
Hari berlalu waktu berganti, telah berbagai cara Heru tempuh untuk kembali mendapatkan hati Rena, bahkan ia menyanggupi syarat apapun yang diajukan Rena, agar wanita yang telah ia nikahi 11 tahun itu tetap berada dalam pelukannya.
"Mah, emang kamu gak kasian sama anak-anak? mereka masih kecil loh, masih butuh kasih sayang yang lengkap dari kedua orangtuanya," ucap Heru mencoba mengubah niat Rena.
"Nah itu kamu sadar mereka butuh kasih sayang kedua orangtuanya, tapi kenapa selama ini kamu gak pernah peduli sama anak-anak. Jangankan ngajak wisata, jalan-jalan keliling kampung pun gak pernah kamu lakukan untuk sekedar membuat anakmu senang, selalu kamu beralasan cape. Tapi kalo untuk mabar sama Erik kamu gak ada capenya, pernah gak kamu fikirin perasaan anak-anak kamu!" Rena meradang.
"Iya, Papah tau letak kesalahan Papah. Papah janji akan menebus semua kesalahan Papah, asal Mama mau maafin Papah ya Mah!" ucap Heru sambil memandang lekat wanita yang menggugat cerainya itu. Dipasangnya mimik muka semelas mungkin.
"Udah Mas, kamu gak usah pasang muka sok nyesel gitu deh aku gak akan luluh, paling-paling itu cuma bualan kamu aja. Ntar kalo aku udah maafin juga kamu bakalan lupa sama janji-janji kamu." Rena mendengus kesal menatap wajah Heru yang masih saja memasang mimik sendu.
"Mama gak boleh suudzon sama Papah, dosa loh Mah. Padahal Papah udah niat baik mau berubah, masa Mama gak mau kasih kesempatan?" Tak hentinya Heru membujuk Rena dengan segala ucapan manisnya.
"Udah lah Mas, mending kamu pulang sana, udah malem. Anak-anak juga udah pada tidur, aku juga mau tidur," dia sudah sangat muak sebenerya seharian ini melihat wajah Heru dirumahnya. Ya, memang hari ini Heru libur bekerja, dan jika begitu pasti ia akan kerumah untuk bermain dengan anak-anaknya seharian full, juga sekaligus untuk mengambil hati Rena.
Dengan berat hari akhirnya Heru melangkah keluar rumah lalu berpamitan dengan Rena.
"Ya udah, Papah pulang dulu ya Mah. Mamah langsung tidur ya, Assalamualaikum." Rena hanya menjawab salam Heru dan langsung menutup pintu serta menguncinya cepat, tanpa menunggu Heru pergi menjauh.
'Biasanya kamu kalo aku pergi melambaikan tangan, dan selalu menunggu aku pergi jauh dulu hingga hilang dalam pandanganmu, tapi sekarang! aku masih didepan pintu pun udah langsung kamu masuk dan menutup pintu. Malangnya nasibku ya Tuhan.' Heru merutuki sendiri nasibnya yang sial akibat perbuatannya sendiri.
*******
Tok tok tok tok tok ...
"Assalamualaikum," terdengar teriakan dari luar rumah, Rena yang saat itu sedang berada didapur bergegas menghampiri.
__ADS_1
"Walaikum salam," jawabnya seraya membukakakan pintu perlahan. Rena tak mengenali sosok tamu yang ada didepannya itu.
"Maaf Bapak cari siapa ya?" tanya Rena ramah.
"Maaf, ini rumahnya Heru bukan ya?"
"I-iya betul ini rumah Mas Heru, saya Istrinya," jawab Rena 'hmm.. sebenernya calon mantan istri sih' batinnya menolak apa yang baru saja ia lontarkan.
"Syukurlah, perkenalkan saya Yanto. Teman kerjanya Heru," ucapnya sambil mengulurkan tangan.
"Oh ya, saya Rena," membalas jabatan tangan yanto.
"Maaf sebelumnya, ada yang mau saya bicarakan serius dengan Mbak Rena, tapi kalau bisa didalam. Kalau diluar khawatir takut ada yang dengar." Pintanya. Rena awalnya ragu mengajak masuk karna yanto orang asing yang baru saja ia kenal, tapi melihat mimik wajahnya yang serius, dan sepertinya ada sesuatu yang penting. Akhirnya Rena mengijinkan masuk.
"Iya gak apa-apa Mbak,"
"Sebentar saya buatkan minum dulu ya," ia segera beranjak ke dapur untuk membuatkan secangkir teh panas untuk Pak yanto.
