
"Ini sih bagus, memory internalnya aja gede banget. Paling cocok dah buat maen game," Erik menjelaskan.
"Serius lu ni Hp mahal, jangan sampe entar gue malah tekor nie!" tanyanya ragu.
*******
Setelah cukup la berfikir dan menimbang untung ruginya, akhirnya Heru memutuskan menerima tawaran Agus untuk mengambil Hp yang Agus tawarkan.
"Oke deh gue ambil HP aja," Heru memutuskan.
"Oke deh deal ya kita!" Agus membuat kesepakatan, diujung bibirnya ada tarikan senyum penuh kemenangan. Aneh memang meskipun dirinya kalah dan harus merelakan HP terbaru miliknya untuk Heru. Namun, tal ada sedikitpun wajah sedih, apalagi penyesalan di wajahnya. Yang terlihat adalah wajah penuh kepuasan.
Segera setelah melakukan dealnya, Heru segera pamit pulang. Tak lupa ia titipkan HP barunya pada Erik, tak mungkin baginya membawa pulang hadiah ponsel itu. Bisa-bisa kena sita sama Rena, lagi pula apa yang hendak ia jelaskan pada Rena mengenai asal ponsel teese6but.
"Rik, jaga HP gue bae-bae, dan jangan lupa setiap malam jumat lu kerumah gw nyamper, okeh!" Heru memberikan kode kesepakatan.
Tanpa mereka sadari, tak jauh dari sana seseorang sedang memperhatikan gerak-gerinya. Sambil berkata pada seseorang dalam sambungan telponnya
"Buaya sudah terperangkap Bos!" ujarnya, sambil tersenyum simpul.
********
Waktu telah menunjukkan 00.30 dini hari. Heru tentu telah menyiapkan alasan yang akan ia kemukakan pada Rena.
Sampai di depan rumah Heru segera memanggil nama Rena. Tak butuh lama Rena yang memang sedang menunggu kepulangan Heru di ruang tamu pun segera menghampiri dan membuka pintu untuk suaminya itu.
"Gak sekalian pagi aja Pah pulangnya, nanggung udah jam setengah 1 pagi kan!" Tanya Rena dengan pandangan penuh selidik.
__ADS_1
"Mamah kok ngomongnya giti sih, suami kamu kan abis menjalankan misi solidaritas. Kasihan tadi gak tega si kosim kan gak punya motor jadi nebeng sama Papah, mau diturunin ditengah jalan kan gak mungkin Mah udah malem juga gak ada kendaraan, jadi Papah anterin dulu lah kerumahnya." Tutur Heru mengemukakan alasannya dengan lancar tanpa terbata-bata meskipun ia tengah berbohong.
"Wah, Papah emang temen yang baik yah." puji Rena setengah hati, walau filingnya mencium kebohongan. Namun akhirnya ia memilih mengalah dan percaya. Toh gak ada bukti juga yang ia punya untuk membuktikan kecurigaannya.
"Iya dong Mah, Papah ini aslinya baik banget tau! cuma Mama aja yang baru sadar," ujar Heru jumawa.
Rena yang mendengar ucapan Heru hanya memutar bola matanya, ia muak tapi memilih diam.
******
Pagi hari menjelang, seperti biasa bangun di pagi hari Rena segera kedapur menyiaplan sarapan untuk mereka. Sementara Heru memulih keluar rumah untuk sekedar menghirup udara pagi sambil menunggu sarapannya selesai dibuat oleh Rena.
Heru menatap pada sebuah amplop coklat yang tergeletak di ubin teras rumahnya. Tanpa ragu ia pun meraih amplop itu dan membukanya.
Namun betapa terkejutnya ia ketika ia tau jika isi dalam amplop itu ternyata adalah foto-foto dirinya saat tanding mabar semalam. Dengkulnya seketika lemas, keringat dingin mengucur deras.
"Sialan, siapa yang berani ngejebak gue!" umpatnya.
Mendadak moodnya pun menjadi kusut, ia memutuskan kembali masuk kedalam rumah. Dan setelah didalam rumah terdengar bunyi ponsel Rena dari dalam kamar.
"Mah, ponsel kamu bunyi tuh!" Ujar Heruasig dengan nada kesal.
"Tolong angkatin Pah, siapa tau itu customer!: pinta Rena.
?Walau enggan, akhirnya Heru mengiyakan perintah Rena. Lekas ia masuk kedalam kamar dan meraih ponsel itu.
"Halo, siapa nih?" tanya Heru to the point.
__ADS_1
"Gimana kira-kira reaksi Rena, kalau tau suami yang ia bangga-banggakan tak ubahnya seorang pecundang liar yang sama sekali tak pernah memikirkan perasaannya!" ucap suara seseorang dalam sambungan itu.
Heru seketika menjadi geram dan naik pitam.
"Siapa lo sebenarnya heh, berani-beraninya lu kirim foto-foto gue. Cari mati lo ya ama gue!!: geramnya.
"Ha ha ha ha ha ... Anda Lucu sekali Heru Hermawan. Tak pernahkah anda berkaca! bahkan melawan seekor semutpun anda kalah!" jawab lelaki itu.
"Gak salah lagi, lu pasti Rama kan. Kampret lu ya! mau adu domba gue ama istri gue biar cerai gitu gak bakalan bisa! Rena tuh cinta mati ama gue, dan benci banget ama lu!"
"Cepet tanggap ya rupanya anda! kita lihat saja, apakah Rena masih mau bertahan dengan anda setelah ia mengetahui kebenarannya." tantang penelpon yang ternyata Rama.
"Kurang ajar lo yah, berani lo ganggu bini gue gue ba ... hallo halllo ... sial maen tutup aja lagi!" kesal Heru karna ternyata telponnya sudah ditutup oleh Rama sedari tadi.
Heru masih saja bersungut-sungut sambil mengepalkan tangannya. Rena yang mendengar suara keributan dari dalam kemarnya kemudian mencari tahu.
"Pah, kamu ngomong sama siapa sih tadi. Kok marah-marah sendiri gitu!" tanya Rena kebingungan.
"Itu si Rama mantan terindah kamu yang telpon, katanya dia bakal mencari cara untuk menghancurkan rumah tangga kita!" ujar Heru mulai mengompori.
"Masa sih Pah, duh itu orang lama-lama bilin gak nyaman aja sih! padahal nomornya udah mama blok loh Pah!" ujar Rena.
"Mamah dengerin omongan Papah ya, apapun yang mama denger dari oranglain tentang Papah yang gak baik semuanya bohong ya Mah. Papah tuh gak macem-macem kok, dan selalu nurutin Mama kan!" kilah Heru membela diri, bagaimanapun ia tak ingin kebohongannya terbongkar.
"Iya Pah, Mama percaya kok sama Papa." Rena mulai masuk dalam jebakan suaminya sendiri.
Hmmmm ... Heru ... Heru ... masih aja seneng nyari gara-gara. Terus nantikan kelanjutannya ya. Author minta maaf karna efek kurang enak badan akhir-akhir ini jadi novelnya agak terbengkalai, semoga para Readers semua bisa memakluminya. Terima kasih masih setia membaca novelku ππππ
__ADS_1