SUAMIKU PELIT

SUAMIKU PELIT
Tak Termaafkan lagi. (71)


__ADS_3

"Jawab yang JUJUR Mas!" tanya Rena dengan sedikit meninggikan volume suaranya.


Heru mendadak menjadi pucat pasi, berusaha tetap biasa saja didepan Rena, walau kenyataannya keringat dingin telah mulai mengucur deras didahinya.


"Kamu gak denger ya aku lagi nanya?" Rena menaikkan volume suaranya lagi.


Heru menarik nafas panjang, mengatur sedemikian rupa agar tak gugup. Dengan langkah ragu ia mulai mendekati Rena yang sedang duduk di sofa.


Heru menghampiri Rena dengan mengulas senyum palsu nya semanis mungkin, disentuhnya kepala Rena dengan telapak tangan kanannya sambil berkata.


"Mah, kamu gak liat nih muka Papa cape loh. gak kasian sama Papa?" bujuknya sembari tersenyum selebar mungkin.


"Justru aku kasian sama kamu Mas, mau sampai kapan kamu bisa hidup terus-terusan menjadi seorang pembohong?!" tanya Rena dengan lugas, kali ini sambil ditatapnya wajah Heru dengan tatapan yg tajam.

__ADS_1


Heru hanya mampu tertunduk dan sibuk berkutat dalam fikiran nya sendiri


'sialan! jangan-jangan ada yang ngasih tau Rena tentang gue tadi siang?!' sungut nya dalam hati.


"Kalo diajak ngomong tuh jawab, jangan muter-muter aja dari tadi jawaban kamu! aku ini bukan Rena yang dulu, yang mudah kamu bodohi Mas!" Rena berusaha menahan diri dengan menahan volume suaranya agar tidak terbawa emosi dan semakin meninggi, bagaimanapun ia tak ingin anak-anaknya mendengar keributan kedua orangtuanya.


"Ya terserah kamu lah kalo gak percaya, percuma juga aku jelasin!" Heru mencoba menggertak balik Rena. Heru tak lagi mau menggubris Rena ia meninggalkan Rena begitu saja.


"Baik kalo kamu memang sudah tidak bisa diajak bicara baik-baik, besok aku akan kembali mendaftarkan gugatan cerai kita!" ungkap Rena penuh kesungguhan.


"Apa kamu bilang cerai!! Enteng banget kamu ta dikit-dikit cerai, dikit-dikit minta pisah. Kamu pikir aku takut heh!" Heru semakin hilang akal dan tenggelam dalam keangkuhannya.


"Aku harap kamu tidak amnesia tentang janji yang telah kita sepakati bersama saat rujuk kemarin?!"

__ADS_1


"Persetan tentang janji-janji, aku ini lelaki masa diduduki perempuan kayak kamu!" Heru meininggikan volume suaranya.


"Aku sudah berusaha bicara baik-baik ya Mas. tapi rupanya kamu memang gak bisa dibaikin. Oke saat nanti aku ajukan gugatan cerai maka gak akan ada lagi kesempatan ke 3 buat kamu memperbaiki semua, habis kesabaranku menghadapi kebobrokannya Mas. Diperbaiki tidak mau ya sudah biarlah kamu rusak dirimu sendiri, aku sudah tak perduli." Rena bangun dati duduknya dan masuk ke kamar anak-anak.


"Perempuan lemah dasar, bisanya nganc terus. dikira aku bakalan nurut apa?!" dengan kesal Ia masuk kedalam kamar lalu menutup pintunya dengan keras.


Dalam pembaringan, Heru tak sedikitpun bisa memejamkan matanya. Ia teringat kembali ucapan Ibunya yang mengancamnya akan mencoret dalam daftar hal waris bila berulah lagi.


'Ah sialan, kalo gue cerai ama si Rena. Ntar gue jd gembel gak bakalan dapet warisan!' batin Heru.


'Ah tapi Ibu mana tega ama gue, kemarin aja gue susah Ibu diem-diem kirim bantuan lwt temen. Padahal gue tau banget itu dari Ibu!'


'Ahh ... Sabodo amat lah, lagian bukannya bagus ya kalo cerai dari Rena, itu artinya gue bisa pdkt sama Laras yang manis' Heru senyum-senyum sendiri membayangkan dirinya akan bersanding dengan laras, sungguh ia telah terbuai dalam bujuk rayu syetan yang menyesatkan.

__ADS_1


Next ....


Mohon maaf buat para readers ya nunggu up nya lama πŸ™πŸΌπŸ™πŸΌπŸ™πŸΌ. Maafkan penulis abal-abal yang baperan ini ya πŸ™πŸΌπŸ™πŸΌπŸ™πŸΌπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


__ADS_2