SUAMIKU PELIT

SUAMIKU PELIT
Perjuangan Heru. (39)


__ADS_3

Sepulangnya dari Kantor Agama Rena mendapati Heru sedang berada dirumah, bercengkrama dengan anak-anak. Terlihat sekali tawa bahagia anak-anak. Namun, tidak dengan Rena, ia justru risih melihat Heru.


"Assalamualaikum .... " Ucap Rena.


"Walaikum Salam, eh Mama udah pulang ya?" tanya Heru ramah, Rena sebetulnya ingin sekali menjawab bahwa dirinya baru saja mendaftarkan gugatan perceraiannya kepada Heru. Namun, melihat anak-anak ada didekat Heru, Rena pun mengurungkan niatnya itu. Ia tak ingin anak-anak mengetahui keretakan hubungan oragtuanya, ia akan menjelaskannya nanti disaat waktu yang tepat, tapi tidak sekarang.


"Mah, ditanya tuh sama Papah. Kok Mama malah diem aja?" Tanya si bungsu sambil berdongak menatap Rena.


"Eh, iya Nak ini baru mau jawab."


"Aku habis ada keperluan tadi," jawab Rena singkat lalu langsung masuk kekamarnya.


"Oh ya udah Mama istirahat dulu dih sana, gak usah masak. Tadi Papah udah beli lauk matang buat kalian makan," ujar Heru dengan mimik muka yang dibuatnya semanis mungkin.


"Hmmm ...." Rena nampak sudah sangat malas bersitatap lama dengan Heru.


"Ya udah Mah, sekalian Papa mau pamit pulang dulu ya," Pamit Heru, Rena yang baru saja membuka pintu kamarnya kembali lagi menghampiri Heru.


"Ya sudah, terima kasih sudah jagain anak-anak dan beliim makanan," ujar Rena tanpa menatap pada Heru.


"Kan sudak kewajiban Papah, Mah,"


'Cih ... mual aku lama-lama liat mukanya yang sok manis itu,' batin Rena.


"Papah mau pulang ke rumah nenek lagi ya, kenapa gak bobo disini lagi Pah?" Tanya si Bungsu.


"Eh ... Mm ... kalo Papah disini, nanti Mama marah sama Papah," ucapan Heru sontak membuat Rena seketika mengerutkan kening dan juga membulatkan kedua matanya.


"Mama baik kok Pah, gak bakalan marah kalo Papah tidur disini, ia kan Mah?" pertanyaan si Bungsu jelas membuat Rena menjadi salah tingkah. Ia bingung hendak menjawab apa kepada putri kecilnya itu.


"Sayang .... Papah tuh lagi ada kerjaan makanya Papah gak tinggal disini dulu sama kita. Iya kan Mas?!" tanya Rena penuh penekanan dengan mata yang membulat sempurna.


Heru yang menyadari kesalahannya telah membuat Rena marah hanya mengiyakan saja.


"I-Iya Nak, Papah lagi ada kerjaan. Udah ya Papah pamit dulu. Assalamualaikum," baru saja ia hendak melangkah keluar rumah, tiba-tiba si sulunh nyeletuk lagi.


"Mah, Ade sama Abang kan tadi udah salim sama Papah, tapi kok Mama gak ikutan salim juga seperti biasa?"

__ADS_1


Rena dan Heru yang mendengar ucapan si bungsu hanya saling bersitatap. Rena sadar bagaimanapun untuk saat ini Heru masih menjadi suaminya.


Dengan ragu Rena menyodorkan tangan kanannya untuk meraih tangan Heru. Heru yang melihat Rena menyodorkan tangannya dengan semangat menyambut tangan Rena. Seulas senyum penuh kemenangan tergambar jelas diwajah Heru.


'Jika aku tak bisa meluluhkanmu, maka aku akan meluluhkan anak-anak,' batin Heru.


Heru pulang dengan perasaan menang, ia yakin mampu kembali meluluhkan hati Rena dengan bantuan anak-anaknya.


Setelah mengetahui Rena telah mendaftarkan gugatan cerainya, hati Heru menjadi panas. Ia kesal tapi juga tak mungkin marah pada Rena, Bagaimanapun ia tak ingin pisah dari Rena yang telah menenmaninya 11 tahun lamanya.


.


.


.


.


Flash back.


Perjuangannya untuk mendapatkan Rena pun tak semudah ia memacari mantan-mantannya dulu. Rena dikenal wanita yang cuek dan pendiam hingga sulit untuk didekati.


Segera Heru mencatat no terakhir yang ada di buku itu yang tak lain adalah milik Rena. Dan segera ia pergi setelah berhasil mencatat no Rena, Ia berlasan jika lupa membawa uang kepada pemilik konter.


Rena saat itu berkerja sebagai SPG disebuah Mall ternama. Sedangkan Heru saat itu masih bekerja sebagai tenaga keamanan di Mall itu.


Saat itu Heru terkenal sebagai Security yang sering menggoda wanita manapun yang lewat didepan matanya. Makanya jangankan berkenalan, melihat Heru saja Rena sudah muak dan selalu menghindar.


Tapi dasar si Heru buaya darat punya banyak cara untuk menjerat wanita masuk dalam perangkapnya. Rena yang awalnya tak suka atau bahkan membenci Heru, lama-lama pun menjadi luluh juga.


