
Sudah hampir sepekan kami berada dikampung. Namun tak juga ada tanda-tanda Mas Heru akan menjemput kami, sesungguhnya itu bukanlah menjadi keresahanku jika saja anak-anak tak merengek meminta bertemu dengan Papanya yang egois itu.
"Ma, dedek kangen sama Papah. kok Papah gak jemput kita juga ya mah?" Sering pertanyaan itu keluar dari anak bungsuku, bukan sekali atau dua kali tapi hampir tiap hari.
Sebagai Ibu tentu aku sadar bahwa kedua anakku merindukan sosok Papahnya, walaupun sosok itu selalu menomor duakan dirinya ketimbang kebutuhan pribadi Papahnya sendiri.
Aku bertambah gusar ketika Bapa dan Ibu kompak bertanya kepadaku.
"Ren, kamu gak ada masalah yang berarti kan dalam rumah tanggamu?, kok udah seminggu kamu disini, suamimu itu tidak juga menampakkan batang hidungnya?" tanya Bapak hari itu, aku semakin terdesak. Aku sadar tak mungkin terus berbohong kepada kedua oragtuaku, tapi aku juga tak ingin membuka aib Mas Heru, karena bagaimanapun dia adalah suamiku, aib suami adalah aibku.
"Emm... Bu, Pak maafkan Reni, memang rumah tangga Reni sedang ada masalah, tapi bukan masalah yang berarti, kami sama-sama sedang instropeksi diri agar rumah tangga kami kedepannya lebih baik lagi" Ujarku saat itu memberi penjelasan untuk menenangkan hati kedua orangtuaku. Aku tau mereka khawatir kepadaku dan nasib anak-anakku jika saja perpisahan itu terjadi. Namun sebagai anak aku tetap tak tega menyangkutkan kedua orangtuaku yang sudah renta itu kedalam masalah pelik rumah tanggaku bersama Mas Heru.
__ADS_1
"Ya sudah, Bapak harap kalian bisa berfikir dewasa untuk masa depan anak-anak"
"Bukan maksud Bapak mengusir kamu nak, Tapi gak baik seorang istri pergi dari suami terlalu lama, kasian juga Heru sendirian disana tanpa ada yang mengurus" Nasihat Bapak, aku sadar sebagai istri sudah menjadi kewajibanku berbakti dan melayaninya. Namun salahkah jika aku hanya ingin memberikannya pelajaran saja, agar dia sedikit saja lebih peduli terhadap keluarganya, terutama anak-anak yang sangat mendamba kasih sayang serta perhatian dari Papahnya.
"Iya Pak, Rena akan secepatnya pulang" kuucapkan kata-kata itu lagi-lagi untuk menenangkan mereka, walau sebenarnya hati kecilku sangat enggan kembali pada si pelit itu.
Drt.... drt..... ponselku .bergetar syukurlah setidaknya aku bisa menghindar sejenak dari pembicaraan ini.
Kulirik ponsel dan tertera disana 'mertuaku' seketika mataku menbulat, kutelah saliva dengan susah payah, Ya tuhan apa mertuaku itu tau jika aku tengah minggat.
("Walaikum salam Ren, dimana kamu?") tanya ibu mertua langsung.
__ADS_1
("ehmmm... mmm....") entah kenapa lidahku seketika kelu, aku bingung harus berkata apa?.
("Kata Heru kamu minggat gara-gara gak dikasih uang ya?! kamu itu mbok ya bersyukur punya suami pekerja keras, mau nafkahin kamu dan anak-anak, kamu bisa di azab loh nanti keluar dari rumah tanpa ijin suami begitu! lagian kamu kan tau kemampuan Heru, janganlah kamu minta jatah melebihi batas kemampuanya") Mertuaku itu langsung saja mengeluarkan seribu kata, entah apa yang sudah diadukan Mas Heru pada Ibunya, yang kuyakini semuanya itu dusta untuk menutupi kesalahannya saja.
("I... iya bu Rena minta maaf, tapi bukan itu saja masalahnya bu, memang Mas Heru cerita apa sama Ibu")
("Sudah nanti kita bicarakan dirumah, dimanapun kamu saat ini sebaiknya segera pulang kalo gak mau Heru menjatuhkan talak padamu, nyesel kamu nanti! Emangnya dikira enak apa jadi janda, Cepet pulang!") deg... terasa sakit sekali hatiku mendengar ucapan mertuaku itu. Tapi aku memakluminya mungkin saja ia seperti iry karna hasutan Mas Heru, karna aku tau sesungguhnya mertuaku itu bukanlah meetua yang sadis seperti disinetron ikan terbang itu, dia adalah mertua yang baik, yang cukup care terhadap menantu juga cucu-cucunya.
("Baik bu, Rena akan segera pulang. Mungkin besok karna hari ini sudah hampir menjelang malam, kasian anak-anak nanti) Akhirnya aku mengalah, aku hanya benci anaknya. Namun aku tetap harus mematuhi orangtuanya yang kuanggap seperi orangtuaku sendiri.
("Baik ibu tunggu kamu besok dirumah kalian") klik langsung saja Mertuaku itu menutup sambungan telfon tanp menunggu jawabanku, atau paling tidak memberi salam terlebih dahulu, terdengar dari suaranya sangat marah terhadapku, ah Mas Heru ini bukannya meredam masalah malah menambah masalah, awas ya kau Mas!.
__ADS_1
Bagaimana keadaan Heru selama ditinggal oleh Rena?, dan apa yang telah diadukan Heru kepada orangtuanya yang membuat orangtuanya murka terhadap Rena?, simak kisah selanjutnya yaa.
Next...