
Mairah Andelia POV
Sudah 2 bulan berlalu, usia kandunganku sudah memasuki 2 bulan, Perutku sedikit mengembung dari ibu hamil biasanya. Kata Dokter yang menanganiku,itu hal biasa bagi ibu Hamil yang memiliki twins baby.
Tak ada yang berbeda di kehidupanku di Negara orang ini. Semua terasa Asing,tak ada yang aku ketehaui kecuali Nona Ren dan stevia, mereka tetangga Jey dan Joy di sini.Sempat terpikir olehku, kenapa? Aku seperti orang pengangguran dan seperti menumpang hidup dengan orang yang tak aku kenal sana sekali?, terbesit di pikiranku untuk mulai bekerja, tapi dimana? Jey dan Joy saja masih sekolah!.
Setiap hariku di isi dengan candaan Saudara kembar, Joy dan Jey .Mereka seperti pahlawan untuku dan juga kedua calon anaku ini. Ketika aku menginginkan sesuatu pasti mereka penuhi, itupun tanpa mengeluh, mereka sangat tulus membantuhku. Tapi kenapa? Aku seperti memiliki ikatan batin kepada kedua kembaran ini?, emm mungkin itu karena aku telah nyaman pada mereka, batin ku berkata seperti itu.
Setiap di persetiga malam, aku selalu memohon Ampun pada yang kuasa, supaya aku bisa menemukan titik terang masalah ini. "Mas Abay. Apa karna kau menemukanku di hotel bersama Retno? Kau tega menuduh anak ini, bukan anakmu. Jika itu benar alasanya! Aku sungguu kecewa padamu Mas. Kenapa kau tak mempercayai aku! ,,, "
"Apa Karena cintamu padaku masih sama dengan beberapa tahun yang lalu? Untuk balas dendam? Akkhhh... " Gumam Delia, di saat malam hari. Sedikit berteriak.
"Kakak Maiy. " Panggil Joy dan Jey kompak di depan pintu. "Kakak Maiy kenapa? Kakak baik-baik saja kan? kenapa kakak berteriak? " Sambung Jey panik bukan main, saat mendengar Delia berteriak.
Delia tersenyum manis, "Maaf. Kakak membuat kalian terkejut.Tidak apa-apa, kakak melihat cicak tadi. " Ucapku bohong pada mereka.Aku tak ingin mereka mengetahui kalau aku merindukan suamiku.
"huhhhh..syukurlah.Kalau begitu aku tinggal dulu kak Maiy,aku harus menyelesaikan tugasku. " Pamit Jey pada Delia dan juga Joy. "Pergilah, tak usah pakai pamit segala, " Usir Joy. Lagi-lagi Delia tersenyum, sedikit membuatnya melupakan Suaminya. "Dasar pria menyebalkan! " Umpat Jey Kesal,Sedikit menabrak Joy ketika berjalan, Joy yang akan mendapatkan serangan segera menundukan diri, alhasil Jey lah yang terjatuh.
__ADS_1
"Hahahaha... Kalian ini ada saja. " tawa Delia. Saat melihat dua kakak beradik itu saling menyakiti.
"Auuu sakit.Joy. akan ku balas kau kelak. Dan kak Maiy, aku kesal padamu, " Ucapnya Merajuk, langsung meninggalkan Kamar Delia. Joy dan Delia hanya tersenyum sembari memutar bola mata jengah.
"Kak Maiy. Maafkan kakak ku, dia memang seperti orang sinting, gila dan miring SGM." Ucap Joy. "Sudah-sudah,Jangan di bahas lagi. " Ucapku, takut Jey semakin emosi, karena aku tahu Jey menguping di daun pintu.
"Emmm baiklah, lupakan saja manusia setengah jin itu kak. Sekarang katakan padaku, kenapa kakak berteriak? Aku tahu itu bukan karena Cicak. " Ucap Joy terus terang.
Aku tercengang. Ternyata Joy tidak bisa di bohongi. Anak ini memang sangat cerdas, aku saja gelagapan menghadapinya. "Eeee.. Ituu. " Ucapku ragu dan bingung harus bagaimana, percuma juga aku berbohong padanya, pasti dia tak percaya. Emang dasar anak pintar ya memang pintar.
