
Hari yang ditunggu tiba, hari ini Rena dan Heru akan melangsungkan mediasi atas gugatan perceraian yang Rena ajukan. Rena berangkat dengan ditemani Mba Mia. Rena memang sengaja belum memberitahukannya kepada keluarga dan kedua orangtuanya, hanya satu sepupunya sajalah yang sering ia mintai bantuan menjaga anak-anak selagi ia ada keperluan untuk keluar rumah.
Mba Mia selaku sahabat dan juga patner kerja sangat dekat dengan Rena. ia satu-satunya orang tempat Rena berbagi cerita. Rena begitu berdebar tak menentu, matanya kurang tidur. Itu karena semalaman ia mencatat beberapa syarat yang akan ia ajukan sebagai draff perdamaian yang harus Heru setujui jika ingin gugatan cerainya ia cabut.
Ia telah sampai di pengadilan Agama. Heru dan kedua orang tuanya sudah berada disana terlebih dahulu. Segera ia menghampiri serta mencium tangan kedua mertua itu,
"Ren, kamu gak salim sama Heru?" tanya Helen, Rena pun dibuat kikuk. Ia lupa jika Heru memang masih sah sebagai suaminya, walau sedikit enggan akhirnya ia melunakkan hatinya sendiri. Ia menjabat tangan Heru lalu menciulnua sekilas.
Mereka duduk bersama di sebuah kursi panjang, menunggu giliran mereka dipanggil. Saat no gugatan perceraian yang Rena daftarkan disebut dari pengeras suara, segera ia bagkit dari duduknya diikuti oleh kedua orangtua Heru.
"Maaf yang diperbolehkan masuk ke ruangan mediasi hanya kedua belah pihak yang bersangkutan. Keluarga silahkan tunggu diluar ya Pak, Bu," cegah seorang petugas saat Helen dan Rudi ingin ikut masuk kedalam.
"Tapi Pak, saya ini Ibunya. Berhak tau dong! lagian saya gak mau kalo sampai mereka bercerai, saya ingin mendamaikan mereka," Helen masih saja keukeh ingin menerobos masuk.
"Ia Bu, itu tugas kami. Percayakan semuanya pada kami, kami akan berusaha keras untuk menyatukan serta mendamaikan kedua belah pihak dengan mencari titik temunya. Ibu doakan saja semoga semuanya berjalan dengan lancat dan sesuai dengan yang kita harapkan." Tanpa permisi lagi, petugas itu segeta menutup rapat pintu. Walaupun Helen masih saja ingin masuk.
******
Didalam ruangan terdapat meja berukuran besar dengan beberpa kursi mengitarinya. Rena dan Heru duduk dengan bersebetangan, sedangkan petugasnya berada ditengah-tengah antara mereka. Ruangan itu begitu tertutup dan kedap suara, jadi orang luar tak dapat mendengar isi pembicaraan mereka.
Sejenak suasana didalam Hening. Rena dan Heru sibuk dalam fikirannya masing-masing.
__ADS_1
"Baiklah sebelum kita mulai mediasinya, ijinkan saya pernalkan diri saya. Saya Pak Syarif," Petugas itu memperkenalkan diri. Disambut dengan Rena dan Heru yang juga memperkanalkan diri.
"Baiklah Bu Rena selaku penggugat, apa yang menyebabkan Bu Rena sampai menggungat cerai suami Ibu?"
Rena terdiam, ia bingung hendak memulaincerita dari mana?
"Dia gak ada alasan Pak, saya ini lelaki yang bertanggung jawab kok, dia aja sebagai istri yang gak pernah bersyukur," Heru menyela begitu saja.
"Maaf Pak, saya sedang bertanya dengan Ibu Rena. Bapak diam dulu!" Petugas itu memberi peringatan kepada Heru.
"Bu Rena gak usah sungkan dan malu, saya jamin apa yang Ibu ungkap, semuanya akan saya simpan sebagai rahasia." Meyakinkan Rena, dan akhirnya Renapun mempunyai keberanian serta kekuatan untuk menceritakan semua tabiat buruk Heru yang telah membuat Rena menyerah menghadapinya dan memutuskan untuk menggugat cerai lelaki yang telah memberinya 2 orang anak itu
Nasehat dan wejangan tak lupa diberikan petugas itu kepada Rena dan Heru agar mereka mau saling memafkan dan menerima kekuarangan dan kelwbihan satu sama lain.
