
Malam semakin larut, Aku yang lebih memilih tidur bersama kedua anakku dikamar mereka tak juga bisa memejamkan mata. Aku tengah menyusun rencana masak-masak untuk rencanaku esok hari.
Ya esok hari aku akan pergi dari rumah meninggalkan si koret inin dirumah sendirian. Biar dia tau rasa, Kali ini aku akan memberikan pelajaran yang sangat berarti untuknya. Beruntung uang tabunganku sudah terkumpul lumayan banyak. Aku akan mengunjungi Ibu sekaligus menginap benerapa malam disana Atau bahkan dalam waktu yang agak lama, dan hanya akan pulang bila dijemput suamiku itu.
Baru saja memasuki alam minmpi, Tiba-tiba terbangun lagi karna mendengat azan subuh yang menggema. Kupaksakan membuka mataku yang masih sepat, Lalu membangunkan kedua anakku untuk melakukan sholat subuh berjamaah dirumah. Hari ini tak akan kubuatkan sarapan juga bekal makan siang untuk Suamiku itu, Hatiku masih sakit, kecewa dan Marah dengan kata-katanya itu.
"Mah sarapan sama bekalku mana? Aku udah mau berangkat loh ini, kok belum disiapkan?" Tanyanya sambil berteriak di dapur.
Aku pura-pura saja tak mendengar, Walau sebenarnya hatiku sangat ingin menjawab teriakannya itu.
'Enak aja maen minta-minta disediakan. ngasih makan aja enggak..!' Batinku.
******
Tok tok tok..
"Mah, Kamu pura-pura gak denger ya?"
"Dasar istri matre, cuma gara-gara uang aja ngambek. Tuh uangnya aku taro dimeja, sekalian buat belanja 3hari" Ucapnya. Tak lama dari itu terdengar suara pintu ditutup dengan kasar dan suara motor yang melaju dan perlahan hilang.
__ADS_1
'Ah... pasti sudah pergi sikoret itu'
Aku tetap tak perduli dan kembali sibuk mempersiapkan baju beserta buku pelajaran yang akan kami bawa menginap.
"Mah kita mau kemana?" Tanya Arya anak sulungku.
"Kita mau kerumah nenek, Kalian kangen kan sama nenek. Udah lama kita gak berkunjung. Nenekpun pasti kangen sama kita" Terangku mencoba menutupin kebohongan.
"Mamah mau pisah ya sama Papah, Arya mau ikut sama mama aja ya. Gak mau ikut sama Papah" Celetuknya. Ya Tuhan sepintar-pintarnya kusembunyikan kebenaran anakku ini cepat sekali menerka keadaan. Aku harus jujur dengannya kali ini.
"Gak kol bang, kita hanya akan memberikan pelajaran aja buat Papah, Nanti kita pulang lagi kesini jika palah jemput" Aku mencoba memberikan penjelasan sesederhana mungkin.
Tepat jam 7 pagi aku mulai keluar kamar untuk mandi dan bersiap-siap. Saat keluar kamar kulihat ada 2 lembar uang pecahan 100 ribu dimeja ruang Tamu.
'Uang segitu hanya cukup membayar hutang saja, Malah dibilang buat belanja 3 hari dasar Manusia Koret...!!!'
Tak kuambil uang yang tergeletak disana. Aku tak membutuhkan uang itu karna uangkupun jauh lebih banyak.
Setelah semuanya Rapi dan siap aku segera memesan Taksi online untuk menuju rumah orangtuaku yang berada di daerah bogor, Jarak yang lumayan jauh terlebih harus berganti angkot jika harus menempuhnya dengan angkutan kota. Aku tak tega melihat anakku. terlebih barang yang kami bawapun lumayan banyak.
__ADS_1
Beruntung kemarin aku telah meminta keuntungan hasil penjualanku dengan mba Mia yang selama ini aku kumpulkan terkumpul lumayan banyak cukuplah untuk ongkos dan biaya hidul disana nanti selama beberapab hari, Sementara itu aku akan tetap menjalankan bisnis onlineku disana dengan arahan dari Mba Mia. Ah beruntungnya aku dipertemukan dengan orang sebaik dirinya.
*****
Sepanjang perjalanan terlihat kedua anakku sangat riang, Ya aku tau mereka sangatlah jarang keluar rumah terlebih seperti sekarang ini. kami bepergian dengan menggunakan taxi online yang terasa seperti mobil sendiri.
"Mah, kita kaya orang kaya yang diTV itu ya. Naik Mobil gini jalan-jalan Ade seneng deh mah, Makasih ya Mah udah wujudin keinginan Ade" Celotehnya Polos. Memang sudah sering dia meminta menaiki Mobil sepertin ini. Bahkan ketika tetangga rumah ada yang memiliki Mobil pribadi. Pasti ia Pandangi terus mobil Itu. Namun ia tak pernah berani mengutarakan keinginannya menaiki Mobil itu.
'Terima kasih Ya Allah telah memberikan kelancaran Rejeki untukku, Sehingga aku dapat memberikan kebahagian kepada Anak-Anakku. Sunyum mereka dan Kebahagian mereka adalah segalany untukku. juga sebagau sumber kekuatan terbesarku' Syukurku dalam hati.
Ah... Aku pun harus segera memikirkan Alasan yang masuk akal kepada kedua orangtuaku, Aku tak ingin mengungkap kejelekan Mas Heru didepan kedua orangtuaku. Bagaimanapun Aibnya adalah Aibku juga.
Akupun mewanti-wanti kepada kedua anakku untuk tidak keceplosab mencerintakan hal yang sebenarnya kepada kakek dan neneknya itu.
Aku sadar kedua orangtuaku sudah sangat renta, Aku tak ingin menambah beban fikiran mereka lagi dengan masalahku, Dan juga aku tak ingin ia membencia Ayah dari kedua anak-anakku. Biarlah luka ini kupendam sendiri. Dan menyusun Rencana sendiri untuk masa depan kedua Anakku, Jika saja nanti Mas Heru tak juga menjemput kami.
Intinya Aku sudah mempersiapkan untuk segala kemungkinan yang terjadi kedepannya. 'Semoga Allah memudahkan jalanku' Bisik hati ini.
Next....
__ADS_1