmu! " Abay sedikit kesak dengan istrinya. "Susah paya, aku memesakan ice cream untukmu. Mana antrian sepanjang air hujan menetes balaa.. Blaa.. " Abay terus mengoceh. Delia tak menghiraukanya.
"mas. "
"Ya. "
"Sudah ngocehnya? " tanya Delia, Sembari melihat segerombolan anak kecil. Abay tersentak, ia baru menyadari ucapanya tadi. "Shitt!, kenapa aku jadi cerewet. " Batinya. Sembari memukul kecil bibirnya.
"Mas.lihat ituu.. " Delia menunjukan sesuatu kepada Abay. Abay pun mengikuti arah tangan istrinya. "Mas. Kau melihatnya? " tanya Delia.
"Yaa. Dia Anak kecil. Kenapa? " Tanya Abay, tatapan nya tak luput dari anak kecil yang telah jadi pusat perhatian kedua pasutri ini.
"Mas. Dia itu Clodia. Aku mengenalinya. Kenapa dia ada di sini mas. " Delia terus menatap nanar Clodia, anak panti yang pernah ia temui beberapa bulan lalu. Abay pun mengerutkan keningnya.
"Mas. Ayo kita temui Clod. " Delia menarik tangan suaminya yang kelihatan kebingungan.
__ADS_1
"Clod. " Panggil Delia.
"Sayang, ingat jangan berjalan terlalu cepat, kau sedang hamil " Abay memperingati istrinya. Namun Delia tak menghiraukan. Ia tetap memanggil nama Clod sambil menarik kedua tangan Abay, bersemangat, berhasil membuat Abay cemas.
Clodia menengok ke sumber suara yang memanggilnya. "TAN-TE CANTIK. " ucapnya, lalu berlari memeluk Delia. Delia dengan senang hati memeluk tubuh ramping Milik clod.
"Wahhh.. Perut Tante. " Clod melihat perut Delia yang sedang mengembang. "Iya Clod." Delia mengelus pipi Clod yang terlihat kumal.
Abay hanya diam kebingungan menatap kedua wanita yang ada di depanya. Delia paham, ia menarik Suaminya dan Clod untuk duduk di suatu kursi taman dekat kedai ice cream.
"Mas. Perkenlakan dia adalah Clodia. Dan Clodia, perkenalkan ini Suami Tante. " Delia saling memperkenalkan. Clod berusaha untuk menyalami tangan Abay. Abay menerimanya dengan muka datar.Memang itulah sifat si Tuan Ferguso ini.
"Eh iya. Clod. Kenapa kau ada si sini? Bukanya kau masih ada di panti? " Tanya Delia, Clodia nampak ketakutan.Abay pun dapat merasakan apa yang di pikirkan oleh Delia.
"Tante. Help me. " Anak itu, membinarkan matanya. Tampak jelas di mata Clod, jika dia sedang gelisah. Delia dan Abay gelagapan.Ia tak tahu harus bagaimana.
"Tan. Please Help me. Bawa aku kemana pun tante berada. " Air matanya menggenang di pelupuk mata yang rerlihat menghitam. Tangan anak itu, terus menggoyahkan kedua tangan Delia, ia berusaha meminta bantuan dari Delia.
"Untuk apa, Clod? " Tanya Delia.
"Please.. " Anak itu memelas. Air matanya telah berjatuhan di kedua pipi tirusnya. Delia memahami kondisi Clod. Segera ia mengambil tindakan.
"Mas. Ayo kita pulang. Izinkan Clod ikut bersama kita. " Delia memberikan kode kepada Suaminya. Abay bingung harus bagaimana.Mau tak Mau, Abay membawa Anak yang belum ia ketahui identitasnya.
Sepanjang perjalanan. Clodia nampak diam, tak ada lagi muka ketakutan yang ada hanya muka ketenangan yang ia pancarkan.
****
"Mama. Aku akan menjadikan Clod menjadi keluarga kita. " perjelas Abay. Sedangkan Clod terdiam saja.
"Nak. Kau tak tahu siapa keluarganya. " Ucap Mama Kiran. "Siapa orang tuanya? " Sambung Setia.
"Ma. Keputusan Aku sama Mas Abay udah bulat, mulai hari ini Clodia menjadi Anak kami. " Ucap Delia, langsung pada intinya. Sedangkan Papa Hendra, kakek Adi, Kedua kembaran, Papi Glen hanya asesee kepada keputusan anak mereka. Toh mereka sudah besar. Pilihan ada di tangan mereka sendiri.
"Tapi. Kan Mereka, -" Belum sempat Mama Kiran Menjelaskan nya. Sudah di kejutkan dengan Delia yang berteriak kesakitan.
"Maas. Perutku sakitt." Delia, Merasakan sekujur tubuhnya akan putus, apalagi di bagian perut dan pinggang rasanya ingin lepas saat ini juga.
Abay langsung panik, begitu juga dengan semua orang panik melihat Delia kesakitan, padahal hari ini, bukan hitungan yang pas untuk kelahiran. "Cepat, siapkan mobil. " Titah Mama Kiran heboh. Abay menggendong tubuh istrinya membawa Delia kedalam mobil.
