SUAMIKU PELIT

SUAMIKU PELIT
Memdaftarkan Gugatan. (38)


__ADS_3

"Ren .... Aku mohon .....!" Kini Heru bersujud di kaki Rena memohon maaf, hilanglah keangkuhan dirinya yang sedari tadi ia tunjukkan. Kini harga dirinya dia injak-injak sendiri. Ia tak peduli lagi, ia seperti sudah kehilangan malu, karena ia baru menyadari betapa ia sangat membutuhkan Rena dalam hidupnya. Selama ini Rena lah yang selalu mengerti akan dirinya.


.


.


.


Rena yang sudah terlanjur kecewa dan marah tak menggubris sikap Heru yang sedang bersujud. Ia malah menghindari lelaki itu dengan berdiri lalu pergi menjauh.


"Bu, Pak. sudah sore, Rena sama anak-anak pamit pulang dulu ya," tanpa menunggu jawaban ia gegas menghampiri kedua anaknya di lantai atas yang sedang asik bermain. ia bawa anaknya turun lalu pergi dari rumah itu. Rena sudah sangat muak berlama-lama melihat wajah Heru yang sedang memelas.


'Dari kemarin kemana aja kamu Mas, angkuhnya bukan main. Ngeremehin aku juga, kali ini aku gak mau mengalah lagi dengan kamu. Akan aku buktikan siapa yang terpuruk nanti. Aku atau Kamu ....!' batinnya berbisik lirih.


"Mah, kenapa kita gak boleh bawa mainannya?" tanya Ani yang kecewa tak bisa membawa pulang mainannya itu.


"Nanti Mama beliin yang lebih bagus dari itu ya, Ani dan Arya doain Mama ya biar dagangan Mama laris. Nanti kita bisa apa aja yang kalian mau!" hibur Rena.


"Beneran Mah?! Hore ..." Nampak si bungsu sangat bahagia. Namun, lain dengan Arya. Wajah anak sulungnya itu nampak datar-datar saja.


*****


Sesampainua dirumah Rena segera membaringkan tubuhnya di pembaringan. Ia merasa sangat lelah secara jiwa dan raga. Sesungguhnya ia ingin sekali menyelamatkan biduk pernikahannya yang sudah mereka rajut selama 10 tahun lebih. Namun, apa mau dikata. Takdir sudah menemukan jalannya, selama ini ia sudah berusaha keras melawan kepiluan hati demi mempertahankan mahligai rumah tangganya. Tak putus harapannya agar Heru dapat berubah menjadi lebih baik lagi.


Namun, harapannya malah berbuah kepedihan. Kesetiaan dan kesabaran yang selama ini ia pupuk kini hancur berkeping-keping. Diinjak-injak oleh peghianatan Heru. Ketegaran yang sedari tadi ia perlihatkan luluh juga. Ia menagis meratapi kisah hidupnya yang pilu, tak dapat ia bagi pedih hatinya kepada siapapun. karena memang begitulah Rena, si penyembunyi perasaan.


Ia nampak selalu menyembunyikan luka hatinya dengan senyuman, tanpa siapapun yang tau. Dilihatnya cincin yang melingkar dijari manisnya. Cincin yang dulu Heru sematkan kepada dirinya sebagai tanpa pengukuhan cinta, Dilepasnya cincin itu, terukir tanggal pernikahan mereka 19 April 2012. Tanpa ia sadari besok tepat di 11 tahun pernikahan mereka ia akan mendaftarkan gugatan cerainya pada Heru.


'Hm ....! Selamat tinggal rasa sakit. Kini aku akan tata hidupnya dari awal lagi untuk lebih bahagia bersama anak-anak,' bisiknya lirih sembari menaruh cincin itu ke dalam kotak cincin berwarna merah.


******


Berkas yang diperlukan sudah ia siapkan dibdalam sebuah map biru. Kini ia tinggal menguatkan langkah kakinya menuju Pengadilan Agama.


Anak-anak ia titipkan pada sepupunya yang sengaja ia undang datang kerumah untuk menjaga dan menemani anak-anak selagi ia sibuk mengurus segala keperluan gugatan cerainya.


"Kak, kakak yakin mau ngelakuin ini?" tanya Sita pada Kaka sepupunya itu. Sita baru menginjak usia 21 tahun dan belum menikah, tapi ia begitu dewasa dalam pemikiran maupun sikap.


"Insya Allah yakin, doain ya semoga semuanya dipermudah,"

__ADS_1


"Aamiin ....!" sita mengamini doa Rena.


*********


Sesampainya di Pengadilan Agama ternyata sudah berderet antrian orang-orang dengan aneka macam keperluannya.


"Ya Tuhan, antri banget kayak gini. Apa semuanya ingin gugat cerai juga?!" spontan saja ia terkagum-kagum dengan banyaknya deretan manusia yang sedang antri sambil memegang kertas nomor.


"Jangan kaget Mba, jaman lagi susah gini. Banyak laki yang kena PHK dan akhirnya gak bisa nafkahin keluarga, jadinya cekcok mulu ama istrinya. Jadinya cerai deh, kek gue hehehehe," Celetukan seorang wanita yang mendengar ucapan Rena barusan.


"Owh ... gitu ya," Rena hanya ber 'o' ria


"Mbaknya sendiri mau ngapain, gugat cerai juga?!" tanyanya lagi. Rena yang ditanya demikian jadi malu sendiri. Akhirnya ia hanya mampu menjawabnya dengan anggukan.


