SUAMIKU PELIT

SUAMIKU PELIT
Pulang (46)


__ADS_3

Heru membereskan semua baju dan perlengkapannya ke dalam sebuah koper yang agak besar, ya Heru memang membawa semua pakaiannya kala itu.


"Pak, nanti abis magrib anterin Heru ya pulang ke rumah," pinta Heru pada Rudi.


"Hm ... iyalah pasti, Bapak sama Ibu juga mau silaturahmi. Sekaligus terima kasih sama istrimu karena sudah mau menerima mu kembali," jawab Rudi.


"Pak, udah disiapin sembako buat kita bawa belum? Ibu mau bawa sembako yang banyak, kalo perlu satu warung Ibu kasihkan buat Rena. Ibu berhutang budi sama dia sekaligus sebagai ucapan terima kasih ibu kepada Rena!" Ucap Helen dengan wajah sumringah, ia merasa lega terbebas dari kenakalan Heru. Sekarang ada Rena yang siap menggantikan tugasnya mengawasi Heru.


**********


Senja mulai datang, matahari telah tenggelam. sayup-sayup terdengar suara Azan berkumandang dari Masjid komplek. Segera Rudi dan Heru melangkahkan kaki menuju Masjid yang ada di depan komplek perumahan mereka.


Sepulang dari menunaikan sholat Magrib, Rudi segera menyiapkan kendaraan yang akan membawa mereka ke rumah Rena. Sembako yang akan mereka bawa sebagai buah tangan pun sudah di masukan ke mobil sedari tadi.


"Heru ... Cepetan, lama banget sih kamu!" teriak Helen yang tak sabar ingin bertemu dengan menantu serta cucu kesayangannya.


"Sabar to Bu ... Heru kan harus tampil oke. Ini kan malam pertama dia," Ucap Bapak sambil tersenyum.


"Hus ... malam pertama apaan si Bapak ini, orang nikah juga udah 10 tahun kok malam pertama, malam seribu iya," ucap Helen sambil terkekeh.


"Lah Ibu ini lupa ya, si Heru kan baru akan balik lagi kerumahnya bersama Rena, dan mereka akan tidur seranjang lagi setelah sebulan berpisah, tentu dia harus tampil oke dan wangi," Rudi terkekeh melihat Heru yang baru saja keluar dari kamar dengan pakaian rapi dan wangi, persis seperti dulu ketika saat Heru akan ngelancong ke rumah Rena tiap malam minggu.


"hayoo abis gibahin aku ya? ledekin aja terus Pak!" Heru menatap kesal ke arah Rudi.

__ADS_1


"Udah udah, Ayo cepetan!" Helen yang tak sabar segera melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam mobil mereka.


Selama perjalanan mereka masing-masing terpaku menatap jalanan yang macet, sedangkan Heru masih saja sibuk merapihkan jambul serta letak kerah kemejanya di bangku belakang.


"Kamu itu Her, seharusnya kamu loh yang nyetir. Bukan Bapak!" Heru memang tidak bisa mengendarai mobil, berkali-kali Helen dan Rudi memasukkan Heru ke sekolah menyetir tapi hasilnya nihil, karna Heru yang selalu saja tak datang pada saat praktek lapangan dengan berbagai macam alasan.


Sementara itu di lain sisi, Heru punya alasan sendiri mengapa dirinya enggan untuk kursus menyetir. 'nanti kalo gw bisa nyetir pasti Bapak sama Ibu jadi ngandelin gw, apa-apa minta anterin cape dong. Mending gak usah bisa nyetir ajalah sekalian.' Begitulah Heru dia terlalu nyaman dengan sifat malas nya.


Setengah jam berlalu tapi tak ada pergerakan yg berarti bahkan mobil mereka hanya berjalan 1 kilo meter saja dari titik awal. Perjalanan ke rumah Rena yang biasanya memakan waktu 20 menit, kini hampir satu jam mereka baru sampai.


************


Rena mendengar deru mesin yang sangat ia Hafal, segera ia membuka pintu rumahnya untuk menyambut suami serta kedua mertuanya turun dari mobilnya.


"Loh, cucuku mana Ren?!" tanya Helen bingung, tak mendapati cucu kesayangannya menyambut kedatangannya.


"Maaf Bu, Ani tadi ngeluh ngantuk jadi saya antar ke kamar tidur, sementara Arya sedang sholat jamaah di musholah. Sebentar lagi juga pulang kok, Ayo Bu, Pak masuk," Ajak Rena kepada kedua mertuanya.


"Alhamdulillah cucuku gak nurunin sifat Bapaknya!" seru Helen sambil melirik tajam ke arah Heru.


"Loh Ren, yang kamu ajak masuk cuma Bapak sama Ibu, Suamimu gak kamu ajakin masuk? Kasian loh dia udah dandan susah payah biar jambul nya tetep keatas dari tadi, sampe sini gak diajakin masuk," goda Rudi pada Heru dan Rena.


Heru yang sedari tadi terdiam dibelakang Rudi seketika kaget mendengar ucapan Bapaknya itu.

__ADS_1


"Uhuk ... uhuk ... uhuk!" Heru terbatuk-batuk karena tak sengaja menelan permen karet yang sedang dikunyahnya.


"Loh ... kamu kenapa Her, grogi ya ketemu sama istri sendiri," Rudi yang tidak menyadari apa yang terjadi dengan Anaknya itu tampak semakin puas meledek Heru.


Heru terus saja terbatuk-batuk sambil memegang tenggorokannya.


"Pak ... tolong!" ucap Heru dengan suara tercekek. Sambil tangan kanannya menunjuk kearah dalam mulutnya, dan tangan kiri memegang lehernya, dia sangat kesakitan karena permen karet itu nyangkut di tenggorokannya.


Rena yang melihat Heru kesakitan spontan menghampiri dan ingin membantu Heru.


"Ka ... kamu kenapa Mas?!" tanyanya dengan wajah panik.


"Ke ... Telen per .... men," jawab Heru susah payah dengan suara terbata-bata.


"Ya Allah," Rena segera menepuk punggung Heru dengan keras, pukulan pertama belum berhasil, kedua juga belum menampakkan hasil. Hingga akhirnya Rena mengeluarkan semua kekuatannya. Dipukulnya sekali lagi dengan tepat sasaran dan tenaga penuh.


"Buukk ...!" Tersungukurlah si Heru di teras rumah.


"Mas ...!" Teriak Rena Panik.


Next.....


*Hai readers, Terima kasih ya udah setia menunggu kelanjutan cerita ini. Kira-kira si Rena mukul karena niat nolong, apa sekalian melampiaskan kekesalannya ya hihihihi 🀣 Jangan lupa like, love, rate and komennya ya. Kritik dan saran dari kalian sangat membantu saya untuk memperbaiki tulisan saya πŸ™πŸ»πŸ’œ

__ADS_1


__ADS_2