Mobil yang di kendarai Abay,melaju dengan cepat. Mang ujang sudah biasa membawa mobil dalam kecepatan tinggi, sedikit membuat Abay tenang. "Mas.. Huhh.. Huhh perutku sakit. " Delia meremas Kaos yang dikenakan Suaminya. Sesekali menggigit tangan dan lengan Abay. Abay tak merasakan Sakit. "Setelah ini, aku tak akan mengizinkanmu hamil lagi. " Batin Abay, ia tak sanggup melihat istrinya kesakitan seperti ini.
"Tahan sayangku. Sebentar lagi kita sampai. " Abay terus menenangkan Istrinya. Delia nampak kewalahan. Air ketubanya telah pecah.
*******
__ADS_1
Di dalam Ruangan berwarna putih bercampur biru. Nampak seorang Dokter wanita, Beserta Meta yang akan menangani Kakaknya bersalin,Tak luput pula Abay, ia terus berada di samping istrinya.
"Aku di sini bersamamu. " bisik Abay. Delia hanya berteriak kesakitan.
"Tuan. Sepertinya perhitungan saya salah. Nyonya Delia, harus melahirkan saat ini juga. " Ucap Dokter Yang akan menangani Delia.
"Baiklah. Lakukan yang terbaik. " Abay menggenggam jemari Delia. Tangan kirinya telus mengelus kening istrinya yang basah karena keringat.
Sedangkan Meta dan Dokter wanita itu sibuk mempersiapkan persalinan Delia. "Kini saatnya kak. " Ucap Meta.Abay semakin panik, saat melihat gunting merobek milik istrinya. Ingin sekali Abay bertukar peran saat ini. Ia tak sanggup melihat istrinya kesakitan.
"Aaagghhhhh..... Huhh... Huhh... Agggkkkkkkk.. " Delia Berteriak, Sembari menggigit jemari Abay, Menarik rambut Suaminya.Baju kaus hitam itu pun nampak robek. Tapi Abay tak mempersalahkan. "Semangat Honey. Aku Mencintaimu. " Abay membisikannya di sela-sela Delia berteriak.
"Atur nafas, mari nyonya, dorong lagii." Titah Dokter paruh baya itu. Abay semakin merinding.Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana gunting itu merobekan titik tubuh istrinya."setelah ini, aku berjanji tak akan mengizinkan dirimu hamil lagi." Ucapnya dalam hati.
"emmmmmm...akhhhhhh...akhhhh...." Suara di ruangan kecil itu penuh dengan teriakan Delia.
"sedikit lagi kak." Ucap Meta.
"akkhhhhhh.....emmmm...akkkhhh...Mas Abay..HUHHH..SAKITT..AKHHHHHH..."
"Oeeee..oweeee..oweee.." Tangis Bayi menggema di ruang VVIP rumah sakit itu.bahkan dari luar ruangan nampak semua keluarga, bahagia mendengar tangis baby.
Abay merasakan debaran yang dahsyat saat mendengar tangisan baby." selamat Tuan.Bayi pertamanya Laki laki." Abay Mencium pucuk kepala Delia, "terimakasih.terimakasihhh."
"Maaf, pak Sepertinya persalinan kedua ." Dokter itu dan Meta sibuk melakukan persalinan Delia,Sedangkan Abay masih setia berada di sebelah istrinya. untuk menyemangati dan mendampingi istri tercintanya."Emmmmm....akkggggg.." Lagi Lagi Delia berteriak untuk kesekian kalinya.
Delia terus berteriak,kemudian mengatur nafas.Tak luput,Abay terus membacakan ayat suci, di telinga istrinya.Tak lama dari itu, tangis kedua sang bayi ,kembali menggema di ruang Rumah sakit ini.
"oweee..oweeee..owweee.."
"selamat Tuan dan Nyonya.bayi kalian lelaki semua, Alhamdulillah sehat, dan ganteng." dokter itu, nampak memuji melihat bayi yang begitu mirip dengan Abay.
kedua twins baby itu, sedang di azankan oleh Abay. sedangkan Delia menggendong bayi yang satunya, secara silih berganti.
"Terimakasih sayang.Kau telah memberikan ku 2 putra yang sangat mirip denganku.Aku semakin mencintaimu sayang.I Love you Mairah." Abay melemparkan Kecupan Demi kecupan Keseluruh muka istrinya.
Delia berdebar,Rasa cintanya semakin bertambah.Apalagi ada kehadiran dua malaikat tampan." Aku juga mencintai kalian." Ucap Delia,Sembari mengecup pipi suaminya dan kedua putranya.
"Sudah dong romantisnya.Aku ada di sini." Celetuk Meta.Abay dan Delia tersenyum manis.
"siapa namanya Kak?" Tanya Meta, Sambil mencium kedua pipi Keponakan barunya.
"Muhamammad Dalfa Chandragunah dan Muhammad Dalfi Chandragunah." Ucap Abay. Delia terpelongo, dari mana suaminya mendapatkan nama sebagus ini. Selama kehamilan Meraka tak pernah membahas nama Anak mereka kelak.
"Dafa dan Dalfi.Nama yang Bagus." Ucap Meta.
__ADS_1
"Terimakasih Mas." Abay Dan Delia sama-sama berpelukan, Atas kebahagiaan yang menghampiri mereka berdua.
Bagaimana?apa masih ada yang mau lanjut ke part Bonusnya?😍