SUAMIKU PELIT

SUAMIKU PELIT
Mengancam. (13)


__ADS_3

Puas bercanda riang dengan kakeknya, Anakku terlelap sangat nyenyak malam harinya. Kulihat ponsel ditangan tak ada satupun pesan masuk dari Mas Heru untuk sekedar menanyakan anak-anak dan keberadaan kami.


Ah... aku terlalu berharap banyak padanya, atau mungkin saja memang tidak dapat signal mengingat hapeku yang belum memiliki jaringan 3G.


Terlelaplah aku bersama kedua anakku didalam kamar yang dulu kutempati sewaktu gadis, dan masih terjaga kerapihan dan kebersihannya, meskipun tidak ada yang menempati. Karna Ibu selalu membersihkannya secara berkala, 'takut jika anak tiba-tiba datang menginap dan kamar dalam keadaan kotor' itu lah alasan ibu yang membuatku semakin dihantui rasa bersalah.


Azan subuh berkumandang merdu dari Toa masjid kampung, dingin sekali pagi ini membuatku enggan bangun dari pembaringan dan menarik selimut kembali.


Tok... tok... tok.


"Ren... bangun, sholat subuh dulu" Suara Ibu membangunkan. Gegas kubuka pintu kamar lalu berjalan ke kamar mandi.


Brrr.... dingin sekali air disini, dulu aku biasa saja jika harus mandi pagi, tapi sekarang, baru saja air ini mengenai tangan, bulu kudukku langsung berdiri dibuatnya. hmmmm..... apa aku harus masak air dulu agar tak terlalu dingin. Bisa-bisa ditertawakan Ibu dan Bapak nanti!

__ADS_1


Kupaksakan diri berwudhu walau dinginnya menusuk ke pori-pori kulit ini. Setelah selesai ambil wudhu kembali ke kamar ternyata sulungku Arya sudah berangkat kemasjid dengan Bapak, leganya akhirnya ada sosok yang akan menjadi panutannya. Mas heru hampir tak pernah mengajak anak sulungku itu sholat di masjid kecuali sholat jumat saja.


Kutunaikan sholat 2 rakaat berikut sholat sunahnya, terdengar deringan suara ponsel yang kuletakkan dimeja nakas, suara deringannya cukup mengganggu konsentrasiku yanh sedang melaksanakan sholat sunnah.


Setelah sholat dan berdoa sejenak, segera kuraih ponsel itu, tapi sambungannya telah terputus. Terpanpang disana "Papa". Akhirnya ia mulai mencari keberadaanku, Bahagianya aku.


drt.... drtttt.... drttt....


Terdapat panggilan masuk lagi dari Mas Heru, Segera kuangkat dengan hati gembira.


("Walaikum salam, kemana kamu sampai pagi gini belum pulang juga heh....!!!) Langsung saja dia membentakku dengan suara keras yang membuatku menjauhkan ponsel beberapa inci dari kupingku.


("Aku dikampung") jawabku singkat dan padat, entah mengapa aku menjadi malas bicara dengannya.

__ADS_1


("Jangan bohong kamu ya, duit dari mana kamu buat pulang?! cepetan pulang kalau gak.....") dia mulai lagi mengeluarkan ancamannya, dikiranya aku ini akan tunduk seperti yang sudah-sudah. Tidak..! aku bukanlah Rena yang bodoh seperti dulu. Belum juga ia menyelesaikan kata-katanya langsung ku gertak dengan menantangnya balik.


("Kalau gak kenapa Mas?! heh.. kamu mau ancam aku?!) jawabku dengan suara meninggi, aku sudah muak dengan sikapnya yang sangat egois lagi pelitm


("Kamu udah mulai kurang ajar ya mah sama suami berani bentak-bentak!") Tak terima ia jika kini aku sudah berani berontak.


("Kamu yang buat aku seperti ini, aku msih mampu mencukupi keperluan aku dan juga anak-anak bahkan aku memiliki uang untuk pulang ke kampung, aku jenggah menghadapi manusia egois seperti kamu Mas.") Cecarku dengan berapi-api.


("Oh jadi kamu udah berani ya pergi tanpa pamit sama suami,") hem.... apa katanya tadi?! bukannya ia yang telah menyuruhku pergi. Aku kan cuma menjalankan apa yang ia suruh untuk menjaga harga diriku yang tak pernah dihargainya.


("loh bukannya kamu yang suruh aku pergi?! udah lupa kamu!? sekarang gini ya Mas, aku perlu waktu sendiri untuk memikirkan kelanjutan rumah tangga kita!. Sebaiknya kamu juga instropeksi diri, jika kamu mau merubah keegoisanmu jemput aku dan anak-anak kita perbaiki semuanya dari nol!, jika tidak, mohon maaf aku sudah tidak sanggup memghadapi kekikiranmu!") Ancamku padanya, aku memang sudah tak sanggup lagi mendampingi seorang lelaki yang sangat egois hanya memikirkan kesenangan dirinya sendiri, tanpa peduli terhadap istri dan anaknya.


Saat ia sibuk mabar dan kumpul dengan temannya, tak pernah dia fikirkan apakah anaknya sudah makan atau belum, bisa jajan apa enggak. Aku sudah tak perduli jika ia tak memikirkanku, tapi minimal ia memikirkan darah dagingnya yaitu anak-anak kami.

__ADS_1


Lelaki itu sungguh egois dan Aku akan memberi pelajaran atas keegoisannya, akan aku buktikan jika aku mampu bertahan meskipun tanpa uang sepeserpun darinya.


Next....


__ADS_2