SUAMIKU PELIT

SUAMIKU PELIT
Penyamaran (28)


__ADS_3

Rena yang masih sakit hati dengan perbuatan Heru terus saja mencari cara untuk membuat perhitungan dengan suaminya itu, ia sudah melakukan pembalasan. Namun rasanya itu belum terlalu cukup dan dirasanya hanya pembukaan saja karna yang utama sudaj siap ia garap pada saatnya nanti.


Hari gajian tiba, sesuai janjinya Heru akan melakukan tes virus corona saat awal bulan, ia telah mendaftarkan dirinya untuk mengikuti rapid di puskesmas besar rekat tempat tinggalnya. Ia lebih memilih melakukan tes rapid karna harganya yang lebih terjangkau dihanding dengan swab, tentu ia tak rela uang hasil kerja kerasnya hilang begitu saja hanya untuk sebuah Tes Virus. Ia begitu yakin bahwa dirinya bersih dari Virus yang mematikan itu, dengan santai ia melangkah maju masuk kedalam sebuah ruangan ketila namanya dipanggil.


Walau dirinya merasa yakin tapi ia menjadi was-was juga menunggu hasil tes itu. 30 menit menunggu akhirnya keluarlah hasil tes itu. Kembali ia memasuki ruangan yang tadi ia masuki.


"Apa hasilnya?" tanyanya pada petugas rapid itu.


"Hasilnya negatif pak" seraya menyerahkan hasil tes serta menjelaskan. Senyum Heru mengembang, ia merasa sangat lega.


Segera ia melajukan motornya pulang kerumah, ia ingin memberitahu Rena secara langsun, bukan melalui sambungan telepon.


"Assalamualaikum, Mah... mah" Heru berteriak memanggil Rena, berharap istrinya itu dengan segera menghampiri dirinya.


"Iya pah" Rena menghampiri Heru dengan Malas, tak lupa ia gunakan masker juga sarung tangan sebagai tameng.


"Kok lama banget sih mah, dipanggilin dari tadi gak jawab"


"Iya maaf tadi begitu ngedenger kamu manggil aku, aku buru-buru pake masker sama sarung tangan ini. Tapi aku dah jawab salam kamu kok, kamunya aja yang gak denger"


"Mulai sekarang kita bisa deket-deketan lagi mah kayak dulu, Papah dah kangen sama mama nih!" wajah manisnya tak lupa ia semai dengan senyuman terindah. Namun hal itu malah membuat Rena bergidik ngeri.


"Loh kok gitu sih mah, emang mama gak kangen apa ama Papah"


"Pah, tadi kamu abis lewat mana waktu pulang tadi?" pertanyaan Rena malah membuat Heru bingung.


"Lewat jalan biasa kok mah"


"Wah jangan-jangan kamu kesambet setan iprit tadi dijalan" tuduh Rena


"lagian kamu ada apa tiba-tiba bersikap manis kayak gini, bikin mual aja!" Tanya Rena, membuat senyum Heru mengembang.

__ADS_1


"Ini mah tadi Papa udah Tes covid di puskesmas dekat sini, alhamdulillah hasilnya Negatif Mah!" Matanya berbinar penuh arti.


Rena melotot kaget tak percaya lantas buru-buru meraih alat tes itu.


"Loh kok rapid sih pah, seharusnya swab. Kan kalo diswab hasilnya lebih pasti"


"Tadinya Papa mau swab mah eh tapi ternyata mahal juga ya cuma tes begitu doang aja. Jadi papa pilih Rapid yang lebih ekonomis" Terang Heru sambil nyengir kuda.


"Oalah lagi-lagi karna uang" Sambil tepok jidat.


"Udah ya Mah, jangan jauhin Papa lagi kan papa udah Tes" Pintanya pada Rena yang tampak sedang berfikir.


"Sebenernya sih mama masih ogah, karna Papa cuma Rapid doang tapi kalo papah ajak Mama dan anak-anak jalan-jalan baru deh Mama mau" Rena mengajukan permintaan. Selama ini ia tak pernah menuntut apapun pada Heru, hingga tak pernah sekalipun ia meminta kepada Heru untuk sekedar keluar rumah Refreshing.


"Oh.... gampang itu mah ma, Besok kita jalan ketaman kota ya" dirinya sengaja mengajak Rena dan juga anak-anak ke taman dikarnakan tempat itu gratis, sehingga isi dompetnya pun bisa aman.