"Apa karena suami kakak? Dia baik-baik saja kak, Bahkan dia sangat merindukan kakak. " Aku mebulatkan mata saat mendengarnya bercerita. Aku yang belum menanyakannya saja sudah di beri tahu olehnya. "Kakak. Menurutku kalian berdua itu salah paham. kakak pun juga salah dalam masalah ini." Ucapnya to the point, aku semakin gugup di buatnya. Memang benar adanya ucapan Joy itu.
"Da-ri, mana kau tahu?.Joy." tanyaku terbata-bata.
"Aku tahu segalanya kak. Pilihan ada di kakak. Untuk tetap egois? Atau mencoba saling memahami, kalau seperti ini terus, aku jamin anak kakak kelak tidak memiliki Ayah. Menurut berita yang aku temukan.CEO Akbar Chandragunah beberapa kali mencoba membunuh dirinya sendiri. Karena hilangnya istri dan calon anak mereka. " Ucapan Joy membuatku ingin pingsan saat ini juga. Kenapa Bocah seperti dia sudah sangat pakam dalam urusan dewasa, aku pun kalah denganya.
Padahal joy berbohong tentang CEO Akbar Chandragunah untuk membunuh dirinya sendiri. Itu hanya siasat untuk menakuti kakaknyaš
__ADS_1
"Ta-pi. Joy. "
"Pilihan ada di tangan kakak. Kalau kakak tetap egois pada anak kakak kelak. Itu semakin rumit kak. Bukanya aku tak mendukung kakak. Tapi aku tak ingin kalau anak kakak kelak tak memiliki Ayah. Kalau kakak ingin bertemu dengan suami Kakak, aku akan membantu kakak. Ini bukan seperti di novel-nevel kak! Dimana wanita nya kabur saat sedang hamil muda, kemudian melahirkan anaknya. Ketika anaknya besar bertanya dimana ayahnya, terus ibu nya berkata ayahnya sedang kerja di luar kota. Terus saja berbohong. Apa kakak mau seperti itu? Sungguh kakak sangat berdosa memisahkan Anak dan Ayah. " Ucap Anak Cerdik ini, yang membuatku mecerna setiap bait perkataanya.
aku intip Keberadaan Jey di daun pintu. Ternyata Jey sudah menghilang dari daun pintu itu. "Joy. Kakak tak tahu harus bagaimana? " Ucapku singkat, pikiranku terus menerawang jauh entah kemana.
"Pikirkanlah kak. Waktumu tak banyak. Jangan terlalu egois! Pikirkan anak kakak dan diri kakak sendiri. Bukanya dalam hubungan suami istri itu sering mengalami cek cok, Seperti Momy dan Papy saja sering bertengkar. Kata Momy kepadaku, jangan pernah menghindari masalah! Semakin di hindari, masalah itu akan terus mengajar kita. Jadi kita harus selesaikan dengan otak yang dingin, dan hilangkan egois kita agar tidak di boomerangi oleh masalah. " Ucapnya Lagi, membuat jantungku ingin copot rasanya. Aku di ceramahi oleh Bocah yang sudah memiliki otak Dewasa.
Aku terus berpikir dan mencerna ucapanya. Sedangkan Anak pintar itu terus mengoceh, menceramahi diriku seperti murid dan guru. Memang aneh.
"Momy pernah bercerita padaku, tapi cerita itu sangat panjang. Aku takut jadi pendongeng untuk kakak. Nyatanya kakak tak merespon ucapanku, kenapa kakak sama sekali dengan Kak Jey yang SGM itu. Huhhh... Kenapa aku di kelilingi dengan orang Seperti ini. Blaaa blaaaa " sepertinya Anak pintar ini, memang memiliki bakat speech yang luar biasa.
"Joy-" ucapku, yang terpotong olehnya.
"Kakak. Tak usah ucapkan terimakasih kepadaku, sekarang kakak tidur. Dan jangan lupa pikirkan yang aku ucapkan tadi. Jangan egois kak! Pikirkan twins baby itu. Aku tak ingin keluarga kakak berpecah belah, hanya karena angin. Ayo kak berpikir pakai logika. " Ucapnya Seperti orang stres, tapi dia benar, tapi tetap saja dia menyebalkan, benar kata Jey, ternyata Joy begitu menyebalkan.
Hayuuukk gaiss tambahkan dukungan kalian buat authoršsebentar lagi mereka bertemuš
__ADS_1