SUAMIKU PELIT

SUAMIKU PELIT
Bukti Perselingkuhan Heru. (34)


__ADS_3

"I-Ibu Ibu gak kenapa-kenapa kan?!" tanya Rena panik.


"Kamu memang ada bukti jika Heru selingkuh?" tanya Helen meminta bukti bahwa putra kesayanganbya itu telah mendua.


Sewaktu bertengkar tadi dengan Heru. HPnya sempat direbut oleh Heru lalu diambil paksa simcardnya untuk menghilangkan bukti. Tanpa Heru sadari Rena tak sebodoh itu, ia telah menyimpan dokumen bukti itu dengan Rapi. iq telah mengirim bukti perselingkuhannya itu kepada seseorang yang sangat dipercaya untuk menyimpan dan mengirimkannya lagi jika sewaktu-waktu ia membutuhkan.


"Sebentar Bu," Rena mengetik sesuatu chat dengan seseorang. Tak butuh waktu lama bukti-bukti video, foto dan screen shot pesan telah kembali ketangnnya.


"I-Ini Bu buktinya," Disodorkannya ponsel miliknya kepada Ibu Helen Mertuanya.


Bu Helan tampak sangat serius membaca, bahkan sesekali mulutnya berustigfar serta tangannya yang mengelus dadanya sendiri ketika melihat foto dan video Heru bersama seorang wanita.


"Kurang ajar ini anak, blom punya apa-apa aja banyak gaya. Awas ya!" Diambilnya ponsel miliknya lalu mendial nama Heru.


("Heru! kerumah sekarang juga! jangan banyak tanya, pokoknya kamu harus datang sekarang juga atau Ibu pecat kamu jadi anak!") Ancam Ibu ditelpon saat Heru mengatakan tak bersedia datang.


Rena tak menyangka jika Helen akan membela dirinya ketimbang anak kandungnya sendiri. Helen menghampiri suaminya Bowo, mereka terlihatbmembicarakan sesuatu yang serius sejanak.


Anak-anak diperintahkan untuk bermain di dilantai atas rumah,agar tak mendengar apanyang mau mereka bahas.


Ibu nampak sangat tak sabar menanti kedatangan Heru hingga menelponnya veriali-kali.


"Ish ... ni anak kemana sih?!" awas aja kalo sampe gak dateng juga!"


"Sabar Bu, mungkin sedang dijalan." ujar Bapak mencoba menenangkan.


15 menit kemudian yang ditunggupun datang.

__ADS_1


"Assalamualaikum," salam Heru. Ibu bergegas menghampiri dan menyuruh putranya itu masuj.


"Ayo masuk, Lama banget sih kamu! dari mana aja?" Tanya Helen.


"Ia maaf." Segera Heru dan Ibu menuju ruang tamu. Disana telah menunggu Rena dan juga Bapak.


"Loh Bu, ngapain ada si Rena disini? pasti dia udah ngadu macem-macem ya saka Ibu!?" Heru memandang Rena dengan tatapan tak suka.


"Diam kamu, duduk Ibu dan Bapak mau bicara!" Heru langsung menuruti perintah Ibunya.


"Heru, kenapa kamu biarkan anak dan istrimu pergi dari rumah malam-malam tanpa kamu antar." Bapak memulai mengintrogasi.


"Pak, Bu dengerin dulu penjelasan Heru. Jangan mau dikomporin sama Rena! Lagian dia yang mau pergi sendiri kok!" Ujar Heu membela diri.


"Seharusnya kamu cegah! bukan malah membiarkan," tandas Bapak.


"Fitnah itu Pak, Bu. Lagian emang dia punya bukti kalo aku selingkuh?" Jawab Heru pongah.


"Aku bukan orang yang suka memfitnah Mas, aku bicara pasti disertai bukti. Walaupun kamu hapus tapi aku masih punya salinannya. Aku gak sebodoh yang kamu kira!" Rena segera memgeluarkan ponselnya. Membuka pada galeri semua bukti yang ia punya lalu ia tunjukkan pada Bapak yang memang belum melihatnya.


Heru yang melihat hal tersebut berusaha mencegah dengan merebut ponsel tersebut. Namun upayanya tak berhasil karna Rena jaih lebih gesit.


"Siniin HPnya. Pasti kamu mau Fitnah aku kan biar kamu dibelain?!" Tuduh Heru, terlihay wajahnya mulai panik.


"Heru! duduk kamu. Berikan kesempatan pada Rena untuk membuktikan ucapannya!" Bapak segera menghampiri Rena untuk mengambil ponsel itu.


"Ta-Tapi Pak! Si Rena itu tukang bohong, aku aja dibohongin terus sama dia. Heru cuma gak mau kalo dia juga bohongin Bapak dan Ibu!" Heru yang panik tetap terus berusaha mencegaj Bapak dan Ibunya melihat bukti yanh disodorkan Rena.

__ADS_1


"Apa kamu bilang aku yang tukang bohong! bukannya kamu ya yang tukang bohong. Mana buktinya kamu punya tabungan heh! cobq tunjukkan sekarang pada kamu disinibkalo kamu emang benar!?" Rena yang tak terima dirinya dikatakan pembohong, menyerang balik Heru.


"Sudah sudah diam kalian! gak mau kalo nanti didenger sama anak-anak kalian!" Bentak Ibu. Dan sukses membuat Heru dan Rena langsung terdiam.


"Heru! Apa yang kamu lakukan?!" Ucap Ibu dengan setengah berteriak.


Sementata Itu Bapak tak berkata apapun hanya menatap tajam pada putranya itu. Heru yang ditatap dan dicecar sedemikian rupa oleh orangtuanya menjadi semakin pucat saja wajahnya.


"Heru kamu itu hidup masih pas-pasan aja banyak tingkah, gimana kalo kamu sukses nanti?! Kamu tau Ibu sangat membenci penghianata!?" Hardik Ibu.


Heru nampak sedikit bingung dengan foto dan video yang disebutkan Ibu, lalu ia merebut ponsel Rena untuk melihat foto dan video itu. Seketika matanya terbelalak tak percaya melihat isi foto dan Video.


"Hey! kamu ngikutin aku ya selama ini? jangan-jangan aku terkunci dikamar mandi Mall itu ulahmu ya?!" tuduh Heru, bukannya merasa bersalah ia malah terlihat sangat marah mengetahui tindak tanduknya diluar rumah dibuntuti oleh Rena.


"Liat aja tuh si Rena bukannya ngurus anak dirumah malah jalan-jalan di Mall." Sambil menunjuk-nunjuk Rena berharap kedua orangtuanya membela dirinya.


"Diam kamu Heru, bukannya minta maaf malah kamu yang nyolot. Kamu sadar gak sih letak kesalahan kamu?!" Bapak terlihat mulai meluapkan amarahnyam


"Ibu sangat kecewa sama kamu, Ibu tau bagaimana rasanya dihianati saat Bapak dulu bermain api dengan janda dikantornya dulu. Jadi Ibu faham betul apa yang dirasakan Rena," Ibu terdiam sejenak, ia seperti kembali ke masa dulu. Kembali merasakan sakitnya dihianati.


"Tapi Bu ....!"


Next


*kira-kira apa ya yang akan Heru katakan. Apakah akhirnya ia akan mengakui kesalahannya lalu meminta maaf pada Rena. Atau malah ia makin besar kepala. Tungguin kelanjutan ceritanya ya readers.


Jangan lupa tekan like, love, vote and tinggalkan kome kalian ya. Terima kasih πŸ˜˜πŸ’œ

__ADS_1


__ADS_2