Setelah pendekatan yang cukup lama akhirnya mereka menikah, setelah menikah Heru tak lagi mengijinkan Rena untuk meneruskan bekerja menjadi SPG. Rasa cemburu Heru yang begitu besar membuat Rena mengalah dan menuruti keinginan lelaki yang telah mempersuntingnya itu.


Tak berselang lama mereka menikah, Heru dipecat secara tidak hormat dari pekerjaannya. Alasannya sungguh mencengangkan, ia dipecat karna nekat menggoda istri sang komandan. Jelas itu membuat komandannya murka lalu memecat Heru saat itu juga.


"Kamu si Pah, udah punya istri masih centil juga. Padahal aku ini lagi hamil besar juga, masih aja godain cewek lain!" sungut Rena saat itu yang memang sedang hamil anak pertama mereka.


"Alah dianya aja yang baper, oranh cuma bercanda dikit aja kok!" killahnya.

__ADS_1


Saat Heru tidak bekerja, Helen dan suaminya lah yang memenuhi kebutuhan rumah tangga anaknya itu. Niatnya yang ingin membantu perekonomian anaknya malah membuat Heru jadi sangat malas. Bahkan hingga Rena akhirnya kembali melahirkan anak ke 2 yang usianya sudah menginjak 3 tahun Heru tak kunjung berusaha mencari pekerjaan.


Rena sebenernya sangat tak enak hati dengan kedua mertuanya itu.


"Bu, maaf kalo kamu merepotkan Ibu dan Bapak terus. Tapi kalo dibantu begini terus Mas Heru jadi gak ada usahanya Bu, Rena ingin Mas Heru kembali kerja seperti dulu," pintanya saat itu. Ia begitu sangat hati-hati dalam kalimatnya. Takut nanti kedua mertuanya itu tersingung.


"Ren, Ibu tu cuma takut si Heru buat ulah lagi ditempat kerjanya. lagian gak apa-apa kok Ibu sama Bapak gak keberatan," Helen berkomentar.


"Tapi mau sampai kapan bu? ini sudah mau tahun ke 7 Mas Heru nganggur dari Rena hamil Arya bahkan sampe Rena punya anak ke 2. Rena cuma mau Mas Heru belajar bertanggung jawab."


"Betul juga kata Rena Bu, si Heru biar belajar bertanggung jawab sama keluarganya." Bapak membenarkan ucapan Rena. Ibu berfikir memang ada baiknya anaknya itu belajar bertanggung jawab mulai sekarang. Karna dirinya pun tak mungkin selama-lamanya menjadi tulang punggung untuk anaknya itu.


"Ya sudah nanti Ibu tanya-tanya ke saudara, mudah-mudahan ada lowongan kerja untuk Heru ya," Helen pun akhirnya menuruti kemauan Rena.


Selang seminggu Ibu datang lagi kerumah. Kali ini tanpa ditemani Bapak.


"Ru, diperusahaannya si Riko kerja itu ada lowongan. Ibu sudah bilang sama Riko, katanya besok kamu disuruh datang ke kantornya," ucap Ibu kala itu.


"Hah ...! kerja Bu, kerja apaan emangnya. Kalo gajinya kecil Heru gak mau ah," jawabnya dengan acuh sambil memainkan ponselnya.


"Kamu itu sekolah cuma lulusan SMK aja maunya gaji gede. Kerja jadi cleaning servis!"


"Apa! Ibu gak salah nyuruh Heru kerja jadi cleaning. Gak mau ah! lagian si Riko itu kan manager bisa dong jadiin aku staff kantornya?" Heru menolak mentah-mentah. Helen tau Heru akan menolak mentah-mentah. Namun, ia punya senjata untuk mengancam Heru.


"Cuma lowongan itu yang ada di kantornya. Nanti kalo kerja kamu bagus katanya dia bakalan diangkat jadi staff kok, lagian semua itu perlu perjuangan gak ada instan Ru!" Helen mencoba memberikan pengertian kepada anak kesayagannya itu.


"Gak mau ah Bu, Masa ganteng-ganteng gini kerjanya cleaning servis, Malu dong!" Sergahnya.


"Oh jadi kamu gak mau nih! ya udah kalo gitu motor kesanganmu itu Ibu tarik. Dan gak akan ada lagi jatah bulanan kamu!" ancam Helen kala itu.


"Ja-Jangan dong Bu! Itu motorkan masih baru, lagi sayang-sayangnya masa mau diambil?" rengek Heru persis anak kecil yang meminta lolipop kepada Ibunya.


"Jadi itu artinya, kamu besok mau ya dateng ke kantornya Riko?" tanya Helen, Heru tak ada pilihan lain selain mengiyakan kemauan Ibunya.


"I-Iya deh Heru mau asal si Bejo gak ditarik," Heru menjawab dengan Lesu. Bejo adalah nama panggilan kesayangan untuk motor kesayangnnya itu.


Heru yang mengetahui dirinya kerja karna Rena yang memberikan ide kepada kedua orangtuanya menjadi sangat marah.

__ADS_1


'Udah enak-enak dirumah aja duit ngalir, malah kerja jadi tukang bersih-bersih kayak gini. Awas ya kau Rena kubuat kau sengsara lahir batin, saka persis seperti aku disini sengsara kerja jadi cleaning!' batinnya, ia sangat dongkol dan tak suka dengan pekerjaan yang menurutnya menjatuhkan martabat dirinya. Dan ia menyakini semua itu karena Rena ....!


Next ....


__ADS_2