'Keterlaluan kamu Mas, istri sama anak cm diajak ketaman. Selingkuhnya diajak ketempat yang mewah, enak saja kamu!' batinnya kesal.


Heru nampak berfikir keras menimbang-nimbang biaya yang akan ia keluarkan jika mengajak keluarga kecilnya jalan-jalan.


"Hmmmm.... ya udah deh tapi gak lebih dari 100ribu ya jajannya"


'Huh dasar manusia yang satu ini sifat pelitnya sepertinya hanya berlaku untukku dan anak-anak saja. Tapi tak apalah biar kuterima saja dulu syarat yang ia ajukan' Batin Rena.


"Ya udah gak apa-apa kok cukup kok segitu juga yang penting bisa jalan-jalan"


Tepat dihari minggu, tiba lah waktunya Heru menunaikan janjinya pada Rena dan juga anak-anak.


"Pah, kok malah santai disini sih!. Kan kita mau jalan-jalan! jangan bilang kalo kamu lupa ya?!" Rena sudah hafal betul tabiat Heru yang pura-pura lupa atau kesakitan. agar ia tak perlu menunaikan janjinya.


"Eh emang hari ini ya Mah" Heru berkilah, Rena yang tau jika Heru mau mangkir dari janjinya mulai terlihat emosi. Dia berkacak pinggang dengan wajah menyeringai mengerikan tak ubahnya Harimau yang siap memangsa buruannya.

__ADS_1


"Eits.... sabar mah sabar...! Papa cuma becanda kok!" sambil tersenyum cengengesan.


"Emangnya mau kemana sih Mama sayang....!" Heru coba melembutkan hati Rena.


"Mau ke Mall yang deket sini itu loh Pah!."


"Apa Mah..!? ja.... jangan ke Mall itu mah. Kita ketempat lain ja ya. misalnya taman bermain atau wahana air gitu buat anak-anak" Heru memberikan pilihan.


"Gak ah pah, Mama lagi pingin ke Mall itu. Lagian kan disana ada arena bermain untuk anak-anak, udah ah Pah nanya mulu kapan jalannya. Ntar keburu sore lagi" Rena tampak melirik sekilas wajah Heru. Wajah Heru menampakkan kepanikan.


"I.... iya.. Mah Papah ambil Topi dulu sama kaca mata hitam ya" segera ia berlari masuk kekamar membongkar lemari untuk mencari barang tersebut.


"Udah dapet kaca mata sama topinya" seingatnya Heru tak pernah membeli topi apalagi kaca mata.


"Adanya peci mah sama kaca mata hitam jadul punyaku dulu sebelum nikah sama kamu" Heru menatap miris dirinya dipantuln kaca. Spontan saja itu membuat Rena tertawa terpingkal-pingkal.


"Kamu jadi mirip tukang urut keliling, tinggal ditambah tongkat aja jadi perfect!" ejek Rena sambil mengacungkan kedua ibu jarinya. Heru yang mendengar perkataan Rena pun menyadari bahwa hal yang dikatakan istrinya benar.


"Lagian kamu ngapain coba pake gituan. Nanti jalannya jangan deket-deket aku ya. Malu tau...!"


"Ish.... kamu dosa loh ngatain ke suami. Lagian aku pakenya nanti kok begitu kita sampai di Mall itu" Tentu saja hal itu Heru lakukan agar dirinya tak dikenali oleh petugas Mall yang kemarin juga ikut menertawakan dirinya.


"Suka-suka kamu aja lah Mas, Ayo anak-anak kita berangkat" mereka berempat memilih menaiki angkot menuju ke Mall itu. Karna tentu saja tak mungkin menggunakan motor dengan 4 orang. sedangkan batas maksimumnya hanya untuk 2 orang saja.


10 menit perjalanan sampailah mereka ditempat tujuan. Heru segera memakai alat penyamarannya itu. Berharap tak ada yang mengenalinya.


Beberapa orang pengunjung serta petugas pemeriksa masuk Mall memandang heran pada Heru. walau kesal karna dirinya justru menjadi pusat perhatian dengan kaca mata jadul miliknya itu. Namun ia memilih diam saja, takut-takut jika ia bertingkah hal itu justru akan membuka penyamarannya.


Kira-kira si Heru itu ketauan juga gak ya. Atau bisa masuk dan keluar Mall dengan amab tanpa dikenali siapapun. Simak kelanjutannya ya! Jangan lupa like, love, vote and komennta ya readers. Terima Kasih๐Ÿ™.


Next....

__ADS_1


__ADS_2