
"Cepat Asingkan Dirinya. " titah Abay sembari menunjuk ke arah Retno.
"Dasar baji-ngan, lepaskan aku Bang-sad, ku pastikan istrimu akan menjadi miliku! Bukan milikmu lelaki penge-cut. " teriak Retno ketika para anggota menyeret dirinya secara kasar.
"Marco.Ikut gue, ada hal penting. "Abay memasuki ruang ketua mafia yang sudah lama tidak ia duduki setelah membubarkan Anggota Mafianya.
"Apa katakanlah. Aku tak memiliki waktu untuk mendengarkan bos kejam seperti dirimu itu. Because time is money. "Ucap Marco, dirinya memang memiliki bisnis selain bekerja dengan bos ferguso ini.
"Dengarkan atau gue tarik semua fasilitas apaterman. " Ancaman tuan ferguso memang selalu tepat sasaran.
"Aiss.. Cepatlah Tuan Ferguso... Eee maksud gue br-o. " Ucapnya sambil menahan tawa. Dirinya tahu persis watak kejam bosnya itu kalau lagi gila dan banyak masalah seperti ini pasti akan mudah mengamuk,dari itu Marco banyak nurut sedikit berucap sopan
Abay menatap tajam ke mimik muka Marco. Yang di balas celingukan Dari Marco. "Bro, Delia hamil. "
"Apa? Ooo jadi lu mau pamer gitu,sebentar lagi lu mau jadi ayah gitu, mau nyindir gue gitu, yang zombloo ini gitu.. ? Nyesel gue dengerin lu. "
"Ya. "
"Ya ampunnnn Boss Ferguso. Jangan habiskan waktuku hanya dengan kepameran dirimu itu. Lihatlah diriku yang sendirian zombloo ganteng gaa ketulung ini. " Marco bertikai seolah dirinyalah yang paling tampan.
"Tutup mulut yang tak berguna itu.Gue mau lu cari informasi di cctv kejadian kemarin. " titah Abay masih dengan muka kusutnya.
"Oh! CCTV itu sedang kami perbaiki, tanpa menunggu perintah dari lu. Karna lu punya Asisten cerdas,jadi sudah gue urus." Timpal Marco sembari duduk di atas sofa sedikit menyuruput air teh.
"Bagus. Kirimkan hasilnya ke email gue sekarang. " Ucap Abay santai kepada Marco.
"Lu ini emng gila yaa boss. Mana ada CCTV rusak bisa di perbaiki secepat kilat petir. Yang ada lu kesambar petir baru tahu rasa. "
"Aiss.. Kapan CCTV itu akan benar. " tanya Abay.
"Sekitar 2 bulan. Tapi viie usahakan 1 bulan lamanya." Ucap Marco cuek bebek. Tanpa menyadari bahwa tubuh bosnya itu sudah berasap karna api yang mulai membara.
Prangg....
Abay melempar gelas kesembarang arah, berhasil membuat nyali Marco menciut. Saat seperti inilah yang paling di takuti Marco.
"Gue butuh sekarang. Jangan membuat lolucon. " Ucap Abay dengan emosi yang tak terkendali.
"Eh-em, sabarlah boss, CCTV itu rusaknya sangat parah. Kita tak tahu siapa saja dalang dari penculikan istri bos. Semua cctv itu sudah di hancurkan sebelum penculikan istri bos di lakukan. Viie membutuhkan waktu selama 1 bulan lamanya. Kumohon bos mengertilah. " kali ini Marco berucap senduh. Dia takut kalau bosnya ini menghacurkan seisi markas.
"Hubungi gue kalau telah selesai. " Ucap Abay sembari berjalan meninggalkan Marco seorang diri.
"Huhhh... " Marco menghembuskan Nafas secara kasar. Bagaimana tidak dirinya sudah menjelaskan dengan talaten penuh hati-hati hanya di tanggapi seperti itu oleh bos Ferguso ini.
__ADS_1
*******
Klinik
Delia mengerjapkan Matanya. Dari tadi dirinya duduk sambil memakan buah mangga muda yang di iris oleh suster. Delia juga merasa aneh kenapa dirinya ada di kelinik? Kemana suaminya? Jika dia sakit kenapa mama Kiran ? Papa Hendra ? Kakek Adi? tidak menemani dirinya yang sedang masuk kelinik ini.
Setelah merenungi lagi tragedi yang terjadi tadi malam. Barulah dirinya menyadari kenapa dirinya bisa ada di kelinik ini. Anehnya lagi Dokter dan suster tak menjawab kenapa dirinya mengeluarkan darah yang banyak ketika suaminya berlaku kasar semalam.
"Hikss.. Mas kamu dimana hikss. Maafkan aku. " Delia menangis saat sendirian di ruangan kelinik yang membosankan.
Delia merasa ada hal yang aneh pada dirinya. Tapi apa? Seperti pagi tadi. Delia menangis seperti anak kecil hanya untuk memakan buah mangga muda. Alhasil salah satu suster membelikan mangga muda untuk Delia. Dirinya pun merasa aneh, ada apa dengan dirinya? Kenapa semua orang tak memberitahu dirinya kenapa dia bisa di rawat seperti ini?.
