SUAMIKU PELIT

SUAMIKU PELIT
Hal Tak Terduga. (62)


__ADS_3

Rena yang bingung dengan sikap Heru yang tiba bersikap manis jadi bertanya-tanya sendiri.


'Jangan-jangan kesambet penunggu pohon mangga Bu Marni?!' batin Rena menerka-nerka


Rena hari itu begitu sibuk memikirkan dirinya yang merasa diteror oleh Rama, hingga ia tidak kepikiran untuk meminta bukti jika Heru benar-benar lembur hari ini.


**********


Pagi menjelang, seperti biasa setelah melaksanakan sholat subuh, Rena segera kedapur untuk mempersiapkan sarapan, Kebetulan hari ini adalah hari libur Heru.


Setelah Sholat subuh ia langsung ke teras rumah untuk sedikit berolah raga dan menghirup udara pagi yang segar, Namun, seketika matanya tertuju pada setangkai bunga mawar merah yang digantungkan di pintu pagar, dengan penasaran diambilnya bunga itu.


Terdapat tulisan di dalam nya.


"Maafkan aku atas kesalahan di masa lalu, semoga kamu sudi untuk sekedar menjadikan aku teman, Rama." Seketika nafas Heru memburu, segera dibawanya bunga itu kedalam untuk ditunjukkan pada rena.


"Mah, Mah ...!" Panggil Heru seraya berteriak.


"Apaan si Pah, kamu ini pagi-pagi teriak udah kayak tarsan aja!" semprot Rena.


"Bunga dari siapa ini, siapa si Rama hah!" tanyanya.


Rena terkejut seketika saat Heru menyebut nama Rama, 'Ya Tuhan, kali ini apa lagi yang ia perbuat?' jerit batinnya.

__ADS_1


"Kok kamu diem! oh jadi gini ya kelakuan kamu sebenernya. Kamu ternyata punya selingkuhan Mah." Tuduh Heru.


"Pah, jangan asal nuduh kamu ya. Rama itu masa lalu ku! aku juga gak ngerti apa maksudnya semua ini!?" Rena memberi penjelasan.


"Halah, sok lugu kamu Mah. Padahal kamu yang lebih parah!" Heru tetap kekeh menuduh Rena.


"Demi Allah Pah, aku gak melakukan apa yang kamu tuduhkan. Aku ini masih waras dalam berfikir, aku sayang anak-anak. Bagaimanapun kebahagiaan anak-anak jauh lebih penting buatku dari pada kebagiaanku sendiri. Kebahagiaan anak-anak adalah melihat keluarga utuh, jadi gak mungkin aku hancurin semuanya!" Rena yang tak terima dituduh sedemikian rupa oleh Heru menjadi menangis tersedu-sedu.


"Ya udah, kalau gitu Papah ingin ketemu sama yang namanya Rama! temuin Papah sekarang kalau kamu emang bener-bener gak ada hubungan apapun sama lelaki itu," Ancam Heru.


"Silahkan Pah, kalau kamu ingin bertemu. tapi aku gak mau!" seru Rena masih dengan isak tangisnya.


"Kenapa kamu gak mau, kamu takut kan ketauan selingkuhan kamu itu?!" tuduh Heru lagi semakin menjadi.


"Ya udah tunggu apalagi, cepat suruh dia temui aku disini hari ini juga!" pinta Heru.


"Mau hubungi kemana Pah, no telponnya pun aku gak tau!"


"Bohong! lalu dia tau dari mana tempat tinggal kamu, kalau bukan kamu yang kasih tau?" cecar Heru.


"Aku udah bilang dari tadi sama kamu, aku juga gak tau apa-apa." Berkali-kali Rena coba menjelaskan, tapi rupanya Heru yang sudah terbakar api cemburu tidak mudah percaya.


Saat mereka sedang berargumen di dalam rumah, tiba-tiba terdengar suara seseorang mengucap salam dari luar rumah.

__ADS_1


"Assalamualaikum,"


Dengan segera Heru dan Rena menghampiri kedepan rumah, tak disangka sosok yang sedang dibahas ternyata kini ada di depan mata mereka.


"Kamu mau apalagi? mau menghancurkan keluargaku! untuk apa kamu kasih bunga ini?" Rena yang geram segera melontarkan pertanyaan.


"Maaf, bolehkah ijinkan saya masuk terlebih dahulu. Tak elok rasanya kalau kita membahasnya dengan pembatas pagar ini." Pinta Rama.


Heru segera mengambil kunci gembok pagar lalu membuka dan mempersilahkan masuk Rama. Heru memandang dengan tidak berkedip sosok lelaki dengan perawakan gagah dan bersih yang ada didepan matanya.


'Gila, ini mah gue kalah telak.' Jerit batin Heru.


Kontras dengan pakaian yang sedang Heru kenakan pagi itu, Heru hanya menggunakan kaos oblong tipis serta bahawan celana pendek berbahan parasut murahan. Sedangkan rivalnya walaupun terlihat sederhana namun merk yang digunakan bukanlah barang murah. Satu kaos yang digunakan oleh Rama saja, rasaya harganya setara dengan satu lemari kaos milik Heru.


"Ehemm ...!" Rama menyadari rasa takjub Heru pada dirinya, bukan maksud menyombongkan diri. Hanya saja dalam benaknya bertanya-tanya.


'Suaminya Rena modelnya begini, drastis amat kriteria cowoknya. Padahal dulu Rena sangat suka dengan lelaki bertubuh atletis, tampan dan tegap, tapi lihat lelaki ini. Ototpun tak terlihat, badannya kecil dan juga tidak tampan,' batin Rama bertanya-tanya.


Kira-kira apa yang bakal terjadi di pertemuan awal ini ya, terus nantikan kelanjutan kisahnya ya ReadersπŸ™πŸ’œ


Next ...


#Jangan lupa dukung Author dengan cara klik like, love, vote dan tulis komen serta saran kalian ya. Terima kasih πŸ’œπŸ™

__ADS_1


__ADS_2