
"Eh anak mama dah pulang," Rena datang dari arah belakang sambil membawa nampan yang berisi 1 cangkir teh untuk Helen, 1 cangkir kopi susu Heru dan 1 cangkir kopi hitam untuk Rudi.
"Masih inget ya Mah, kopi kesukaan Papah," Heru memandang wajah Rena tiada henti, hingga membuat Rena jadi salah tingkah dibuatnya.
"Aduh kalian ini, kek ABG yang lagi jatuh cinta aja saling sih," ledek Helen pada Heru dan Rena.
"Alah Ibu ini, maklum aja lah mereka sudah 1 bulan pisah, kangen lah pasti. Iya kan Ru, Ren." ledek Rudi, mendapat pertanyaan seperti itu Rena menjadi semakin malu, sedang Heru hanya cengengesan saja sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Begini Ren, maksud kedatangan Bapak dan Ibu kesini itu, mau berterima kasih sama kamu. Karena kamu sudah memberikan kesempatan buat Heru memperbaiki dirinya. Bapak dan Ibu sangat berterima kasih sekali lagi karena kamu telah berlapang dada memaafkan kekhilafan yang pernah Heru lakukan." Ucap Heru.
"Heru juga telah menyetujui dan menandatangani syarat damai yang kamu ajukan, ini suratnya sudah Ibu rapihkan dan Ibu kopi. Salinan nya Ibu dan Bapak simpan biar menjadi arsip kami." Ucap Helen.
"Alhamdulillah kalau Mas Heru telah bersedia menyetujui serta menjalankan apa yang saya minta," Seutas senyum menghiasi wajah Rena, senyum optimis, bahwa kelak ia bisa membangun rumah tangga yang lebih baik lagi.
"Oh ya, ada satu lagi permintaan saya kepada Mas Heru," ucap Rena.
"Ada lagi, itu aja udah banyak dan sulit," keluh Heru dengan berbisik. Ibu yang mendengar keluhan anaknya Itu seketika langsung melotot kearah Heru penuh ancaman. Dan kalau sudah begitu Heru hanya bisa tertunduk pasrah.
"Ya wes, sebutin aja apalagi permintaanmu itu, Ibu pastikan Heru akan menyetujuinya. Iya kan Ru!" Sambil menatap tajam kearah Heru yang masih saja tertunduk.
"Rena hanya minta Mas Heru tidak melarang Rena untuk bekerja dan berkarir, tidak curigaan dan tidak boleh menggunakan uang Rena untuk keperluan rumah tangga karena tugas nafkah sepenuhnya adalah tanggung jawab Mas Heru. Uang yang Rena hasilkan hanya Rena yang berhak menggunakan." Jawab Rena Tegas.
"Oalah cuma itu, Ya udah pasti setuju dong ya Ru!" lagi-lagi dengan delikan mautnya ke Heru.
"Kamu gak bisa egois gitu dong, seharusnya kita sama-sama saling bantu memenuhi kebutuhan rumah tangga kita. Kan kamu kerja juga, masa aku sendirian yang tanggung semua kebutuhan hidup kita ber4," Protes Heru. Heru merasa Rena terlalu egois.
"Gini ya Mas, Menurutku justru aku tuh menghargai kamu sebagai kepala rumah tangga yang bertanggung jawab penuh atas keluarganya tanpa campur tangan dari manapun, dan lagi juga aku pake aturan islam kok, dimana uang suami adalah milik istri dan yang istri adalah milik istri."
"Aku hanya akan menggunakan keuanganku jika memang keadaan keuangan sangat-sangat mendesak. Dan itupun harus seikhlasnya aku dan gak bisa kamu paksakan," Tandas Rena lagi.
__ADS_1
"Tapi .... kalo kamu keberatan gak apa-apa kok mas!" Seru Rena memancing jawaban dari Heru.
"Beneran gak apa-apa, ya udah kalo gitu permintaan kamu itu dibatalkan ya," tanya Heru sumringah.
"Oh ... begitu mau kamu, kalau begitu perdamaian kita batal ya!" tegas Rena.
"Loh kok begitu, tadi kan kamu yang bilang gak apa-apa. Kenapa sekarang malah bilang dibatalin!" Heru nampak bingung dengan Rena yang cepat sekali berubah pikiran.
"Dari kata-kata kamu aja, aku bisa nilai kalau kamu gak sungguh-sungguh menginginkan rujuk, kamu masih aja belum bisa merubah sifat jelek mu Mas, aku kecewa!" Rena menatap tajam pada Heru, rasa rindu yang tadi menyeruak seakan sirna seketika berganti dengan rasa jengkel pada sosok Heru.
