SUAMIKU PELIT

SUAMIKU PELIT
Rindu. (47)


__ADS_3

"Ya Allah," Rena segera menepuk punggung Heru dengan keras, pukulan pertama belum berhasil, kedua juga belum menampakkan hasil. Hingga akhirnya Rena mengeluarkan semua kekuatannya. Dibukulnya sekali lagi dengan tepat sasaran dan tenaga penuh.


"Buukk ...!" Tersungukurlah si Heru di teras rumah.


"Mas ...!" Teriak Rena Panik.


Heru yang tersungkur, kepalanya terjerembab kelantai. Permen karet itu telah berhasil keluar walau kepala Heru jadi benjol akibat dari pukulan dengan kekuatan penuh dari Rena. Dengan meringis menahan sakit, Heru bangun sambil memegang kepalanya.


"Aduh kira-kira dong mukulnya," Sambil meringis menahan sakit di pelipisnya yang benjol.


"Ma ... maaf ya Mas, abis aku panik tadi kayaknya kamu kesakitan banget," tak sadar mereka seperti melupakan sejenak konflik yang pernah mereka alami. Rena secara reflek mengelus-ngelus kepala Heru yang sakit.


"Tapi yang penting permennya udah keluar kan Mas, jadi sekarang kamu udah gak kesakitan lagi," ucap Rena sembari tersenyum manis.


"Iya sih, makasih ya Mah," ucap Heru sambil merekah kan senyum yang tak kalah manis dari Rena. Tanpa sadar kini mereka saling bertatap.

__ADS_1


Helen dan Rudi yang sedari tadi memperhatikan tingkah anak dan menantunya tak kuat untuk tak meledek pasangan suami istri itu.


"Nah, gini dong Bapak dan Ibu kan seneng liatnya," Seketika pasangan yang tengah didera rindu itu jadi salah tingkah, Rena yang wajahnya bersemu merah buru-buru masuk kedalam rumah.


"Eh ... em ... Rena bikinin minum dulu ya Pak ,Bu." Segera ia melangkah dengan cepat menuju dapur. Ia tak tahan melihat tatapan Ibu dan Bapak terhadap dirinya.


'Aduh ... Rena. Kok bisa sih lo lupa kalo ada Ibu dan Bapak, malu kan jadinya. Lagian aneh banget sih kenapa juga jadi deg degan ketemu suami sendiri,' Rena membatin menyesali tingkah konyol nya.


Tak lama Arya pun pulang dengan menenteng sajadah ditangannya.


"Wa'alaikum salam, cucu sholehah nya nenek," Helen segera menghampiri serta mencium Arya.


"Kakek dan Nenek tumben ke sini nya bareng Papah," tanya polos Arya.


"Iya, nenek kan mau anterin Papah kamu pulang, sayang." Jawab Helen.

__ADS_1


"Maksudnya, Papah tinggal disini lagi ya nek?!" tanya Arya dengan berbinar, dijawab anggukan mantap oleh Helen.


"Horee ...! Papah udah tinggal disini lagi," Teriak Arya kegirangan. Memang selama ini Heru hampir tak pernah menghabiskan waktu untuk anak-anaknya. Namun, sedikitpun Arya tak pernah ingin mengabaikan Papahnya itu. Baginya lagi lebih sakit jauh dari Papah nya ketimbang dia diacuhkan oleh Heru.


Heru segera menghampiri dan memeluk anak Sulungnya itu. Dekapan kerinduan dan kehangatan dari seorang anak yang tulus mencintai dan menerima segala kekurangannya sangat Heru rasakan, tak tersanya netranya menetes begitu saja tanpa mampu ia bendung lagi.


"Papah tinggal disini aja ya Pah, jangan pergi lagi. Biar kita bisa terus bersama, Arya gak apa-apa kok gak dikasih uang jajan, asal Papah jangan pernah tinggalin Arya, Ani sama Mama lagi." Ucapan permintaan yang sangat sederhana dari seorang anak kecil yang begitu tulus mencintai kedua orangtuanya.


"Iya sayang, Papah gak bakal tinggalin kalian lagi. Papah akan selalu ada untuk kalian ya," Janji Heru kepada putra sulungnya itu.


Helen yang sedari tadi menyaksikan adegan Ayah dan anak yang sedang melepas rindu tak henti-hentinya mengelap air mata yang turun deras di pipinya.


Next....


*So sweat ya Heru, mudah-mudahan aja dia gak melanggar janjinya dan bener-bener mau berubah ya readers๐Ÿ˜Š. Jangan lupa like,love, rate and komennya ya. Terima Kasi๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ’œ

__ADS_1


__ADS_2