
Makan malam telah ia sediakan, Rena hanya tinggal memasak nasi saja. Lauknya yaitu ayam kentucky yang tadi Rena beli.
"Wah, makan enak nih." Seru Heru yang menghampiri karena mencium aroma ayam goreng yang begitu kuat.
"Iya, tadi aku dapet rejeki. Panggil anak-anak gih Pah," perintah Rena.
"Gak usah dipanggilin lah Mah, entar juga mereka nyamperin. Papah udah laper nih," elak Heru.
"Papah! mau panggilin anak-anak dulu, atau gak usah makan sekalian!" ancam Rena seraya menggebrak meja.
"I ... iya Mah, Papah panggilin anak-anak dulu ya," segera Heru menghampiri kedua anaknya yang sedang asik menonton TV.
"Abang, dede. Ayo makan, Papah udah laper nih!" Panggil Heru. Tanpa menunggu anak-anaknya, Heru kembali lagi ke meja makan.
"Mana anak-anak Pah?" tanya Rena yang heran karena Heru kembali tanpa anak-anak.
"Tadi udah Papah panggilin Mah, mereka aja yang gak mau dengerin," Heru berkilah.
"Kamu ya Pah, disuruh panggilin anak-anak aja ga becus!" Rena yang jengkel, lantas memanggil sendiri anak-anaknya.
******
Mereka sedang bersantap makan dengan lahapnya. Namun tidak dengan Rena, ia banyak melamun, sampai ia terlupa nasi yang masih panas dipiringnya dipegang dengan tangan.
"Augh ... panas!" Rena histeris.
"Kamu sih, bengong mulu dari tadi. Mikirin apaan sih?! sampe gak fokus gitu!" tanya Heru mulai menaruh curiga.
"Eng ... gak mikirin apa-apa kok. Ayo cepet makan," Rena mengalihkan pertanyaan Heru.
Selesai makan, Rena membereskan piring bekas makan mereka. Yang lain sudah langsung ke ruang depan menonton TV.
'Udah Ren, stop jangan pikirin lagi. Lo harus fokus didunia nyata lo,' serunya dalam hati seraya menguatkan hatinya. Rena mengalihkan fikirannya dengan fokus ke layar ponsel, sudah ada beberapa pesanan yang masuk.
__ADS_1
"Alhamdulillah, beberapa hari ini daganganku mendadak banyak yang borong. Tapi ... kenapa alamat ini kayaknya gak asing ya buatku! Akh ... sudahlah yang penting daganganku laris.
Rena membuka usahanya secara online di beberapa aplikasi belanja online ternama, ia kembali mempromosikan tokonya dengan memanfaatkan aplikasi FB, Wa sampai instagram. Agar banyak yang tau tokonya. Rena memberi nama toko online shop dengan namanya sendiri "Rena Shop".
Hari berlalu, bulan berganti. Heru terlihat menunjukkan sedikit perubahan. Sementara Rena masih sedikit mengalah dengan sikap egois Heru, Ia faham sekali, jika merubah watak seseorang itu tak semudah membalikkan telapak tangan.
Semakin hari toko online shopnya semakin banyak peminat, tak kurang dari 50 paket dikirim, Rena memanfaatkan teras rumahnya dengan membangun sebuah tempat untuk menampung barang-barang dagangannya, 'itung-itung menghemat, daripada harus sewa toko atau ruko.' fikirnya saat itu.
Namun ternyata, kesibukannya itu membuat Heru menjadi risih dan cemburu, ia cemburu dengan penghasilan Ren yang jauh diatas dirinya. Meskipun Rena tak pernah memberitahu berapa total pemasukan peeharinya. Namun Heru selalu curi-curi pandang saat Rena sedang mengecek jumlah tabungannya menggunakan aplikasi via Hp.
"Pah, kamu kan lagi libur. Bantu aku paking barang nih, hari ini juga harus dikirim. Biar pelanggan ga kecewa.
"Iya Mah ... " Heru membantu membungkus beberapa pesanan.
"Mah, kayaknya ini kebanyakan orderan dari alamat yang sama deh. Kenapa gak dipaking sekalian." Usul Heru.
