Suamiku CEO Kejam

Suamiku CEO Kejam
Ini hakmu dan ini kewajibanmu!


__ADS_3

"Aku tahu.Ternyata Sekenario Tuhan itu jauhh di luar ekspetasi ku.Aku pikir kau akan membunuh kami.Aku tahu, ini sebuah kesalah pahaman. Tapi aku belum bisa memafkanmu.Beri aku waktu,Salah kau sendiri, ketika aku mulai mencintaimu dengan tulus,kau tega memberikan goresan di hatiku. Goresan itu belum sepenuhnya hilang.Dan mungkin itu akan membekas."


"Tidak.Aku tak akan memberikan waktu." Potong Abay, "Aku tak kan memberikan waktu. " Pertegasnya lagi. Delia pun terdiam di buatnya.


"Mas.Kau EGOIS! " Ucapnya dengan menatap kecewa.


"Terserah. Egois demi hubungan kita. Bukankah itu lebih baik? " Ucapnya lagi, sambil memeluk pinggang ramping milik Delia. "Kau, AKU MEMBENCIMU AKBAR CHANDRAGUNAH. " Saat Delia mengucapkan kalimat yang menyakitkan. Saat di dengar oleh siapapun.Tapi tak berlaku bagi Akbar. Ia malah tergoda melihat bibir mungil istrinya yang sudah ia rindukan selama ini.


Cupp


Kecupan hangat itu hadir beberapa kali di bibir mungil milik Delia. Delia semakin kesal, kenapa suaminya berani sekali berlaku seperti ini kepadanya. Kedua tangan Abay tak tinggal diam, ia menekuk leher istrinya untuk memperdalam Setiap pemaduan saliva mereka.Tangannya bergeliya menari nari di area tubuh Delia. Delia menggeliat saat merasakan serangan hangat yang di berikan suaminya.


Hatinya menolak,namun tidak dengan tubuhnya. Tubuhnya seakan menerima setiap sentuhan yang ia rindukan. Keduanya hanyut dalam permainan panas yang telah lama mereka tidak lakukan lagi. Delia tak tinggal diam, nalurinya mendukung untuk melakukan permainan ini semakin jauh. Abay yang menyadari ke agresifan istrinya tersenyum kemenangan.Seakan mendapatkan lampu hijau. Abay menyatuhkan tubuhnya kedalam tubuh hangat milik Delia.


"Aku merindukanmu.Sayang. " Bisik Abay di telinga Delia saat merasakan miliknya di remas oleh tubuh Delia.Delia semakin menggila saat mendengar sura berat suaminya. Delia hanya menggit bibir bawahnya, saat merasakan nikmat yang sudah sampai di ubun-ubun.


"Nampaknya,kau merindukanku. Keluarkan sayang " Ucap Abay, Sambil memperdalam permainanya. "Aku mem-bencimu Akbar Chan-dragunah. " Dengan suara yang terlatih-latih, ia masih sempat memaki Suaminya.


"Sutt.. Jangan katakan itu, Kau tetap miliku, miliku, selalu dan selamanya." Ucapnya Sambil memberikan banyak tanda di leher Delia. "Emmm... " Rilih Delia saat ia merasakan puncaknya.

__ADS_1


"Besok kita pulang ke Indonesia.Bersiaplah. Aku tak butuh jawabanmu." Ucap Abay langsung ke intinya. "Tak ada penolakan. " Tambahnya.


"Kau memang sangat kejam. Bahkan di saat aku belum memafkan mu, kau sudah berani melakukan ini padaku. " Delia mendorong tubuh Abay, agar lepas dari tubuhnya. Tapi itu tak berlaku sama sekali. Abay menambah tempo mainya. Delia yang tadinya meronta sekarang mengerang dengan hebat. Abay tersenyum kemenangan.


"Beribu cara sayang. Kau pasti akan luluh padaku. Kau miliku. Hanya aku. Aku tak kan melepaskan kalian." batinya, sambil tersenyum bangga.


"Aku mencintaimu Honey. " Bisik Abay di telinga Delia, Sedikit mengigit daun telinga Delia, karena ia sudah mencapai puncaknya. Delia bergetar saat menerima cairan hangat di dalam tubuhnya. Sudah lama ia tak merasakan sensasi ini lagi. Bisa terbilang kalau Delia sangat merindukan sentuhan suaminya.


"Bagaimana? Apakah masih mau? " tanyanya, sambil memainkan kedua gunung istrinya yang nampak membesar ketika sedang hamil. "Hentikan. Ini sungguh menjijikan. " Delia menepis tubuh Abay agar menjauhinya.


"Heii! Aku tak butuh jawabanmu.Yang penting besok kita pulang. Dan jangan bahas lagi masalah ini. Kita akan pulang bersama-sama bersama calon anak kita. " Abay mengelus perut Delia yang sedikit menggebung.Delia semakin risih, ia masih cemas jika suaminya akan membunuhnya.


"Heii! Kau menyalahkanku? " Delia tak terima, jika dirinya di salahkan dalam masalah ini. "Sayang.Jangan gas pol. Suutt... Kau memang ikut adil dalam masalah ini. Kita sama-sama salah. Jadi ayo kita saling intropeksi diri kita. " Perjelas Abay dengan terlatih-latih.


