SUAMIKU PELIT

SUAMIKU PELIT
Sebuah Permohonan Helen. (41)


__ADS_3

Rena datang berkunjung kerumah mertuanya itu untuk membahas masalah Heru. Baginya Heru sudah sangat kelewat batas dengan mengusik ketenangan hidup orang lain.


Sesampainya dirumah mertuanya, Helen sedang menunggunya diteras rumah langsung mendekat untuk menyambut kedatangan Rena bersama anak-anaknya.


Seperti biasa setelah berbasa-basi sebentar Helen segera menyuruh cucu-cucunya itu kelantai atas rumah, kedua anak itu sudah sangat faham dan mengerti. Mereka tak banyak protes dan menuruti saja apa yang diperintahkan oleh neneknya itu.


"Ada apa dengan Heru, Ren?" tanya Helen sesaat setelah mereka duduk di ruang tengah rumah itu.


"Mas Heru keterlaluan Bu, dia sudah mengusuk ketengan hidup orang lain!" Rena mengatur nafasnya sebentar, ia sadar semua yang akan ia sampaikan akan melukai hati Helen. Oleh karna itu Rena menimbang-nimbang kata yang lebih halus agar Helen tidak tersinggung.


"Me-mengusik gimana maksudnya. Ya Allah tu anak bertingkah lagi," Baru mendengar satu kalimat saja Helen sudah syok, tangannya menggenggam dadanya sendiri.


"I-Ibu gak apa-apa Bu, maafin Rena ya karena udah bikin Ibu jadi syok kayak gini," Rena menjadi merasa bersalah, ia ragu meneruskan kalimatnya. Takut hal yang ia tidak inginkan terjadi kepaa mertuanya itu.


"Kamu gak salah Ren, Heru yang selalu menyakiti perasaan Ibu dengan tingkahnya. Katakan pada Ibu apalagi yang kali ini Heru perbuat?!" Helen menguatkan diri dari rasa kecewa yang ia rasakan pada putra kesayangannya itu.


Rena sempat terdiam dalam ragu. Namun, Helen terus saja mendesak dirinya untuk bercerita. Akhirnya dengan perlahan Rena mulai bercerita persis seperti apa yang tadi yanto sampaikan kepada dirinya.


"Masya Allah Pak, dosa apa Ibu. Kok ya tu anak dikasih hukuma bukannya mikir dan berubah, malah bikin ulah meresahkan orang lain," Ibu nampak kalut, ia merebahkan dirinya disandaran sofa. Kepalanya mendadak pening, jantungnya memompa cepat.


Rena segera menghampiri Helen, ada rasa bersalah namun lega karena telah menyampaikan hal tersebut kepada mertuanya.


"Sudah, Ibu gak usah fikirkan Heru. Sekarang Ibu istirahat saja dikamar ya. Bapak mau ke warung dulu, ada yang beli. Nanti Bapak yang akan bicara sama Heru. Rena kamu antar Ibu kekemar ya." Perintah Rudi, segera ia menuju warung yang ada persis didepan rumahnya itu.

__ADS_1


"Baik Pak," dipapahnya tubuh Helen yang mulai limbung hingga sampai di kamar. Rena segera membaringkan tubuh Helen.


"Sebentar ya Bu, Rena buatkan Teh hangat dulu buat Ibu," segera ia beranjak kedapur untuk membuatkan teh, 5 menit kemudian ia telah kembali kekamar dengan membawa secangkir teh hangat.


"Ini Bu, diminum dulu tehnya biar Ibu agak tenang," Rena membantu Helen memegang cangkir itu dan lalu meenguknya.


"Ibu istirahat dulu ya, Rena mau keatas liat anak-anak," pamitnya. Namun, baru saja ia ingin berdiri. Tangannya ditahan oleh Ibu.


"Ren, Ibu ingin bicara sama kamu sebentar," ditatapnya wajah Rena lekat-lekat.


"I-Iya Bu, bicara saja Rena siap dengarkan," Diulasnya senyum.


