
Rena tak mau menghabiskan waktunya hanya tertuju pada Heru, ia alihkan beban fikirannya itu dengan memposting barang dagangannya dibeberapa sosmed.
"Alhamdulillah, keuntungan makin lama makin meningkat. Sekarangpun sudah kupegang langsung keuangan karena sekarang Rena telah memiliki modal jadi sistemnya riseller, Untungnya pun semakin menjanjikan. Dalam sebulan tak kurang dari 3 juta masuk ke kantongnya.
Sedang asik menulis pesanan barang yang ia butuhkan, terdengar suara ketukan pintu serta salam.
"Assalamualikum,"
"Walaikum salam, ada perlu apa pak?" tanyanya.
"Saya dari pengadilan Agama mau mengantarkan surat ini untuk Bu Rena."
"Oh iya Pak, saya Rena."
"Silahkan tanda tangan disini ya Bu," sambil menunjukkan berkas yang harus ia tanda tangani.
__ADS_1
Rena menerima surat panggilan itu dengan perasaan yang campur aduk. Padahal kemarin ia sangat tidak sabar menerima surat panggilan itu, Tapi sekarang hatinya menjadi sangat bimbang.
"Ya Tuhan, berarti surat yang sama diantarkan ke rumah Ibu untuk Mas Heru hari ini juga, gimana kalo nanti Ibu semakin drop!" cepat Rena meraih ponselnya. Ia tak ingin terjadi sesuatu pada Helen yang sudah ia anggap seperti Ibu sendiri.
("Assalamualaikum Bu, gimana kabar Ibu?") Rena yang khawatir langsung saja mempertanyakan keadaan Helen. namun, tak terduga panggilan telfon darinya malah diangkat oleh Heru.
("Ibu lagi syok dan nangis gara-gara kamu!") Heru menggertak Rena.
("M-Mas, kok HP Ibu ada sama kamu?")
("Iya kemarin Ibu yang nyuruh aku pulang, ini aku lagi nunnguin Ibu yang lagi sakit jadi ambil cuti,") Heru seperti sedang memanfaatkan situasi ini.
("Baru liat surat panggilan dari pengadilan saja Ibu sudah syok dari tadi nangis terus. Gimana kalo jadi kamu ceraikan aku, gak kebayang deh Ibu bakalan gimana?") lagi-lagi Heru membuat Rena semakim menyesal dan bersalah.
("Aku mau bicara dengan Ibu Mas,") Rena ingin sedikit menenangkan hati Helen.
__ADS_1
("Ya udah, tapi kamu jangan ngomong macem-macem yang membuat Ibu semakin syok ya!")
Setelahnya suara diseberang berubah memjadi suara Ibu yang sedang menangis.
("Ren, Ibu mohon jangan pisah sama Heru ya sayang. Kamu mau kan mengabulkan permintaan Ibu dan mencabut gugatan veraimu saat ini juga!") lagi-lagi Helen memaksakan keinginannya yang sangat sulit Rena kabulkan.
("Ibu yang tenang ya Bu, ini baru tahap awal. kita baru akan dimediasi oleh pihak pengadilan. Rena sudah menulis beberpa syarat yang akan Rena ajukan untuk Mas Heru. Insya Allah semuanya akan baik-baik saja,") Rena menenangkan hati Helen, agar mertuanya itu berhenti menangis dan mengiba kepadanya. Sungguh ia sangat tak sanggup mendengarnya.
("Ajukam saja syarat apapun dan sebanyak yang kamu mau, Ibu akan pastikan Heru menyetujui semua syaray yang kamu berikan.") Suara Helen berubah menjadi antusias, suara tangisnyapun sudah tak terdengar lagi.
("Nanti kita bahas di sidang mediasi ya Bu, Ibu istirahat ya jangan banyak fikiran. Udah dulu ya Assalamualaikum.") Setelah memutuskan sambungan telfon ia melempar ponselnya begitu saja keatas kasur.
'Ya Tuhan semoga keputusanku ini tidak salah' lirih batinnya.
Sementara Itu Heru sedanh tersenyum bahagia. ia telah mendengar semua pembicaraan Rena dengan Helen, karena memang di loundspeaker. Heru merasa diatas awan, Ibunya kini telah kembali membelanya seperti dahulu.
__ADS_1
Next ....
*Akankah Heru menyanggupi syarat yang diajukan oleh Rena? dan syarat apa aja ya yang diajukan oleh Rena. Pantau terus ya kelanjutan kisahnya. Jangan lupa Like, love, vote dan sarannya. Terina Kasih ππ