
Sesampainya dikamar.
"Ngapain sih kamu ajak kekamar masih pagi juga, sory ya aku gak mau soalnya aku masih sakit hati kamu tinggal kemaren" cih pede sekali dia. Bahkan melihat wajahnya pun aku sudah mulai muak. Boro-boro melakukan hal lain.
"Jangan ge er kamu ya mas! aku juga ogah melayani kalo kamu masih mengedankan eegoisanmu. Aku ingin bicara masalah hutang" Tegasku.
"hey.... dosa kamu gak mau melayani suamimu bisa-bisa dilaknat kamu nanti mau!? lagian hutang apaan, sory ya aku anti ngutang!" Kilahnya, huh sombong sekali dia.
"Langsung saja ya Mas, kata bu Minah kamu belum bayar hutang yang bulan kemarin ya?. sandiwara apa lagi kamu bilangnya uangmu aku bawa smua sewaktu pulang kampung kemarin! bahkan sepeserpun aku tak bawa uangmu. Tukang bohong kamu Mas! keterlaluan!" protesku dengan mengebu dan mata yang memerah menahan marah.
"Ya itu resiko kamu, siapa suruh pergi tanpa pamit!" jawabnya tanpa rasa berdosa. Malah terkesan memancing amarahku.
"kamu amnesia ya, aku pergi sebab kamu yang suruh. Aku ini punya harga diri Mas gak bisa seenaknya kamu injek-injek aku terus menerus" bulir hangat yang susah payah kutahan akhirnya luruh juga.
__ADS_1
"Utang itupun kamu yang suruh, dan itupun untuk makan kita sekeluarga. Bukan untuk keperluanku, kenapa sih gak pernah berkurang sedikitpun keegoisanmu itu Mas. lagian selama aku dikampung gak sepeserpun kamu memberi uang, masa bayar hutang aja gak kamu lakuin. Malu aku Mas!" aku sangat muak.
"Eits.... aku bukannya gak mau kasih uang ya. Kamu yang gak minta!" ujarnya tak mau disalahkan.
"halah terserah kamu ajalah Mas, pokoknya aku gak mau tau, bayar hutangmu srkarang juga atau terpaksa aku adukan semua ini pada Ibumu" Ancamku serius.
"Ih sejak kapan kamu maen ngaduan dasar curang" sambil ngomel ia keluarkan 2 lembar uang pecahan 100rban dari dompet lusuhnya.
"Aku bukan kamu Mas, yang gak pernah jujur" kilahku, segera berlalu keluar dari kamar begitu menerima uang darinya. Namun terdengar samar-samar Mas Heru sedang ngoceh.
"Dasar perempuan mata duitan. Liat duit aja langsung ijo" ucapny dengan suara pelan. Namun masih dapat kudengar
"Bilang apa kamu Mas!" Seruku berteriak dari depan rumah.
__ADS_1
"Enggak, udah saja beli kopinya cepet" kilahnya, dengan Mata melotot memberikan ultimatum lewat tatapan aku segera beranjak kewarung bu Minah untuk membayar hutang juga mengambil belanjaanku yang tertinggal.
*****
"Bu maaf ya tadi saya pulang dulu. Lupa bawa uang, sama sekalian nih bu saya bayar hutang yang kemarin" ucapku seraya menyodorkan tiga lembar uang pecahan 100 ribuan.
"Loh neng saya kira marah saya ngomongin hutang, kaget saya tadi. Tapi neng jangan marahnya"
"enggak kok Bu, masa saya yang marah. Malahan saya gak enak jadinya telat bayar hutang. Maaf ya bu" Setelah menerima barang belanjaan dan juga beberapa lembar uang kembalian segera kulangkahkan kaki pulang.
Aku segera membuatkan satu gelas kopi untuk Mas Heru, 2 gelas susu kental manis untuk anak-anak dan satu cangkir teh manis untukku. Kami sibuk menikmati sarapan kamu tanpa suara karena mulut sibuk mengunyah pisang goreng. Sebelum akhirnya Mas Heru pamit untuk berangkat kerja kepada anak-anaknya.
Next...
__ADS_1