"Dalam rumah tangga tentu akan banyak sekali gelombang yang akan kita hadapi. Bu Rena dan Pak Heru sudah merasakan sendiri kan. Goncangan itu dapat hadir bila satu sama lain tidak saling menjaga dan menghargai. Maaf Pak Heru, apapun alasan yang anda kemukakan tidak benar, yang namanya perselingkuhan tetap sebuah kesalahan apapun alasannya. Suatu hal yang wajar jika Bu Rena akhirnya meggugat cerai Pak Heru sebagai suami"
"Gak adil ini, Bapak dari tadi kayaknya ngebela Rena terus dan memojokkan saya. Kita ini kan sama-sama lelaki harusnya faham dong apa yang saya rasain. Saya tuh cuma iseng aja kok gak serius cuma cari hiburan aja. Abis liat istri kucel mulu males liatnya Pak." Petugas itu hanya tersenyum mendengar ucapan Heru yang ingin dibela oleh dirinya.
"Saya gak ada maksud membela salah satu pihak Pak, tugas saya disini hanyalah sebagai penengah atas masalah kalian. Syukur-syukur saya bisa mendamaikan, dan sebagai seorang suami kita harus juga memahami kebutuhan istri, bukan hanya tentang kebutuhan pribadi kita sendiri. Coba saja kalau keadaannya dibalik, Bu Rena bosan dengan Pak Heru dan mencari yang lain hanya sekedar iseng-iseng aja, apa Pak Heru terima?" mendengar pertanyaan itu Heru menjadi terdiam.
"Perlu diketahui wanita cantik itu butuh modal Pak, apa gak sebaiknya Bapak modalin istri Bapak untuk membeli perlengkapan make up atas sekedar baju baru untuk mempercantik penampilannya, dari pada jajanin perempuan lain yang malah bukan siapa-siapa. Atau mungkin aja dia hanya memanfaatkan Bapak sebagai ATM berjalan." Lagi-lagi Heru hanya menunduk.
__ADS_1
'Bener juga sih selama ini si Hana kalo jalan selalu minta ini lah, itu lah. Kalo aku bilang lagi gak ada duit dia gak mau jalan. Boro-boro jalan ketemu aja melengos. Tapi kalo ada duit selalu dia berusaha baik-baikin. Ujung-ujungnya ngajak ke Mall minta baju lah, lipstik lah, sendal lah akh ... pokoknya yang nguras dompet. Sialan klo emang bener gue cuma dianggap ATM berjalan sama si Hanna,' batin Heru kesal mengingat semuanya.
"Bu Rena, walaupun sekesal apapun coba lah kenang masa-masa indah dan manis kalian yang tidak bisa dilupakan. Anak-anak kalian butuh sosok orang tua yang lengkap untuk menjaga dan membimbing mereka. Menjaga dan mengurus anak bukan tugas istri saja. Melainkan tugas berdua, cobalah saling menekan egois kalian untuk mempertahankan pernikahan yang sudah berjalan 10 tahun ini,"
"Saya sih masih sayang sama istri saya Pak, saya juga sayang sama anak-anak saya. Itu sebabnya saya tidak mau bercerai," ungkap Heru.
"Baiklah Bu Rena bersediakah memafkan dan kembali menerima Pak Heru sebagai suami Ibu?" tanya petugas, Rena hanya menunduk.
"Saya bersedia mencabut gugatan perceraian asal syarat-syarat yang saya ajukan disetujui oleh tergugat," kali ini Rena berucap sambil melihay Heru.
"Memang apa sih yang Mamah minta dari Papah, Papah pasti setuju kok asal kita gak jadi pisah Mah, juga demi anak-anak." Lagi-lagi Heru mengeluarkan bualannya.
"Ini kamu baca sendiri aja, aku sudah kasih materai diatasnya dan jika kamu setuju tolong tanda tangani. Dan dengan menandatangani itu semua berarti kamu setuju semua persyaratan yang aku ajukan tanpa kecuali. Dan jika sewaktu-waktu kamu mengingkari janji yang sudah kita sepakati maka sama saja artinya kamu menginginkan perceraikan. Dan aku akan segera mengajukan perceraian, dan jangan harap aku mau kembali lagi." Tegas Rena.
Heru meraih selembar kertas yang berisi syaray dari Rena jika ingin gugatannya dicabut. Heru membaca satu demi satu kalimat yang tertulis di sana. Matanya tak berhenti membelalak serya mulut yang membulat sempurna.
Kira-kira apa ya isi syarat yang diajukan Rena hingga membuat Heru syok dibuatnya. Hehehe makanya Heru jangan berani bermain api, terbakar sendiri kan jadinya.
Next....
*Jangan lupa like, love, vote and komennyabya readers. Terima kasih π
__ADS_1