SUAMIKU PELIT

SUAMIKU PELIT
Melepas Rindu. (11)


__ADS_3

Cukup lama perjalanan yang kami tempuh dari rumah kami di jakarta-pusat ke rumah ibu di bogor yang memakan waktu perjalanan 4 jam lebih. Tampak si bungsu sudah tertidur pulas dalam pangkuanku, Sementara si Sulung masih saja Asik melihat ke luar jendela mobil.


Mobil pun sampai didepan gang rumahku, Kami turun disitu karna jalan selanjutnya kerumah melalui gang yang hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki saja.


"Dek, Bangun sayang. Kita sudah sampai dirumah nenek" Kucoba tepuk lembut pipi gembil si bungsu. Dengan malas ia membuka mata, tapi seketika berubah riang.


"Udah sampe ya Mah" Tanyanya


"Ia sayang itu gang rumah nenek" Ucapku sambil menunjuk kearah sebuah gang.


"Asiiiik! Ade mau ketemu Nenek sama Kakek" Riangnya sambil tak sabar menuruni mobil lalu berlari ke arah rumah yang sangat dikkenalnya


Aku segera menutup pintu mobil setelah mengeluarkan seluruh barang bawaanku lalu membayar nominal ongkos yang tertera di aplikasi, Lalu dengan tergesa mengikuti arah anakku berlari. Aku ragu apakah mereka benar-benar masuh mengingat rumah neneknya. Sedangkan terakhir kami datang saja sudah 2 tahun yang lalu.


"Nenek... Kakek...!!" Teriak kedua anakku didepan pintu rumah. Namun tak ada tanda-tanda adanya seseorang dirumah itu, Lalu kuputuskan untuk bertanya ke tetangga sebelah rumah Ibu.

__ADS_1


"Eh... Neng Rena, Atuh kemana aja udah lama gak kesini" Sapa Mak Yayah tetangga sebelah Ibu yang kupanggil dengan sebutan Emak, karna umurnya yang sudah sepuh.


"Eh iya Mak, Baru sempat pulang. Oh iya Ibu sama Bapak kemana ya. Dari tadi diketok-ketok ga ada yang keluar juga mak" tanyaku.


"Oh itu tadi si Bapak Antar Ibu ke puskesmas, Soalnya ibu udah 2 hari ini meriang gak sembuh-sembuh minum obat warung" Jelasnya. Aku jadi merasa bersalah sebagai Anak tak bisa merawat orangtuaku yang tengah sakit.


"Oh gitu mak, Ya udah Rena tunggu Ibu dan Bapak pulang diteras aja" Pamitku.


"Disini aja atuh neng, kasian anakmu itu pasti cape habis perjalanan jauh" Pintanya, tadinya aku ingin menolak karna tak mau merepotkan. Tapi melihat wajah lesu kedua anakku yang mungkin merasakan lelah, akhirnya kusetujui saja sarannya.


Cukup lama aku menunggu kepulangan Ibu dan Bapak hingga akhirnya mereka pulang juga dengan berboncengan motor butut Bapak. Segera kuhampiri keduanya.


"Loh kamu disini Ren, kenapa gak bilang kalo mau pulang?" Sapa Bapak sambil mendekap hangat kedua cucunya yang berhamburan meghampiri.


"Eh iya pak, Rena dan anak-anak rindu. Jadi mendadak kesini biar kasih kejutan" Jawabku berdusta.

__ADS_1


"Ya udah, Ayo kita masuk. Kasian cucu Nenek ini pasti dah pada cape ya" Ibu membuka pintu rumah lalu menuntun kedua cucunya itu masuk kedalam rumah. Sementara aku pamit hendak mengambil barang-barangku dirumah mak Yayah. Tak lupa kuucapkan terima kasih atas tumpangannya dan memohon maaf telah merepotkan.


*****


"Ren..... si Heru kenapa gak ikut?, Kamu gak lagi berantem kan?" Tanya Ibu saat kami sedang mengobrol diruang tengah.


"Mmm... enggak kok bu, kan Mas Heru harus kerja. Gak bisa ambil cuti, lagian Rena kesini mau nginep, mumpung anak-anak juga belajarnya online" Kilahku mencoba menutupi kebenaran. Namun nampaknya Ibu kurang yakin dengan jawabanku, itu terlihat dari wajahnya yang ragu.


"Ehmmm.... Bu, Ibu sakit apa sampai harus kepuskesmas?" Tanyaku, mengalihkan pembicaraan.


"Gak kenapa-kenapa kok, hanya saja Ibu merasakan hati Ibu akhir-akhir ini tidak enak. Seperti diliputi rasa gelisah" Jawabnya, seketika tenggorokannku terasa kering. Kuteguk air minum yang disuguhkan Ibu. Mungkinkah Ibu merasakan firasat tentangku. Batin Ibu itu terikat terhadap anaknya, dan bisa merasakan apa yang anaknya rasakan, begitupun Ibu. Meski dia tau kalo aku sedang tidak baik-baik saja. Namun ia memilih diam saja tak kememaksaku untuk menceritakan masalahku.


Sementara anak-anak tak henti-hentinya bercerita dan bercanda bersama Bapak, terlihat sangat riang sekali. Pemandangan ini kontras dengan sikap Mas Heru terhadap anak-anak, Karna sering kali jika pun libur lebih banyak dihabiskan untuk kesenangannya sendiri.


Bahagia sekaligus miris melihat kebahagiaan anak-anak, jelas terlihat bahwa mereka kekurangan kasih sayang sosok Papahnya.

__ADS_1


Sementara itu apa ya yang terjadi dengan Heru setelah menyadari bahwa dirinya benar-benar ditinggalkan istri dan anak-anaknya.


Next......


__ADS_2