SUAMIKU PELIT

SUAMIKU PELIT
Toleransi. (52)


__ADS_3

"Tunggu Mah, jangan ditutup pintunya!" Teriak histeris Heru.


Rena yang baru saja hendak menutup pintu tersenyum puas melihat wajah Heru yang panik. 'Rasain kamu mas! dulu kesabaranku kamu injak-injak, pengorbananlu tidak pernah kamu lihat. Sekarang saatnya kamu tau bahwa aku wanita kuat yang tak akan pernah menangis lagi untuk kamu. Aku akan memberi pelajaran kamu, agar kamu bisa lebih memahami dan menghargai keberadaanku,' batin Rena.


Heru bergegas turun dari motornya.


"Mah, Papah gak dikunciin kan ya Mah, tadi mendadak Pak Sofian nyuruh Papa angkutin barang kemobilnya. Papah mau ngabarin ga ada pulsa Mah." Wajahnya dipasang semelas mungkin.


Rena baru sadar kalau ia lupa mengisi pulsa di nomor baru suaminya itu. Pantas saja pesan yang dikirimnya hanya dibaca tanpa dibalas, bukan tanpa alasan Rena memgharuskan Heru pulang tepat waktu. Rena sudah memperhitungkan segalanya dengan matang, perjalanan dari rumah ketempat kerja Heru memakan waktu 1/2 jam jika lancar, Rena lebihkan 1/2 jam lagi jaga-jaga kalau jalanan sedang padat dan macet.


"Kamu udah telat 2 menit sih, Em ... gimana ya kasih masuk gak ya!" Rena mengulur waktu dengan pura-pura sedang berfikir.


"Ya udah, kamu boleh masuk. Tapi besok-besok gak ada toleransi lagi ya. Ini pertama dan terakhir kalinya, Kalau mau pulang telat sertakan alasan kuat juga foto kalau perlu video," Rena segera mempersilahkan Heru masuk.


"Makasih ya Mamah cantik, Papah soalnya cape nih abis angkutin barangnya Pak Sofian." Heru segera masuk, melepas sepatu, jaket dan helmnya. digelatakkan semua barang itu begitu saja di Sofa tamu.


Baru saja Heru hendak masuk kekamar, Rena mamanggilnya.


"Pah!"

__ADS_1


"Iya Mah, kenapa lagi!" Heru nampak mulai kesal.


"Kamu kesel Pah, harusnya aku yang kesel loh!" Rena tak kalah sengit sambil melipat tangannya didada.


"Tuh liat barang-barang kamu, apa udah bener taruhnya disitu berserakan!" tanya Rena dengan tatapan tajam.


"Kan biasanya juga Papah taruh disitu, trus nanti kamu yang beresin."


.


"Oh itu dulu, mulai sekarang taruh semua itu ditempatnya atau aku buang! Kamu terbiasa mengandalkan orang lain, biasakan dirimu mandiri mengerjakan hal-hal sepele." Ucap Rena menasehati Heru.


"Gak usah gerutu!" Rena tau Heru paling tidak suka disuruh-suruh.


*******


Waktu makan malam tiba, Rena telah mempersiapkan makan malam untuk mereka santap malam ini. ia membeli semya masakan itu di warteg langganannya.


Tanpa komando, Heru yang sudah lapar segera menyendok sepiring nasi, dan lagi-lagi Rena hanya tersenyum tipis melihat Heru yang seperti orang tidak makan 3 hari.

__ADS_1


"Pelan-pelan makannya Pah, nanti kalau kamu tersedak Mama juga yang bingung."


"Iya Mamah sayang, makasih ya udah ingetin. Papah tuh soalnya tadi cape banget nguras tenaga, jadi laper banget," Heru tersenyum dengan mulut penuh berisi makanan, Rena yang melihatnya menjadi bergedik seketika.


"Pah, tadi kamu disuruh angkutin barang ada upahnya gak!" Rena ingin memancing kejujuran Heru.


Heru kaget ketika Rena menanyakan hal itu


'Aduh, ketauan lagi. Jujur apa enggak ya?! itu kan duit buat pegangan. Tapi kalau ntar Rena akhirnya tau bisa berabe,' batin Heru.


"Oh, itu mah. Iya tadi Papah belum sempat ngomong sama Mama. Tadi Papah dikasih uang tip mah, uangnya ada kok di kantong jaket Papah. Mama ambil sendiri ya." Akhirnya ia mengalah dan memilih untuk jujur karena ia tak ingin ambil resiko.


Lagi-lagi Rena hanya mengulum senyum.


'Hmm.. lagu lama kamu Mas, paling kalau gak aku tanyakan, kamu bakalan kantongin sendiri!' batinnya.


Next...


#Hai Readers, sepertinya si Heru masih belum ikhlas deh buat berubah ya, kedepan apa lagi ya yang bakal dialamin Heru. Simak terus kisahnya ya. Saya ucapkan terima kasih kepada readers yang telah dengan tulus memberikan dukungan kepada novel saya, Terima kasih atas like, love, rate dan komen kalian. Semoga kita semua sehat selalu dan diberikan rejeki yang melimpah aamiin. Terima kasih πŸ’œπŸ™

__ADS_1


__ADS_2