"Diminum Pak tehnya," sambil menyodorkan cangkir yang ia bawa, juga beberapa kue sebagai teman teh.
"Sepertinya ada yang sangat penting, sampai-sampai pak Yanto samperin kerumah," Rena memulai pembicaraan. Sebenarnya dia sudah sangat penasaran.
"Maaf sebelumnya kalo kata-kata saya ini menyinggung, tapi saya udah gak tau lagi mau mengadu kesiapa? gara-gara Heru saya berantem terus sama istri saya. Bahkan sekarang istri saya itu minggat dari rumah," Rena membelalakkan mata karena sangat terkejut.
'Apa yang kamu lakukan kali ini si Mas, bikin malu saja!' batinnya kesal.
__ADS_1
"Maksudnya Mas Heru menggoda istri Bapak gitu ya," tanya Rena meminta penjelasan.
"Bu-bukan, begini ceritanya. Udah seminggu ini Heru tinggal dirumah saya, memang saya yang menyuruhnya tinggal dirumah untuk sementara karna dia bilang belum dapet kontrakan yang pas, sebagai teman saya kasian denger curhatan dia. Kebetulan dirumah juga ada kamar kosong satu, makanya saya usulkan dia tinggal dirumah. Awalnya istri saya juga setuju, karna dipikirnya cuma satu atau dua hari saja. Itung-itung bantu teman," pria itu terdiam sejenak untuk mengatur kalimat agar apa yanh disampaikan tepat.
"Terus Pak," Rena tak sabar mendengar cerita secara keseluruhan mendesak Yanto untuk segera menyelesaikan ceritanya.
"Ya itu lah awal masalahnya, selama tinggal dirumah saya itu Heru bertindak semaunya. Cucian kotornya langsung saja ia satukan ke mesin cuci bersama dengan baju saya sekeluarga, rumah selalu kotor akibat abu rokoknya yang dibuang sembarangan. Juga bau asap. Padahal istri saya sangat anti rokok, dan saya sendiripun bukan perokok. Hmm ....!" Yanto menghela nafas sejenak sebelum meneruskan kata-katanya.
"Makan pun paling banyak, bahkan kadang saya sampe gak kebagian jatah lauk karna habis diambil Heru. Istri saya sangat marah dengan tingkah laku Heru, berkali-kali saya utarakan perihal keberatan istri saya itu kepada Heru tapi Heru malah menuduh saya teman yang gak pengertian. Saya sudah bingung gimana caranya supaya Heru gak lagi menginap dirumah saya, supaya istri saya mau pulang. Karna istri ngancem gak akan mau pulang kalo Heru masih tinggal dirumah kami,"
"Kalo Mbak Rena gak keberatan, tolong lah bujuk pada Heru agar pergi dari rumah saya, karena saya gak mau bercerai dengan istri saya," pintanya.
Rena menghembuskan nafasnya dengan kasar, ia tak menyangkan Heru malah merusak keharmonisan rumah tangga orang lain, gak aneh sih karna memang Heru sifatnya seperti Raja yang apapun harus dilayani, itu imbas dari didikan Ibunya sendiri yang selalu memanjakan dirinya.
"Saya pribadi mohon maaf atas tindakan dan sikap Mas Heru yang meresahkan Bapak dan juga istri. Saya akan segera bicara dengan Mas Heru agar dia tidak lagi merepotkan Bapak sekeluarga," rasa malu, kesak, jengkel bersatu.
"Ya sudah Mbak, itu saja yang mau saya sampaikan. Terima kasih atas bantuannya, semoga masalah Mbak Rena dengan Heru juga dapat segera menemukan jalan keluar ya," segera ia pamit dan berlalu menjauh dari rumah Rena.
Dengan nafas yang memburu diraihnya ponsel dan dengan cepat mendial no Helen sang Ibu Mertua. Ia akan membahas dan nemecahkan masalah ini bersama kedua mertuanya. Bagaimanapun mereka harus tau bagaimana kelakuan anak kesayangannya itu diluar sana selepas mereka lepas tanggung jawab dan mengusir Heru.
Next....
*Bagaimana kelanjutannya dengan Heru ya readers? apakah dia akan dimaafkan oleh Reba atau malah membuat Rena makin mantap untuk menggugat cerai dirinya. Simak terus kelanjutan kisahnya yaπ
Jangan lupa like, love, vote dan komentar kalian ya. Terima Kasih ππ
__ADS_1