SUAMIKU PELIT

SUAMIKU PELIT
Bersimpuh. (38)


__ADS_3

"ish ... lama banget sih kamu terlalu bertele-tele. Tinggal bilang aja kamu menerima aku kembali kan! tenang aja aku masih mau terima kamu kok," ucapnya dengan penuh percaya diri.


"Maaf Mas, kamu salah .....!" Ucap Rena yang langsung mengubah senyum kemenangan dari wajah Heru.


.


.


.


"Alah gak usah munafik lah, aku tau kamu luar dalam. Gak mungkin kamu bisa hidup tanpa ku, lebih tepatnya lagi tanpa uangku. Kamu kan wanita yang hanya mengandalkan suami alias gak bisa apa-apa!" Heru nampak semakin menyudutkan Rena.


Rena yang mendengar hinaan demi hinaan dari mulut Heru hanya tersenyum tipis penuh arti.


"Mungkin dulu aku bodoh! menurut dan mengikuti apapun perintahmu. Sekalipun itu menjatuhkan harga diriku. Mungkin Aku dulu begitu lugu mempercayakan kesetian 100% tanpa ragu. Tapi aku bukan lagi Rena yang dulu, yang bertekuk lutut mencintamu dan selalu menuruti perintahmu. Akan aku buktikan bahwa tanpa uangmu pun aku masih bisa bertahan dengan anak-anak. Bahkan memberikan mereka makanan dan pakaian yang lebih layak dari yang kamu berikan," Rena hendak membalas keangkuhan Heru yang sangat memuakan dirinya.


"Cih .... Belagu banget kamu, palingan juga kerja jadi pembantu," ejek Heru.


"Heru ... lebih baik kamu diam, ucapanmu itu dari tadi malah semakin memperkeruh suasana. Fikirkan anak-anak kalian jika kalian pisah!" bentak Bapak pada Heru.


"Ren ... kamu gak usah dengerin ucapan Heru ya. Itu anak emang gengsinya tinggi, kamu mau ya baikan sama Heru. Heru sudah tobat kok dia gak main cewek lagi. Iya kan Heru?!" Helen memelototi anaknya itu. Heru yang dipelototi tak berani mengelak ucapan Ibunya itu. Dengan ragu ia mengangguk mengiyakan.


"Ibu kok yakin bener kalo Mas Heru gak main cewek lagi. Memang Ibu selalu memantau Mas Heru?!" tanya Rena kepada Helen, yang malah membuat Helen menjadi kikuk. Ia menelan salivanya.


"I-Iya lah Ibu yakin, kan Heru anak Ibu jadi ibu sangat hafal dan yakin kalo sekarang dia sudah berubah. Heru sendiri sudah janji sama Ibu, gak mungkin dia berani bohongin Ibunya. Iya kan Ru?!" tanya Ibu lagi memastikan bahwa dirinya tak salah menilai.

__ADS_1


"Maaf ya Bu, tapi dari bukti yang saya dapat justru membuktikan kebalikannya. Justru Mas Heru makin intens dengan selingkuhannya itu," ucap Rena mematahkan keyakinan Helen.


"Hey ... jangan fitnah kamu ya," Heru nampak tak terima dengan ucapan Rena.


"Maaf Mas aku selalu bicara dengan bukti dan saksi bukan omong kosong belaka." dikeluarkannya beberapa foto yang telah ia cetak ukuran 4R.


Heru, Helen dan Rudi yang melihat sosok yang ada difoto itu nampak kaget tak percaya. Mereka saling tatap satu sama lain, Terlihat Helen sangat marah dan dengan cepat menarik satu kuping Heru.


"Kamu tuh ya bener-bener jadi anak dari dulu kerjaannya malu-maluin orang tua! Bahkan sampai setua ini pun kamu belum berubah juga, Ibu kecewa sama kamu. Bener-bener gak ada otak kamu ya!" Helen nampak sangat marah hingga sampai meneteskan air mata, ia sangat kecewa dengan Heru.


"Ta-Tapi Bu, Heru cuma kasian aja kalo dia pulang sendiri. Heru udah gak ada apa-apa lagi kok Bu," Hilanglah keangkuhan dan kelantangan yang sedari tadi ia tunjukkan.


"Ibu gak percaya lagi sama kamu!" Ucap Helen sambil menyeka air matanya sendiri.


"Maaf Mas, Bu dan Bapak. Rena tidak bisa meneruskan pernikahan ini, kesabaran Rena sudah habis dalam memahami Mas Heru. Maafkan Rena jika membuat Ibu dan Bapak kecewa,"


"Yakin Mas, bahkan sangat yakin!" jawab Rena penuh penekanan.


