SUAMIKU PELIT

SUAMIKU PELIT
Berubah (22)


__ADS_3

Pagi ini Mas Heru nampak lebih segar dari sebelumnya, apa mungkin karna telah kuberi jatahnya malam tadi. Sebelum berangkatpun ia menyodorkan selembar uang 50 ribuan kepadaku. Dalam hati aku bahagia, mudah-mudahan ia sudah berubah.


"Mah, papah jalan dulu ya" pamitnya, aku pun segera meraih tangan kanannya untuk mencium punggung tangannya. Disusul dengan anak-anak dan mereka mendapat kecupan masing-masing dikening, Nampak anak-anak agak aneh. Namun tetap menerima sikap manis dari papanya itu dengan senang hati.


"Mamah kenapa ngeliatin kayak gitu, pengen juga ya papa kecup sini" aku yang sedari tadi memperhatikan tingkah janggalnya seketika membulatkan mata mendengar ucapannya.


"Kamu baik-baik aja kan?" tanyaku seraya menempelkan punggung tangan di kening Mas Heru.


"Kamu abis dengerin ceramah dimana Mas kemarin?" tanyaku lagi.


"ish... mama nih, orang baik malah dicurigain" ujarnya sebal.


"Iya iya, maafin mama. udah sana berangkat, nanti telat loh" ingatku, ia pun gegas menyalakan mesin motor.


kedua anakku itu sangat bahagia mendapatkan perlakuan yang manis dari papanya.


"udah yu kita masuk, hari ini kalian udah mulai belajar disekolah kan ya secara bergilir. dan hari ini jatahnya Mas Arya yang sekolah" aku menuntun kedua anakku masuk kedalam rumah. lalu membantu anak sulungku bersiap ke sekolah.


Sebelum berangkat sekolah, tak lupa kuberi uang jajan untuknya.

__ADS_1


"nih uang jajannya" kusodorkan selembar uang 5 ribuan.


"kok 5 ribu mah" tatapnya bingung, karna biasanya untuk uang jajan hanya kuberi 3 ribu saja untuk anakku yang sudah kelas 5. sering anakku itu diejek karna uang jajannya yang sedikit. Beruntung anak sulungku bukanlah tipe anak yang suka minder. Dia mengacuhkan saja ejekan itu. karna ia faham keadaan uang belanjaku yang sangat minim diberikan Mas Heru.


"Iya, karna anak mama ini udah jadi anak yang baik. Mulai sekarang uang jajannya naik jadi 5 ribu" kulihat binar bahagia dimatanya.


"Asiiik uang jajannya naik, makasih ya mah. Aku berangkat dulu, Assalamualaikum" ia pamit berangkat sambil melompat kegirangan.


'Terima kasih tuhan, kau ijinkan aku memberikan kebahagian kecil untuk anaku' batinku.


Aku meneruskan pekerjaan rumah seperti biasanya. Aku memutuskan menunggu anakku pulang sekolah lebih dulu baru aku akan berangkat ke rumah mba Mia, meneruskan pekerjaanku yang kemarin belum terselesaikan.


Selesai beberes, ku bergegas ke tukang sayur yang biasa mangkal didepan gang rumah.


"ehmmmm..... kangkung mulu mang, lemesss ah" kilahku.


"Lagi kepengen masakin kesukaan anak-anak mang. Mau ayamnya sekilo ya mang" pintaku. Namun si tukang sayur itu menatap tak percaya kepadaku.


"Cius neng sekilo" tanyanya meminta kejelasan dari kata-kataku.

__ADS_1


"Iya mang cius, napa si emang? romannya kaga percaya amat dah"


"eh gak gitu neng, nanya doang masa marah si ah neng rena" Segera ia mengambil satu ekor ayam yang sudah ditimbangnya dengan berat yang aku minta, lalu membungkusnya.


Kusodorkan selembar uang 50ribu yang tad pagi diberikan oleh Mas Heru. Dan mang korim mengambalikan 15 ribu ketanganku.


"Makasih ya neng" senyumnya kali ini lebih mengembang dari biasanya.


Hari ini aku akan memasak makanan spesial kesukaan seluruh keluarga kecilku. Ayam Bakar mentega sangat jarang kusajikan. kadang bisa 3 bulan sekali. atau jika sedang beruntung sebulan sekali aku bisa membeli ayam dari uang yang kusisihkan.


Gegas kuolah menu makanan kami hari ini. Asap dari ayam bakar menguar keluar dan sebagian mengisi ke setiap sudut rumah.


"Mah, wanginya kayak ayam bakar nie?" si bungsu berjalan menghampiri sambil hidungjya mengendus aroma masakan.


"Iya sayang, kesukaan ade juga kan?"


"Asikk, ade mau makan mah" semangat ia menyodorkan sebuah piring, kuberikan ia sepotong paha Ayam bakar kesukaanya. Ia pun menerima dengan suka cita. sekejap ayam itupun telah habis dan hanya menyisakan tulang-tulangnya saja. Aku tersenyum puas, dan lagi-lagi mengucap syukur.


'Alhamdulillah ya Allah atas rejeki yang telah kau berikan kepada kami' gumamku nyaris tak bersuara.

__ADS_1


Next...


Terima kasih para pembaca setia. jika ada kekurangan dalam penulisan jangan ragu tulis kritik daj sarannya ya. jangan lupa tekan like and love. Terima kasih.


__ADS_2