"Augh ...!" Heru berteriak kencang karena kakinya diinjak dengan kencang oleh Helen dari bawah meja.
"Udah Ren, kamu jangan dengerin si Heru, dia pasti akan setuju kok. Iya kan Her," ditatapnya Heru lekat-lekat sambil membulatkan matanya secara sempurna hingga terlihat seperti mau copot.
'Kamu gak mau kan Ibu coret dari daftar ahli waris," bisik Helen pada Heru penuh ancaman. dijawab Heru dengan anggukan cepat.
"Nah, kamu liat sendiri kan. Heru setuju kok dengan apapun persyaratan yang kamu ajukan," ditatapnya lembut Rena sambil membelai punggung badannya.
"Iya sayang, Ibu dan Bapak siap menjadi saksi. Ya sudah, ini sudah malam. Sebaiknya Ibu dan Bapak pamit dulu ya. Kalian yang akur, jangan berantem lagi, jadikan peristiwa kemarin sebagai pelajaran yang berharga buat kalian. Semoga kalian bisa bersama dan bahagia selalu. Doa Ibu dan Bapak selalu menyertai kalian. Jaga cucu-cucu Ibu ya," petuah dan nasehat Helen berikan untuk anak dan menantunya itu.
"Terima kasih Bu," jawab Rena.
"Loh, Her. Sembakonya belum kamu turunin ya?!" Teriak Helen seketika ketika menyadari kalau sembako yang dibawanya tadi masih ada didalam mobil.
"Oh iya lupa, lagian Ibu gak nyuruh sih,"kilah Heru.
"Oalah ... bocah semprul! masa hal gini aja nunggu disuruh, inisiatif dikit kenapa sih jadi orang tuh!" geram Helen.
Heru langsung saja dengan cepat menurunkan satu demi satu sembako dari dalam mobil. Karena banyaknya sembako, Heru nampak kelelahan menurunkannya. Hingga dia pun mengeluh.
__ADS_1
"Buset dah cape juga ya, kayak kuli pasar aja gue," cerocosnya sendirian.
"Begitulah Her, cara Ibu dan Bapak mendapatkan uang untuk menghidupi kamu sampai sebesar sekarang," sindir Rudi kepada Heru, ia tau sekali bahwa Heru adalah sosok manusia yang mudah mengeluh.
"Iya ... Iya pak." Heru yang pasrah nampak berusaha keras bangkit dan kembali mengangkut beberapa karung beras serta bahan sembako lainnya.
Rena menatap takjub pada sembako yang melimpah yang Mertuanya itu berikan.
"Bu, Pak, Ini buat apa banyak banget? Apa mau buat hajatan ya Bu?" tanya Rena polos.
"lah kok nanya, ya buat kamu lah, kok hajatan sih. Ini Ibu kasih sebagai tanda terima kasih ke kamu, kalau perlu Ibu kasihkan satu toko kalau kamu mau buat usaha sekalian Ibu bakal modalin." Helen malah menawarkan usaha pada menantunya
"Nanti saja Bu, Rena pikir-pikir dulu. Makasih loh Bu sudah dibawain sembako segini banyak, kalau boleh nanti sembakonya Rena berikan sama tetangga atau orang yang membutuhkan sebagian ya Bu, biar berkah." tanya Rena pada Helen.
"Terserah, kamu mau kasih siapa aja suka-suka kamu, semua ini sudah milik kamu." Tandas Helen.
"Ya sudah Ibu dan Bapak pulang dulu, kalian selamat bermalam pertama kembali ya," goda Rudi sambil memandang penuh arti pada Hery dan Rena.
Heru hanya tersenyum malu mendengar ucapan Rudi, sementara Rena tampak biasa saja, karena ia tak menyadari maksud perkataan dari Mertuanya itu.
Sepeninggal kedua orang tua Heru. Kini di ruang tamu hanya tinggal Rena dan Heru, sedangkan Arya sudah lebih dulu masuk ke kamar untuk tidur.
"Mah, kamu belum ngantuk?" tanya Heru.
"Kenapa emang? kamu dah ngantuk duluan aja sana ke kamar, aku mau beresin ini dulu,"ujar Rena sambil menunjuk cangkir bekas minum Ibu dan Bapak tadi.
"Ya sudah kalo gitu, Papah tunggu dikamar ta Mah," Heru nampak tersenyum nakal pada Rena.
Next.....
__ADS_1
*Kira-kira gimana nih readers malam pertamanya? sukses atau gak ya? hehehe. Terua simak kelanjutan ceritanya ya. Jangan lupa like, love, Rate and komennya ya. Terima Kasih ππ»ππ