
Heru telah siap menunggu kedatangan Rena dikamar mereka, tak sabar dirinya ingin melepas rindu sebagai sepasang suami dan istri, Ia telah meminum apa yang diberikan oleh Rudi sebagai racikan spesial untuknya.
Sementara itu, Rena telah membersihkan dan membereskan beberapa barang agar rumahnya kembali terlihat rapih, Ia pun merasakan ada perasaan aneh dalam dadanya ketika ingin membuka pintu kamarnya sendiri.
Namun saat baru saja ia hendak menyentuh hendak pintu kamarnya, ada teriakan dari putri bungsunya yang memanggil namanya.
"Mama ... Mama," anak itu memanggil Rena beberapa kali, dengan sigap iapun segera menghampiri Putrinya itu, Ia beralih pada handel pintu yang persis ada disebelah kamar Rena dan Heru, yaitu kamar anak-anak mereka.
"Iya sayang, kenapa kok bangun," Rena membelai lembut kepala Ani. Ani yang mengetahui sang Mama telah berada didekatnya refleksi memeluk dan mengunci Rena dengan memeluk erat agar tak pergi lagi dan menemaninya tidur disampingnya.
Selama tidak ada Heru, Ani memang terbiasa tidur dengan Rena, Ia selalu ingin memeluk Rena sampai ia tertidur pulas, pun dengan malam ini. Rena berniat hanya menemani putri kecilnya itu sampai dia tertidur kembali, baru ia akan pindah ke kamar mereka. Namun Rasa kantuknya tak tertahan lagi, tanpa sadar Rena pun ikut memejamkan matanya dan seketika ia tertidur pulas disamping Ani.
Heru yang menunggu dengan gusar didalam kamar menggerutu sendiri.
"Mana si Rena ya, gak nongol-nongol ngapain aja coba?!" Heru memutuskan keluar kamar untuk mencari Rena.
__ADS_1
Heru langsung menuju kedapur, dipikirnya Rena sedang disana. Namun hasilnya nihil.
"Kemana ya, kok gak ada si didapur, kamar mandi juga gak ada?" Heru nampak semakin gusar, bagaimana tidak! ramuan yang tadi ia minum kini telah menunjukkan reaksinya dan harus disalurkan sesegera mungkin.
"Jangan-jangan dia ada dikamar anak-anak," segera ia menuju kamar anak dan semakin geram ketika mengetahui Rena justru telah terlelap tidur disana.
"Ih ... pasti di sengaja tuh mau ngerjain, Baru aja rujun bukannga dibikin happy malah jadi kesel begini, argh ...!" Heru yang kesal lalu meninggalkan kamar anak mereka begitu saja tanpa menutup pintunya kembali.
"Apa gw bangunin aja ya biar pindah kekamar," Heru bertanya pada dirinya sendiri.
"Tapi kalo gak dibangunin gimana nasib si otong," Heru menepuk jidatnya sendiri. Rasa kesalnya semakin menjadi, Karena tubuhnya merasa panas, ia putuskan untuk membuka bajunya dan bertelanjang dada.
"Gila, baru sadar gue nie rumah tenyata panas banget ya," Heru sibuk mengoceh sendirian, tanpa ia sadari kalo ternyata gerahnya itu juga dikarnakan efek obat yang ia minum, aliran darahnya terasa berdenyut kencang dan panas.
"Kalau udah gini mau ngapain gue, planga plongo kayak orang bego. Handphone model gitu juga, malu makenya. Nonton TV aja lah," Heru beralih pada layar TV untuk melupakan hasratnya yanh tidak dapat ia salurkan.
__ADS_1
Semakin lama kantuknya semakin terasa, hingga ia pun terlelap tidur diatas sofa tanpa memakai baju.
******
Azan subuh sayup-sayup telah terdengar dari kejauhan, Rena terbangun dari tidurnya untuk segera menunaikan sholat subuh. Namun betapa terkejutnya ia ketika melihat sosok lelaki tanpa baju tidur di sofa ruang tamu dengan posisi tengkurap membelakanginya.
Dengan gerakan refleks Rena segera mengambil sapu dari dapur lalu memukul beberapa kali ke Heru,
Heru yang belum lama pulas kaget bukan kepalang, Ia teriak mengaduh dan meminta ampun.
"Aduh ... Ampun Mah, Papah janji gak bakal selingkuh lagi?" Teriak Heru cukup kencang untuk didengar tetangga kanan dan kiri mereka yang memang berdempetan.
Next ...
*Kira-kira Heru bakalan bener-bener berubah atau cuma bersandiwara aja ya readers? simak terus kelanjutannya ya. Jangan lupa like, love, vote and komennya. Terima kasih ππ
__ADS_1