Ceklekk...
Pintu terbuka, menampilkan sosok Suami tercintanya. Ada perasaan bahagia yang Delia rasakan saat suaminya datang menemui dirinya. Ingin sekali Delia memeluk tubuh suaminya itu, bergelayut manja di pangkuan suaminya, mencubit hidung suaminya, entahlah keinginan Delia terlalu besar untuk saat ini.
"Mass... " Ucap Delia sambil merentangkan kedua tanganya untuk di peluk. Namun Abay tak kunjung memeluk dirinya. Rasa sakit itu menjalar kerelung hatinya. Barulah di ingat oleh dirinya bahwa suaminya itu masih marah padanya.
"Hikss... Hiksss.. Huaaaa... Waaa... Hikss...." Delia tak dapat menahan sakit dihatinya. Dirinya tak bisa menahan tangisnya ini. Bahkan dirinya tak bisa mengontrol emosinya saat ini.
Abay menatap aneh kearah istrinya yang sedang menangis seperti anak kecil. Hatinya juga merasakan sakit saat tak memenuhi keinginan istrinya tadi untuk di peluk. Namun, rasa sakit hatinya soal tragedi malam tadi segera ia tepis bagaiamana pun dia sudah berjanji untuk membahahiakn istrinya ini.
Abay mendekati Delia yang sedang menangis histeris ini. Ia peluk istrinya itu. Ia dekap seerat mungkin.Ada rasa bersalah dihatinya saat ini. Abay sengaja tidak memberi tahu kepada Delia istrinya bahwa istrinya sedang mengandung. Ada alasan tertentu baginya untuk menutupi kehamilan istrinya ini.
"Mas, maafin Delia.Delia bisa jelasin. " Ucap Delia sambil tersenyum Manis. Bahkan Delia tak merasa bersalah. Mungkin hormon ibu hamil.
"Sutt.. Jangan bahas itu lagi. Mas sudah maafin kamu. " Ucap Abay sambil mengecup seluruh muka Delia. Mulai dari mata, hidung, pipi kiri dan kanan, terakhir bibir ranum istrinya.
Lama dua insan itu memadu kehangatan. Tak ada rasa nafsu yang mereka rasakan saat ini. Rasa yang tak dapat di jelaskan bagi mereka berdua. Hanya merekalah yang tahu.
"Mas, kenapa Delia bisa masuk rumah sakit? " Tanya Delia bingung. Memang dari tadi dia ingin sekali menanyakan ini pada suaminya. Para dokter dan suster tak memberi tahu dirinya sama sekali ketika ditanya.
"Emm.. Itu.. ee ka-mu kele-lahan, ya kamu kelelahan sayang. " Ucap Abay terbata-bata.
Delia mengkerutkan kedua alisnya. Bagi dirinya ada yang aneh dengan jawaban suaminya ini. Tapi jika di pikir-pikir oleh dirinya sendiri, memang akhir-akhir ini Delia merasakan tubuhnya mudah sekali kelelahan.
"Emmm itu ya mas. "
"Maafkan mas.Sayang, mas belum bisa berkata jujur padamu jika kau sedang mengandung. Mas tak mau jika anak itu adalah anak Retno, mas takut kau memilih lelaki be-jad itu. " Batin Abay.
"Mas." Delia memanggil Suaminya yang sedang melamun ini.Namun tak ada respon dari suaminya ini. "
"Mas. "
__ADS_1
"Eee.. Iya kenapa? "
"Mas kenapa? Mas masih marah hikss.. Hikss... " Tanya Delia, dirinya pun menangis lagi. Abay yang ikut pusing dalam perubahan istrinya ini.
"Sudah jangan menangis.siang kelak kita pulang, oh ya jangan kasih tahu mama kalau kamu masuk Kelinik. Mas takut mama sakit begitu juga dengan yang lainya. " perjelas Abay berdusta. Dirinya saat ini memang lagi berdusta untuk menutupi kehamilan istrinya.
"Emm baiklah mas, tapi Aku ingin dirimu mas. " Ucap Delia dengan muka yang memerah, namun dirinya sangat menginginkanya.
"Kamu ingin apa sayang ? " tanya ulang Abay. Karena setahu dirinya. Istrinya ini tak pernah menggoda dirinya. Tapi saat ini Istrinya sendiri yang meminta kepadanya.
"Ak-u mau diri mas. " Ucapnya lagi. Sambil menyembunyikan mukanya di dada bidang milik suaminya.
"Kenapa kamu jadi mesum hemm, kita lakukan waktu di rumah ya. Jangan di sini. " Bisik Abay di daun telinga Delia kecupan di pucuk kepala istrinya selalu ia lemparkan
"Tidak, aku mau sekarang. "
"Sayang. "
"Mas, aku mau sekarang. "
"Sayang. "
"Mas, "
TBC....
******
Hai haii see you🤗😚
Happy reading🤗❤
Like
Like
Like
Koment
Koment
Koment
__ADS_1
Terimakasih gaiss😚