SUAMIKU PELIT

SUAMIKU PELIT
Godaan Mabar dari Erik. (59)


__ADS_3

Rena sedang Fokus menatap layar laptop yang ada didepan matanya, belum lama ini ia memutuskan untuk membeli sebuah laptop bekas. Ini ia lakukan untuk lebih memudahkan mengatur hasil penjualan dan mempermudahkannya untuk membuat promosi semenarik mungkin.


Ia mengecek semua pelanggan setianya. Dari ratusan pembelinya, hanya satu yang sangat menyita perhatiannya akhir-akhir ini. Yaitu satu alamat yang selalu memesan aneka barang dari tokonya setiap hari, dan selalu menyelipkan bintang 5.


"Sebenernya alamat ini kayak gak asing buatku, tapi aku juga lupa ini alamat siapa ya?" Rena coba mengingat-ingat sesuatu.


Diketiknya alamat itu disebuah aplikasi pencarian alamat, disana bisa dilacak pula rumah yang ada pada alamat itu. Rena meneliti dengan seksama rumah pada alamat itu. Disana tergambar jelas bahwa rumah pada alamat itu sangatlah megah dan luas.


"Wah, gile rumahnya gede banget. Tapi masa iya orang kaya mesennya barang yang jauh dari kata brended. Bahkan harga baju-baju yang ia jualpun paling mahal berkisaran antara 200-250 ribuan saja.


"Mungkin buat orang lain kali ya, atau bisa jadi yang pesen itu pembantu atau orang yang kerja ditempat itu," Rena coba menerka-nerka sendiri.


"Eh, tapi itu belanjanya sehari bisa 2 - 3 juta, masa iya sih orang biasa yang belanja?" Rena menjadi pusing sendiri memikirkan siapa pelanggannya yang selalu memberu barang dagangannya setiap hari itu.


"Ah bodo amat deh, siapa kek yang belanja. Besok pesenannya aku mau tambahin bonus, ya itung-itung reward karena sudah jadi pelanggan setia," janji Rena.


Heru yang baru saja pulang, langsung menyapa Rena yang masih asik mengitung hasil penjualannya.


"Ngitung aja terus, sampe suami pulang dicuekin," Heru merajuk.


"Oh Papah udah pulang, semakin tepat waktu kamu ya Pah. Gini dong jadikan aku gak perlu marah-marah," Rena menggandeng mesra tangan Heru agar suaminya itu tidak merajuk lagi.


"Pah, hari ini Mama masak menu spesial kesukaan Papah loh," ucap Rena yang langsung disambut antusias oleh Heru.

__ADS_1


"Asiik Mamah lagi baik nih,"


"Maksud kamu! kemarin-marin aku gak baik gitu ya!" semprot Rena.


"Waduh keceplosan lagi, maksudnya Papah tuh Mamah udah baik, dan kali ini lagi baik banget gitu Mamah sayang," sambil menyubit pipi Rena.


"Huh, ngerayu. Gak mempan!" ujar Rena sambil menepis tangan Heru.


Mereka makan malam dalam suasana hangat penuh keceriaan, tak seperti sebelumnya. Sekarang Heru sudah banyak bercengkrama dengan kedua anaknya itu, sehingga Bapak dan anak kita menjadi sangat akrab dan dekat satu sama lainnya.


Saat selesai makan, seperti rutinitas biasanya, Heru menemani kedua anaknya itu belajar atau sekedar mengerjakan tugas rumah yang diberikan oleh guru. Tiba-tiba terdengar ketukan pintu.


Tok ... tok ...Tok ...


"Asslamaualaikum, Her." Panggil seseorang.


"Eh elu Rik, tumben lu kerumah segala. Ada perlu apa," tamu yang datang itu ternyata Erik, temannya bermain game online dulu.


"Waduh, kemana aja lu Bos. Ngilang gak nongol-nongol ditongkrongan, dicariin tuh ama anak-anak. Dah lama kan kita gak mabar, gw pikir lu sakit gak pernah keliatan lagi?" Erik langsung saya nyerocos panjang lebar.


"Sttt ... stt ... berisik lu, ngomong panjang amat kayak kereta. Ntar bini gue denger berabe!" wajah Heru seketika menegang, dilihatnya kearah dalam takut Rena mendengar.


"Kenape sih lu, romannya takut amat ama bini. Bukannya dulu elu yang ngajarin gue buat gak nurut ama bini, lah sekarang malah elu yang susis hahahaha," tawa erik membahana.

__ADS_1


"Tawa aja terus sampe puas ...! lagian gue bukan takut ama bini, cuma gue menghargai bini gue." Kilah Heru.


"Widih ... omongan lu kenapa mendadak jadi bijak begini, gegara dikerem dirumah ya ama bini lu hahahaha," sekali lagi tawa erikpun membahana.


"Hah ... tau ah, terserah lu mau ngomong apa. jadi lu kesini cuma buat ngeledekin gue aja ya," Geram Heru pada sahabatnya itu.


"Wes ... selow boss, gue cuma pengen nanya. Wa lu kenapa gak aktif? gw chat dari kemaren- maren gak pernah masuk?!" tanya Erik.


Pertanyaan Erik seketika membuat Heru jadi salah tingkah, ia tak mungkin menceritakan kebebarannya jika ia tak lagi memakai HP berbasis Android lagi. Melainkan hanya HP jadul yang hanya bisa SMS, MMS, dan telepon.


"HP gue rusak!" jawab Heru singkat, ia sengaja berbohong.


"Wah, benerin dong. Masa gitu aja lu gak mampu!" ledek Erik.


"Bukan gak mampu, tapi gue pengen ganti baru aja. Yang gue pake sekarang kurang kekinian," Heru mulai kumat lagi sombongnya.


"Ya udah buruan deh, ini mumpung ada event game online, bayarannya lumayan." Goda Erik.


"Gue gak maen game online lagi bro, udah lu balik aja gih sono gue gak minat," ucap Heru seraya mengusir Erik, itu ia lakukan karena ia tau Rena sedang menguping pembicaraan antara dirinya dan Erik.


"Ah, gak asik loh sekarang. Ya udah lah gue mau lanjut mabar aja," Erik jengkel karena usahanya untuk mengajak Heru mabar bareng gagal total.


Rena yang berada tak jauh dari pintu depan tersenyum tipis mendengar ucapan Heru barusan. Ia sudah agak yakin jika Heru memang benar-benar mau berubah.

__ADS_1


Next ....


*Hmm ...! kira-kira Heru bakal berubah beneran apa cuma bohkngan ya Readers? Jangab lupa untuk dukung Author dengan cara like, love ,vote and komen ya. Terima kasih πŸ™πŸ’œ


__ADS_2