"Gak apa-apa Mbak, gak usah malu." Sembari tersenyum.


"Oh iya kenalin gue Asti," ucapnya sambil mengulurkan tangan untuk berjabatan.


"Saya Rena," timpal Rena menyambut uluran tangan Asti.


'Sok SKSD banget ni orang? tapi gak apa-apa lah itung-itung jadi ada temen ngobrol disini." Bisik batin rena.


'ih, nie orang keponya ngalahin host gosip,' batin Rena. Sungguh ia merasa sangat risih dengan pertanyaan yanh diajukan teman barunya itu.


Rena enggan menjawab, tapi karna melihat lawan bicaranya itu masih menunggu jawabanya, mau tak mau ia pun akhirnya menjawab.


"Enggak kok mba," jawabnya sesingkat mungkin.


"Oh pasti karna pelakor ya. Emang jaman sekarang mah lagi susah, jadi tu cewek gatel menghalalkan segala cara. Laki yang udah punya istripun diembat. Yang penting ada fulusnya. Sabar ya!" tukas Asti dengan menepuk punggung Rena.


'Wih .... nie orang jangan-jangan cenayang yak,' Batin Rena.


Rena hanya menanggapi ucapan teman barunya yang comel itu dengan senyuman.


Waktu berjalan sudah satu jam. Namun, deretan antrian masih sangat panjang, Rena tak menyangka perjuangannya untuk mendaftarkan gugatan cerai sedemikian susahnya.


"Kapan selesainya kalo begini. udah satu jam tapi cuma beberapa orang doang yang masuk," ungkap Rena seraya menepuk keningnya sendiri.


"Lo jangan aneh, antrian paling depan tuh udah dari jam 4 pagi, dia dateng ambil no antrian." Ujar Asti enteng.

__ADS_1


"Whatt ...? jam 4 pagi ngapain tuh. Astaga trus aku kapan dapet gilirannya ya. Mana kebagian no 117 lagi," keluh Rena sambil menatap pilu no antrian yang ada ditangannya.


"Ya sabar aja. Tapi gue saranin mending kita makan baso aja dulu yuk. Dari pada pingsan nunggu lama disini kelaparan. Soalnya gw juga no 101, gak jauh lah dari lu. paling entar abis zohor dah baru dipanggil," ajak Asti.


"Apa ....! Abis zuhur gak salah kamu?!" Rena hampir pingsan demi mendengar apa yang barusan Asti katakan.


"Cius, yuk ah cus kang bakso," ajaknya, Rena yang tangannya ditarik dengan terpaksa mengikuti ajakan Asti.


'Baru kenal aja udah kayak orang yang temenan 10 tahun. Maen seret-seret aja lagi,' batin Rena. Ia keki sendiri mendapati orang yang sangat ajaib didepan matanya.


**********


Makan Bakso selesai, Azan zuhur pun telah berkumandang. Merekapun beralih ke Masjid terdekat untuk sejenak melaksanakan Rukun islam yang ke 2.


Setelah selesai mereka kembali masuk ke kepelataran kantor pengadilan Agama.


"Wah dikit lagi nih gue dipanggil," seru Asti.


"Oh ya kita tukeran no Whatup yuk, biar bisa saling kontek dan silaturahmi." Ajak Asti. tanpa menunggu persetujuan Rena ia pun segera mengeluarkan ponselnya untuk mencatat no Rena.


Rena adalah orang yang sangat tertutup. Namun, entah mengapa dengan Asti ia merasa nyaman dan percaya. Tak lama dari selesainya mereka bertukar No. No antrian Astipun dipanggil, dengan langkah tergesa Asti segera menghampiri petugas dan berlalu meninggalkan Rena.


Tepat di jam 2.00 siang no antrian Rena pun dipanggil. Ia begitu bahagia, bahagianya mengalahkan pegawai saat menerima THR.


"Sejumlah pertanyaan dari petugas dijawab Rena dengan lancar. Namun saat ditanya perihal dirinya sampai mengajukan gugatan cerai. Rena menjawab dengan sambil menundukkan wajahnya.


"Karena ada wanita lain Bu," Bagitu jawabnya.


"Baiklah, nanti kami kirim surat jadwal panggilan sidang, mohon Ibu siapkan bukti dan saksi yang menguatkan ya," pinta petugas.


"Baik, saya akan kumpulkan bukti dan saksinya. Terima kasih,"


Segera ia meninggalkan halaman pengadilan Agama. Dipandanginya sekali lagi tempat itu, masih jelas dalam ingatannya dimana ia dan Heru datang langsung ke pengadilan Agama untuk mendaftarkan pernikahan mereka. Kini Rena datang sendiri untuk mendaftarkan perceraian mereka. Pilu, hanya itu yang ia rasakan. Namun, ia harus tetap kuat demi anak-anak yang sangat ia sayangi.


'Bismillah ... semoga Hamba tidak salah dalam mengambil keputusan ini' lirihnya.


Next....


*Hai Readers kali ini aku sengaja nulis perepisodenya lebih dari 1000 kata bahkan sampai 1200 kata lebih. Itu semata demi memuaskan para Readers yang baik hati. Maaf kalo komennya gak bisa dibelesin satu-satu ya. tapi tetep Auhtor like semuanya kok. Semoga kita semua selalu senantiasa sehat dan dilimpahkan banyak rejeki yang barokah aamiin. Terima kasih๐Ÿ’œ

__ADS_1


__ADS_2