
"Pah, tadi udah aku jelasin. Aku juga gak tau dia tau dari mana alamat rumah ini, dan aku sama sekali gak pernah berhubungan sama dia. Bahkan kemaren saat dia datangpun aku tutup pintu rapat-rapat." Jawab Rena jujur.
"Jadi dia udah pernah kesini sebelumnya!" tanya Heru dengan mimik yang semakin marah. Rena hanya mengangguk lesu.
"Awas aja tu orang, berani datang lagi gue patahin lehernya biar nyaho. Belum tau gue dia," ancam Heru dengan angkuhnya, ia seakan amnesia bahwa tadi belum juga sempat menyentuh tangannya sudah dipiting oleh Rama sampai tak bisa berkutik.
Rena yang mendengar keangkuhan suaminya itu hanya geleng-geleng kepala. Jauh dihatinya sebenarnya masih ada cinta untuk Rama, tapi cintanya pada keluarga terutama anak-anak jauh lebih besar.
"Sudahlah Pah, Mama mau siapin anak-anak sarapan dulu. Kasian mereka mau berangkat," Rena bergegas keluar dari kamar dan menuju dapur. Namun ternyata didapur dua anaknya itu telah sarapan dengan roti.
"Anak Mama udah pada sarapan ya?" tanya Rena.
"Iya Mah, kita bikin roti sendiri. Soalnya kalau nunggu mama keluar kamar takut kesiangan." jawab si sulung Arya.
"Mah, tadi itu kan Om baik yang kemaren kasih Dede coklat. Kok diusir si Mah, padahal Om itu baik banget loh." Tanya Ani, ada raut kecewa diwajahnya.
Tak sengaja mendengar ucapan anaknya itu, Heru menjadi semakin berang dan kesal akan sosok Rama.
"Jadi orang itu juga mau nyabotase anak-anak gue, sialan tu orang!" ujar Heru sambil mengepalkan tangan.
Rena tak mampu berkata-kata lagi, ia hanya menarik nafas panjang demi melihat Heru yang seperti orang kebakaran jenggot.
********
Dilain tempat ada Rama yang sedang tersenyum puas karena telah membuat Heru panas karena kehadirannya, cinta dan obsesinya kepada Rena semakin menggebu. Ia sangat yakin bahwa Rena bersedia meninggalkan Heru untuk kembali merajut kasih dengannya.
"Liat aja Na, gak lama lagi kamu pasti akan kembali kepelukanku. Aku akan buat kamu membenci suamimu yang gak berguna itu," ucapnya sambil melempar pena yang sedang dipegangnya,
__ADS_1
"Laki-laki kayak gitu gak pantas mendampingi kamu, kamu hanya akan tersiksa bila terus bersamanya sayang," ucap Rama sambil mengelus-elus foto Rena yang sengaja ia letakkan di meja kerjanya.
"Aku akan taklukkan kamu kembali, kita akan bahagia selamanya tanpa pernah terpisah lagi," obsesinya begitu tinggi untuk bersama Rena.
Perpisahannya dengan Rena sungguh sangat menyakitkan, Rama begitu menyesali pilihan yang telah diambilnya. Kini ia bersumpah, apapun halangan yang menghadang ia akab tetap pertahankan Rena dan tak akan mau mengalah lagi dengan takdir.
Rama mengambil ponsel dalam jasnya, lalu menekan dial dan berbicara pada seseorang.
"Gimana, berhasil kan! saya tidak mau mendengar kata gagal. Kamu faham kan!" ujarnya penuh penekanan pada seseorang di ujung sambungan telepon.
"Baik Bos, saya tidak akan mengecewakan!" jawab orang itu.
"Bagus!" Rama tersenyum penuh kemenangan.
***************
"Pah, aku ini mau belanja keperluan dapur. kalau aku gak belanja trus kita makannya gimana?" tanya Rena.
"Pesen diaplikasi aja dulu lah, aku gak mau kamu ketemu si laki bajingan itu. Nanti bisa-bisa kamu dipelet sama dia." Heru benar-benar menunjukkan rasa cemburunya. Rena yang melihatnya menjadi tersenyum sendiri.
"Kamu ini mah, dibilangin sama suami malah mesem-mesem gak jelas gitu!"
"Lucu liat Papah kalo lagi cemburu, marah-marah gak jelas ih," ledek Rena.
"Aku cemburu ....! sory ya. Aku itu orangnya pede dari dulu, aku yakin aku lebih baik dari dia. Buktinya kamu milih aku kan ketimabang dia," kilah Heru.
"Masaa ...!" tanya Rena ragu, sambil mandang lekat wajah Heru.
__ADS_1
"Alah ... terserah lah!" Heru coba mengelak bahwa dirinya memang sedang merasakan cemburu yang teramat berat.
Heru malas seketika menjadi rajin, ia mengantar Rena menjemput Ani. Lalu membeli beberapa bungkus makanan untuk makan siang mereka. Sesampainya dirumah telah menunggu seorang ojek onljne didepan rumah.
Rena segera turun dari jok motor dan menghampiri Pak ojol.
"Maaf Pak, cari siapa ya? kebetulan saya yang punya rumah ini,"
"Saya mau mengantarkan pesanan untuk Ibu Rena," ucap ojol tersebut sambil menyerahkan satu kotak pizza ukuran 2 meter berikut sekorak coklat mahal berbentuk hati dengan ukuran super size.
"Mungkin Bapak salah orang, saya gak ada pesen makanan ini Pak," jawab Rena kebingungan.
"Saya kurang tau Bu, tapi semua makanan ini sudah dibayar kok dan saya hanya diminta mengantarkan kealamat ini aja. Alamatnya juga udah bener kok Bu,"
"Aduh gimana ya Pak, takutnya si Bapak salah kirim. Kasian nanti kena suspend lagi." Rena ragu menerima.
"Insya Allah enggak mbak, karna saya sudah tanyakan berkali-kali kepada pengirim dan alamatnya sudah betul,"
"Udah lah Mah, rejeki diterima aja. Mungkin dari rekan bisnismu atau temanmu yang mau kasih traktiran. Sini Pak kasih kesaya aja, makasih ya Pak." Heru segera meraih Pizza ukuran besar itu dan membawanta masuk kedalam rumah.
"Pah, kamu ini maen terima aja. Kita belum tau loh siapa pengirimnya! kalau ternyata dari Rama gimana?" Rena berharap Heru menolak lalu mengembalikan paket kiriman makanan itu. Namun dugaannya salah, Heru malah tetap santai membuka dan memakan pizza ditangannya itu.
"Halah mah, biarin aja kalo dia yang kirim. Itung-itung kita jadi irit kan gak beli makanan., lagian ini makanan mahal mubazir kalo ditolak," Ujar Heru sambil terus memasukkan pizza ke dalam mulutnya dengan lahap.
Hm ... si Heru emang dasar rakus, gak bisa nolak kalo liat makanan meskipun itu dari seterunya. Trus gimana dengan Rena ya, apakah ia juga mau memakan kiriman makanan itu?
Next ........
__ADS_1
*Jangan lupa dukung Author dengan cara like, love, rate dan tulis komen serta saran kaliam ya. Terima kasih ππ