"Gak bisa Pah, kan no orderannya beda. Makanya Pah, belajar bisnis online. Biar tau cara kerjanya,"
"Kayaknya aku butuh karyawab deh Pah, buat bantu-bantu paking. Kewalahan juga setiap hari nanganin orderan sendirian."
"Terserah ...!" jawab Heru datar.
"Kamu itu Pah, jadi suami kenapa sih gak bisa diajak diskusi, bantuin mikir kek gimana caranya bisnisku biar semakin berkembang," Rena jengkel pada Heru yang selalu saja tak bisa diajak diskusi. Malas berdebat akhirnya Rena memutuskan fokus pada paket yang akan ia kirim.
"Alhamdulillah, udah kelar juga akhirnya. Sekarang tinggal nungguin kurir dateng ambil pesanan."
Tiba-tiba masuk notif pesan singkat dari sahabat lamanya.
("Ren, pa kabar?") sapa Alda.
("Baik Al, ada apa nih tumben lo chat gue") balas Rena.
("Gue ada berita penting buat lu!") balas Alda.
__ADS_1
("Berita apaan! jangan bilang lu mau ajak gue gibah ya?!")
("Ya elah, lu suudzon mulu sih bawaannya ama gue, cius nih.") Balas Alda, 'tumben pake siriusan segala' batin Rena.
("Ya udah si ngomong aja,") timpal Rena.
("Gue kemaren ketemu si Rama, dan OMG dia tuh sekarang makin ganteng aja Ren. Gue ngeliatnya aja rasa mau meleleh,") membaca balasan dari sahabat kentalnya itu, kontan Rena diam seketika. Tangannya mendadak gemetar.
Pesan itu tak lagi ia balas, tapi langsung ia hubungi Alda.
("Cie ... yang masih ada Rasa, kepo banget sampe langsung telepon gue,") ledek Alda sesaat setelah menerima panggilan Rena. Rena yang mendapat ledekan itu menjadi salah tingkah sendiri, secara tak sadar ia menyesali sikapnya itu.
("Idih siapa yang kepo, gue cuma mau mastiin kalo yang lo omongin itu beneran. Soalnya yang gue tau dia udah menetap dikalimantan sama keluarga barunya!")
("Cius gue, kalau gak percaya gue kemaren sempet selfie ama dia. Ntar gw kirimin fotonya ke elo deh,")
("Gak usah, gak perlu, gak penting juga,") sergah Rena, walau nun jauh di dalam relung hatinya masih tersimpan setitik rasa yang dulu pernah disia-siakan, ada rindu didalam sana yang coba Rena acuhkan.
("Yakin lu, gak nyesel, dia udah duda loh,") ledek Alda pada sahabatnya itu.
("Gak ada urusan lah dia mau duda kek atau apalah. Ya udah deh, aku mau lanjut masak nih,") kilah Rena,
("Ni kalo boleh saran si ya Ren, dari pada lu sama si Heru yang dablek plus pelit, mending lu balikan sama Rama, dia udah tajir melintir, baik dan yang paling penting kayaknya dia masih nyimpen rasa deh sama lu, soalnya dia sempet nanyain kabar lu ke gue,")
("Udah-udah, makin ngawur aja lo yah. Biar begitu juga dia laki gue tau! udah ya bye Assalamualaikum,") klik, langsung Rena putus sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari sahabatnya.
Rena tak sanggup lagi menahan gemuruh dihatinya yang tiba-tiba saja datang merebak memenuhi sanubarinya. Ia terkenang akan cintanya dulu yang teramat besar pada seseorang. Namun hanya karena derajat sosial dirinya dicampakkan dan disia-siakan.
'Aku gak boleh begini, aku harus fokus pada keluargaku. Dia hanyalah masa lalu yang harus aku lupakan selamanya,' batinnya, walau sebenarnya sangat sulit melupakan sosok itu dalam hidupnya. Seolah telah terpatri terlalu dalam disanubarinya hingga tak mudah hilang.
Next ....
*Wah Rena bakal terbawa perasaan gak ya readers? Jangan lupa like, love, vote and komen kalian ya. Terima kasih ππ
__ADS_1