
Rena diam saja saat Helan menyodorkan amplop coklat itu.
"Ren, ini uangnya kamu simpan ya buat memenuhi kebutuhan harian kalian." Ucap Helen.
"Iya Bu, sampaikan terima kasih kepada Mas Heru," ucap Rena datar.
"Ren, apakah kamu sudah mendapati keputusan yang akan kamu ambil, kasian loh si Heru kangen sama kalian." Bujuk Helen kepada menantunya itu.
"Nanti ya Bu, tunggu sampai 7 hari. Rena masih menimbang dan melihat sikap Mas Heru dulu, insya Allah hari ke 7 Rena sudah mantap memberikan jawaban." Tandas Rena memberikam pengertian kepada Helen.
"Baiklah, Ibu sih berharap kamu mau memafkan dan menerima Heru kembali. Ibu faham bagaimana sakitnya dihianati, karena dulu Bapak juga pernah berhianat. Saat itu walau sulit Ibu tetap berusaha memafkan kesalahan Bapak, alhamdulillah Bapak sudah berubah menjadi lebih baik." Helen menarik nafas panjang, hatinya masih terasa sesak jika mengingatnya kembali.
"Mudah-mudahan Rena bisa sesabar Ibu, doakan saja yang terbaik untuk kami ya Bu," pinta Rena kepada mertuanya itu.
"Pasti ibu selalu mendoakan kalian."
Cukup lama mereka berada disana untuk sekedar berbincang dan melepas rindu pada cucunya.
"Ren, Ibu dan Bapak pamit dulu ya. Kasian Heru dirumah sendirian." Pamitnya.
"Ani dan Arya mau ikut gak, nanti bisa ketemu sama Papah." Ajak Helen pada kedua cucunya. Arya spontan menoleh pada Rena seakan meminta ijin. Anak itu sudah faham apa yang sedang terjadi dengan orangtuanya.
"Ani mau ikut Nek ....!" Ujar si bungsu riang.
__ADS_1
"Arya mau ikut juga kan, nginep rumah nenek. Pulangnya besok dianter saka kakek. Boleh kan Ren anak-anak menginap dirumah?" tanya Helen.
"I-iya Bu, boleh kok," jawab Rena ragu. Namun, ia tak juga bisa mencegah anaknya untuk menemui Papahnya. Ia sadar betul bagaimanapun bejatnya Heru tetaplah Papah dari anaknya. Dan anaknya membutuhkan sosok Papahnya itu.
Si sulung yang sedari tadi memperhatikan wajah Rena yang dilihatnya tergurat kesedihan disana. Ada ikatan batin yang sangat kuat antara Arya dan Rena. Arya seolah tau isi hati Mamanya itu.
"Arya disini aja temani Mama, kasian Mama nanti sendirian gak ada teman." Ujarnya menolak ajakan neneknya. Sementara Rena yang mendengar ucapan dari si sulung menjadi tersenyum. Ia bahagia anaknya itu masih memikirkan dirinya.
"Anak pinter sayang ya sama mama," ucap Rudi sambil mengelus pucuk rambut Arya.
"Kalo abang Arya gak ikut, Ani juga gak jadi deh." Rena sangat faham bila Si bungsu Ani tak bisa jauh dari sosok Abangnya itu. Meski kebanyakan kakak beradik itu sering bertengkar. Namun, Arya dan Ani sangat akur. Mereka sangat jarang bertengkar, itu karna sikap Arya yang selalu mengalah kepada adiknya itu.
********
Tujuh hari berlalu. Namun, Heru tak juga menunjukkan iktikad baiknya. Malah ia semakin merasa bebas berselingkuh, ia semakin sering dan intens untuk sekedar jalan atau mengantar Hana pulang.
Hari ini adalah hari penentuan untuk kelangsungan rumah tangga mereka. Helen mengundang Rena untuk datang dan membicarakan semua. Agar lebih leluasa berbincang Helen memutuskan dirumahnya saja yang lumayan luas. Hingga anak-anak bisa bermain dilantai atas, dan mereka bisa bebas berbincang.
Rena menyanggupi dan menyetujui permintaan dari mertuanya itu. Karna merasa apa yanh diucapkan mertuanya itu ada baiknya juga dan untuk kebaikan bersama. Mengingat rumahnya yang memang sabgat kecil juga sangat berdrmpetan dengan tetangga. Khawatir apa yang hendak mereka bicarakan terdengar oleh anak-anak ataupun tetangga.
Ia datang bersama anak-anak dengan menumpang taxi online. Sementara Heru masih dengan sikap angkuhnya. Ia terkesan cuek terhadap Rena yang datang bersama anak-anak.
"Papah ....!" teriak si bungsu seraya berlari dan menghampiri sosok yang sangat dirindukan itu.
__ADS_1
"Ya ampun anak Papah, Papah kangen banget sama kalian," seraya memeluk kedua anaknya itu. Ani tampak sangat bahagia, tapi Arya nampak biasa saja. Ia seperti tidak merasakan ketulusan kasih sayang seorang Papa yang sangat diharapkan olehnya.
Sementara dengan Rena, Heru nampak sangat acuh. Bahkan saat Rena mengulurkan tangannya untuk mencium tangan Heru yang masih berstatus suaminya itu, Heru malah pura-pura tak melihat dengan mengabaikan Rena.
'Dih, kenapa jadi seolah aku yang pendosanya," batin Rena.
Setelah bersalaman dengan kedua mertuanya itu, Rena duduk di sofa ruang tamu yang nyaman dan empuk. Disusul dengan Heru, Helen dan Rudi. Anak-anak terlebih dahulu disuruh keatas. Sudah banyak mainan yang sengaja Helan siapkan untuk cucu-cucunya itu. Maka tanpa curiga Arya dan Ani dengan suka cita memainkan mainan itu.
"Bang, mainannya banyak yah. Gak kayak mainan dirumah cuma sedikit, nanti Ani mau bawa pulang ah," riang gadis kecil itu.
*********
Mereka semua kini telah berkumpul diruang tamu, tampak ketegangan dimuka mereka, tapi tidak dengan Heru. Dia terlihat santai saja, malah sesekali masih asik membalas chat di ponselnya.
"Rena, kami semua sudah siap mendengarkan keputusan kamu, silahkan sampaikan sekarang juga, ibu, Bapak juga Heru sudah tak sabar ingij mendengar berita baik," ujar Helen. Ia sama yakinnya dengan Heru, ia yakin Rena akan memafkan dan menerima kembali putra kesayangannya itu.
"Baiknya Bu, saya mulai dengan Bismillahhirahmanirrahim ....!"
"Mohon maaf sebelumnya jika apa yang sampaikan nantinya kurang berkenan di hati Bapak dan Ibu, saya sudah menimbang dengan sangat matang ...." Belum juga Rena tuntas bicara, Heru yang tak sabar segera memotong pembicaraannya.
"ish ... lama banget sih kamu terlalu bertele-tele. Tinggal bilang aja kamu menerima aku kembali kan! tenang aja aku masih mau terima kamu kok," ucapnya dengan penuh percaya diri.
"Maaf Mas, kamu salah .....!" Ucap Rena yang langsung mengubah senyum kemengangan dari wajah Heru.
__ADS_1
Next....
*Terima kasih ya sudah mau membaca tulisanku yang masih belepotan ini. Jangan lupa tekan like, love, berikan ratingnya ya buat novelku ini. Dan jangan lupa komennya. Terima kasih banyak readers π