"Wajar kalo Rena menyerah dengan sikap kamu, Ibu pun menyerah menghadapi sikap kamu Ru. Ibu gak mau kamu tinggal disini lagi, Pergi dari rumah ibu! Fikirkan baik-baik atas kesalahanmu. Jangan kembali jika kamu tidak juga merubah sikapmu!" Hardik Helen yang membuat semua mata memandang terkejut.


"A-Apa Bu, Ibu ngusir Heru. Trus Heru mau tinggal dimana Bu?!" Ucap Heru setengah memelas.


"Terserah tinggal dimanapun kamu mau, Ibu tak perduli lagi," Helen memalingkan wajahnya dari Heru.


"Bu, maafin Heru. Heru janji gak akan macam-macam lagi, Heru janji akan setia!" Ia bersimpuh di pangkuan sang Ibu. Namun, Helen nampak tak mengubah keputusannya.

__ADS_1


"Kamu gak usah minta maaf ke Ibu. Minta maaflah pada Rena, dia yang telah banyak kamu sakiti. Jika Rena bersedia memafkanmu dan menerimamu kembali, maka Ibu juga akan melakukan hal yang sama." Kali ini ia benar-benar ingin memberi pelajaran agar putranya itu dapat lebih bijak dan dewasa dalam bersikap.


"Bu, biarlah Mas Heru tinggal di rumah yang kami tempati sekarang, biar Rena dan Anak-anak tinggal dikontrakan." Meski kesal dan kecewa. Namun, hatinya tak tega melihat Heru yang nampak terpuruk. Bagaimana tidak! selama ini Heru selalu mengandalkan bantuan dari kedua orantuanya itu. Jika Ibu sudah lepas tangan seperti ini. Rena tak bisa membayangkan akan seperti apa Heru nanti.


"Tidak usah, kamu dan anak-anak jangan pernah keluar dari rumah itu, biarlah saat ini waktu yang tepat buat dia belajar menopang hidupnya sendiri tanpa bantuan siapapun!" tandas Ibu, ia tak sedikitpun merasa iba melihat Heru yang sedang mengiba di pangkuannya.


"Ren, Mas minta maaf. Mas akui Mas Khilaf, kamu jangan minta cerai ya! emangnya kamu tega liat Mas kayak gini," rengek Heru meminta Rena mengubah keputusannya.


"Maaf Mas, keputusanku sudah bulat! besok akan aku daftarkan perceraian kita ke kantor pengadilan Agama setempat, biar secepatnya diproses. Dan secepatnya juga kamu bisa bersama yayangmu itu," jawab Rena datar.


"Aku gak mau sama dia, Aku maunya sama Kamu. Aku sama dia cuma seneng-seneng aja gak lebih. Tolong Ren, kasih aku kesempatan!" Pinta Heru. Kali ini ia mendekatkan tubuhnya pada Rena, berusaha memegang tangan Rena. Namun, dengan cepat Rena menepis tangan Heru kasar.


"Aku sudah kasih kamu kesempatan selama seminggu untuk memperbaiki sikapmu. Namun, semua itu kamu sia-siakan, malah semakin menjadi. Oh iya kamu gak usah takut perihal nafkah anak-anak, aku akan berusaha sekuat tenaga mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan mereka,"


"Jangan jauhin aku dari anak-anak Ren, aku sayang mereka," Heru menatap mata Rena dengan sayu, berharap Rena akhirnya kasihan dan luluh. Namun ternyata Rena tak semudah itu diluluhkan.


"Hm ... aneh kamu ya Mas? bukannya selama ini kamu gak peduli sama anak-anak ya, kenapa mendadak jadi peduli gini!?" dipalingkan wajahnya dari tatapan Heru. Ia tak ingin Iba lagi.


"Ren .... Aku mohon .....!" Kini Heru bersujud di kaki Rena memohon maaf, hilanglah keangkuhan dirinya yang sedari tadi ia tunjukkan. Kini harga dirinya dia injak-injak sendiri. Ia tak peduli lagi, ia seperti sudah kehilangan malu, karena ia baru menyadari betapa ia sangat membutuhkan Rena dalam hidupnya. Selama ini Rena lah yang selalu mengerti akan dirinya.


Next...


*Dimaafin gak ya kira-kira sama Rena?


Apa ya yang Heru lakukan untuk mengambil hati Rena kembali?

__ADS_1


Terus simak kelanjutannya ya Readers. Terima kasih yang sudah baca, kasih like, love, vote dan komennya. Semoga kalian semua sehat selalu dan dilimpahkan banyak rejeki di bulan Ramadhan penuh berkah ini. Amiin aamiin aamiin ya Robbal alamin. πŸ’œ


__ADS_2