"Ren, Ibu ini udah tua. Ibu gak mungkin selamanya bisa menjaga Heru. Ibu juga sudah sakit-sakitan. Ibu sangat menginginkan Heru berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Memang semua salah Ibu yang selalu memanjakan dia, bahkan Bapak sering sekali kesal saat Ibu menuruti apapun kemauan Heru. Ibu minta maaf, karena kesalahan Ibu, kamu jadi ikut menanggung beban dan malu atas sikap Heru." Helen terdiam sejenak, matanya menerawang tertuju pada langit-langit kamar. Ia begitu putus asa dengan Heru yang selalu saua berbuat ulah dan tidak bisa mandiri.


"Berdoa selalu Ibu tak pernah lupa disetiap sholat. Namun, bukankah berdoa harus dibarengi dengan usaha?" Helen malah menguntai teka-teki.


"Maksud Ibu?" Rena meminta kejelasan.


"Ren, Kamu mau ya kembali dan memafkan Heru. Ibu yakin hanya kamu yang mampu merubah Heru. Ibu akan lakukan apapun agar kamu mau kembali sama Heru, Ibu akan berikan apapun yang Ibu punya supaya kamu mau kembali kepada Heru. Cuma kamu yang bisa sabar menghadapi dia. Tolong Nak, bantu Ibu untuk menyadarkan Heru!" Pintanya pada Rena, kedua tangannya mengapit didada dengan kepala menunduk seolah memohon.


Rena tak habis fikir dengan apa yang diucapkan Helen, bagaimana mungkin ia bisa bersabar terus menerus dalam mengahadapi sikap Heru. Namun, untuk membantah pun ia tidak tega. Wajah Ibu yang tua ditambah lagi semakin memucat membuatnya terdian dalan bingung.


"Kalo kamu gak setuju dan kembali pada Heru, itu sama saja kamu menginginkan Ibu ini mati secara mendadak Ren!" berderai lah air mata Helen. Hal itu membuat Rena semakin tidak tega untuk menolak.

__ADS_1


"Baiklah Bu, nanti Rena pikirkan lagi. Sekarang Ibu istirahat dulu ya, gak usah pikirin macem-macem. Doakan saja yang terbaik untuk Rena dan juga Mas Heru. Insya Allah jika masih berjodoh kami pasti akan bersatu kembali. Rena sekalian pamit pulang ya Bu, Assalamualaikum," sebelum menutup pintu kamar Rena sempat melihat sekali lagi ke Helen. Wajahnya terkihat sedikit tersenyum penuh harap. 'Ya Tuhan, aku tak tega menghapus senyum harap dari wajahnya' batin Rena menjerit.


*********


Sepanjang perjalanan pulang Rena nampak melamun sambil menatap keluar jendela. Entah mengapa ia menyesali keputusannya mengadu kepada kedua mertuanya itu yang malah membuatnya menjadi tertekan seperti saat ini.


'Haruskah aku menerimamu kembali Mas? dengan menerimamu kembali artinya aku harus siap terluka dan kecewa, sedangkan hati ini terlalu sakit akibat penghianatan juga sikapmu selama ini,' dalam kebimbangan ia bertanya sendiri pada hatinya.


Sesampainya dirumah Rena tak mengeluarkan kata-kata apapun, ia langsung menuju kamarnya. Kepalanya sama peningnya seperti Helen.


'Kenapa Ibu egois gak memikirkan perasaanku. Kalau saja tetap bersamanya bukankah itu juga bisa membuatku mati secara perlahan,' Rena memijit pelipisnya sendiri yang mendadak pusing saat mendengar permintaan Ibu.


Si sulung Arya yang menyadari ada sesuatu yang dialami sang mama, segera menghampiri Rena di kamar.


"Mah, Mamah kenapa? Mama pusing?" tanya Arya seketika melihat Rena yang sedang memijit pelipisnya.


"Enggak kok sayang, Mama cuma agak cape, mungkin kurang istirahat. Mama mau tidur dulu ya, Arya jagain adenya dulu ya?" pinta Rena pada si sulung. Arya mengangguk lalu menutup pintu kamar itu kembali agar Rena bisa beristirahat.


'Ya Allah, bimbinglah hamba dalam mengambil keputusan," lirihnya dalan doa.


Next.....


*Rena jadi galau gaes akibat permintaan sang Ibu mertua. Gimana nih Readers diterima balik gak tu si Heru?

__ADS_1


Jangan lupa like, love, vote and komennya ya. Terima kasih πŸ’œπŸ˜‡


__ADS_2