"Iya. Tapi aku belum bisa memafkanmu " Ucapnya, sambil menutup tubuh polosnya dengan selimut. Abay kembali menarik selimut istrinya.Delia pasrah, toh percuma dia mencoba menahan selimut itu, pasti suaminya akan menariknya lagi secara paksa. "Itu hak mu. Mau memafkan atau tidak itu hak mu. Kewajibanmu adalah mematuhi ucapan suamimu. Mengikuti kemana pun suamimu pergi. Itu baru istri yang sholeha. " Ucapnya sambil meremas kedua gunung kembar istrinya.


"Heiiiiiii... Akbar Chandragunah aku benar-benar membencimu. Aku tak kan memafkan mu. " teriak Delia, saat merasakan tubuh suaminya berhasil memasukinya lagi.


"Itu hakmu. Tapi ini kewajibanmu " Ucap Abay sambil menunjuk ke arah penyatuan mereka berdua. Seakan menunjukan bahwa yang mereka lakukan itu adalah sebuah kewajiban.

__ADS_1


******


Palembang


Sudah dua bulan ini Meta tak lagi mengabari ibunya. Meta semakin merindukan Papa Askah dan juga kakaknya Delia.Hari-harinya disini tetap seperti biasanya. Perhatianya untuk Dokter Toni tak ia sembunyikan lagi. Ia dengan terang terangan memberikan perhatian lebih kepada Dokter Toni. Dokter Toni tampak, tak mempersalahkanya, ia seperti meruntuhkan benteng yang ia bangun sendiri selama ini. Ia menyadari, jika dirinya merasa nyaman saat bersama Meta. Tapi ia belum bisa menyimpulkan sendiri,perasaan apa ini? Apakah cinta? Apa hanya rasa nyaman semata?.


Sudah dua bulan ini Meta menyusun skripsi dari hasil magangnya selama Bekerja di rumah sakit ini. Banyak ilmu yang bisa di dapatkan selama maggang di Rumah sakit ini. Bahkan ia jatuh cinta untuk pertama kalinya pada seorang pria, yang tak lain adalah Dokter Toni.Sudah saatnya ia berhenti maggang hari ini juga. Meta akan memutuskan Bahwa dirinya akan kembali lagi ke kota Metropolitan, tempat kelahiranya. Bagaimana pun ia ingin bertemu dengan Delia Kakaknya, juga ia ingin bertemu dengan Papa Askah. Tak hanya itu.Meta ingin melupakan Dokter Toni saat ia kembali lagi di jakarta kelak.


"Dokter Toni. " Panggil Meta, Dokter Toni pun menghentikan langkah kakinya. Ia menoleh ke arah suara yang memanggilnya. "Doker Toni. Aku membutuhkan tanda tanganmu di skripsiku. " Ucapnya sambil menyerahkan kertas dan juga pulpen. "Baiklah. " Ucap Toni datar. Sambil memberikan tanda tangan di lembar kertas yang tersedia.


"Dok.Terimakasih atas bimbinganmu selama ini. Dari mu aku mengerti banyak hal dalam ilmu maupun masalah hati. Dan yaa. Aku akan pulang ke kota kelahiranku, selamat tinggal Dok. Semoga engkau selalu berbahagia. " Ucapnya sambil mengambil Kertas dari tangan Dokter Toni. Toni hanya melongo sambil menatap muka Meta yang mulai memerah. "Ohh yaa, jangan mencintai Delia lagi. Dia kakaku, dia wanita yang telah memiliki Suami. Jangan mabukan lagi Dok. Kau sungguh berdosa. Bertaubatlah, aku hanya bisa mendoakanmu. " Ucap Meta, berhasil membuat Dokter Toni tercengang. Tapi ia hanya terdiam. Meta pun meninggalkan Toni.


Tak lama, Meta kembali melangkahkan Kakinya menuju Dokter Toni yang masih diam mematung di tempat yang tadi. "Dok. Bolehkah aku memelukmu?" Pintanya, penuh harapan, sekuat tenaga ia tahan agar tak menangis saat ini juga.


Toni hanya terdiam,ia tak menolak tapi juga tak mengiyakan. Meta seakan memiliki keberanian banyak.Perlahan tanganya melingkar di pinggang Dokter Toni. Ia memeluk Dokter Toni dalam waktu yang lama, tapi Toni tak membalas pelukan Meta. Ia hanya diam seperti patung.Beruntung suasana Rumah sakit masih sepi. "Dok.Selamat tinggal. Terimakasih pelukannya. Aku akan kembali lagi, ketika acara Wisudahku. " pamitnya, lama Meta menunggu jawaban, tapi yang ia tunggu tak ada balasan. Alhasil Meta meninggalkan Toni yang masih diam mematung dengan seribu bahasa. Meta mangis di seperpanjang jalanan.


"ohhh.. Hatiku sakit.Apakah ini rasanya cinta? Kenapa sangat menyakitkan.Rasanya aku tak ingin jatuh cinta lagi. Kenapa hatiku sesak sekali.Pelukanku? Ohh dia tak membalas pelukanku.Miris sekali aku.huaaaa waaaa... " Batin Meta sambil memegang dadanya yang terasa Sesak.Air Matanya terus turun, membasahi pipi cantiknya.Hari ini begitu berat untuknya.


Jangan lupa jejak kalian๐Ÿ˜—๐Ÿ˜—๐Ÿ˜—๐Ÿ˜—๐Ÿ˜—๐Ÿ˜—

__ADS_1


__ADS_2