
"Halah mah, biarin aja kalo dia yang kirim. Itung-itung kita jadi irit kan gak beli makanan., lagian ini makanan mahal mubazir kalo ditolak," Ujar Heru sambil terus memasukkan pizza ke dalam mulutnya dengan lahap.
Hm ... si Heru emang dasar rakus, gak bisa nolak kalo liat makanan meskipun itu dari seterunya. Trus gimana dengan Rena ya, apakah ia juga mau memakan kiriman makanan itu?
********
Tak lama ponsel Rena berdering, tak terdapat nama dalam panggilan itu. Artinya itu adalah panggilan dari no tak dikenal.
"No tak dikenal, mungkin dari pelanggan." Pikir Rena. Tanpa ragu iapun menerima panggilan itu.
"Assalamualaikum," Sapanya.
"Walaik salam, bagaimana kamu suka dengan makanan dan coklatnya. Topingnya ku pilihkan khusus kesukaanmu loh dan ditambah double chesee juga." Jawab Rama diujung telpon, ternyata Rama lah yang menghubungi Rena.
"Ka ... kamu, jadi bener semua makanan itu dari kamu!" jawab Rena dengan meninggikan suaranya.
Heru seketika menengok kearah Rena, dan segera menghampiri untuk merebut ponsel Rena.
"Sini biar Papah yang bicara!"
"Hei, berani-beraninya kamu telpon istri orang. Mau apa kamu hah!" bentak Heru.
"Saya hanya mau menanyakan makanan yang saya kirim, apakah sudah sampai!?" tanya Rama.
"Oh, makanan itu dari kamu! sory ya kita gak level makan makanan murahan gitu. Makanan itu udah saya buang langsung ke tong sampah!" jawab Heru angkuh.
Rama tak membalas dengan kata-kata, tapi ia mengirim langsung sebuah Video. Video yang dengan jelas merekam Heru yang merebut langsung makanan itu dari Pak ojol, dan dengan sumringah membawanya masuk kedalam rumah. Rama menambahkan caption dalam foto itu.
"Dibuang keperut ya! selamat menikmati,"
Heru yang melihat isi video serta caption yang Rama bubuhkan menjadi naik pitam.
__ADS_1
"Kurang ajar tu orang ya, pake direkam segala. Maksudnya apa coba! ngasih kok ga ikhlas banget!" maki Heru.
Rena yang mendengar ocehan Heru hanya mampu menggeleng-gelengkan kepala. Tanpa ia harus bertanyapun ia sudah tau apa yang Rama katakan samapai Heru seperti kebakaran jenggot.
"Kan tadi aku udah bilang, mending tolak aja paket makanannya. Sekarang kamu nyesel kan, harga dirimu dipertaruhkan loh Pah!"
"Aku ini cuma gak mau dosa loh Mah, kalo kita tolak ya kan mubazir. Lagian mana Papah tau kalo pake direkam segala kayak gitu," kilah Heru.
"Kok bisa-bisanya dia tau no HP kamu sih! apa jangan-jangan kamu mau balikan ya sama dia?!" tuduh Heru.
"Aduh cape deh, itu lagi itu lagi tuduhan kamu Pah! si Rama itu orang berduit. Apa-apa bisa ia dapat dengan uang, termasuk no telpon ku,"
Heru mengacak kasar rambutnya, harga dirinya seperti sudah tergadaikan. Tapi sebagai lelaki yang penuh keangkuhan tentu baginya aib kalo ia menunjukkan rasa takut kehilangan di depan Rena. Rena memilih melanjutkan pekerjaannya mempaking barang pesanan pelanggannya pada suatu aplikasi jual online.
"Dari pada stress, mending aku alihkan kepekerjaan aja deh," ujar Rena.
Sedang Heru menatap miris pada pizza ektra large di depan matanya, ia ingin menyantapnya tapi ia ragu dan juga gengsi. Sedang sibuk memikirkan tak tiknya untuk menyingkirkan Rama, tiba-tiba ada suara Erik memanggilnya dari dalam rumah.
"Walaikum salam, ada kok Bang. Sebentar ya saya panggilkan," Rena sebenernya tak ingin Heru sering-sering bertemu Erik, karna baginya Erik sudah terlalu banyak memberikan pengaruh buruk pada Heru.
"Eh lo Rik, ada perlu apaan luh?" tanya Heru. Erik yang ditanya malah nampak mengedipkan sebelah matanya pada Heru. Ia memberikan isyarat bahwa ada rahasia yang ingin ia sampaikan.
"Ah, enggak. Kebetulan lewat aja jadi gue mampir," kilah Erik.
"Btw gue ga disuruh duduk nih!" sindirnya
"Ya udah ayok kita ngobrol didalam, disini ntar ganggu bini gue lagi paking," Heru menuntuk Erik masuk kedalam rumah.
Didalam rumah tak ada obrolan apapun yang terlontar antara mereka, karna erik menggunakan HPnya sebagai sarana komunikasi untuk menyampaikan pesan rahasiannya.
Erik mulai menuliskan kalimat dilayar ponselnya.
__ADS_1
"Eh bro, lo mau ngomong apaan. Cepetan sampein, udah aman kok disini." tanya Heru. Tapi erik tak menggubris ucapan Heru, dia masih melanjutkan ketikannya.
Selang 2 menit kemudian Erik menunjukkan layar ponselnya yang sudah berisikan kalimat.
"Malam ini si Agus ngajak tarung mabar, hadiahnya dilipat gandakan menjadi 2x lipat. Lu harus ikut, karna hadiahnya berlaku hanya malam ini saja. Lumayan duitnya buat lu beli HP baru tanpa ketauan bini lu."
"Hah, serius lu!" Heru menjawab spontan. Erik mendadak panik takut Rena mendengar. lalu ia mengetik lagi sebuah kalimat.
"Gob**k lu, gue sengaja ngetik biar bini lu gak denger. Lu malah kenceng banget, lu jawab lagi diketik pake ponsel lu biar gak ketauan bini lu." ketik erik.
"Ya elah ribet amat si, iya gue mau cuma gue bingung kasih alasan apa ama bini gue!" tanya Heru dengan kata-kata, tapi kali ini dengan suara yang ektra pelan.
"Itu mah gampang, ntar gue yang atur," ujar Erik mantap.
"Oke deh gue pamit dulu," pamit Erik, ia menghampiri Rena yang tengah sibuk melakban kardus.
"Ren, sory nih kalo ganggu. Gini rencana malam ini gue mau ajak Heru buat nengokin temen kita yang abis kena musibah kecelakaan. Ya itung-itung solidaritas antar teman Ren," ujar Erik mengemukakan sebuah kebohongan.
"Temen, temen yang mana? namanya siapa? orang mana?" tanya Rena bertubi-tubi. Heru sudah pucat pasi, tapi tidak denga Erik.
"Temen segrup kita, cuma emang bukan orang sini, namanya Herman, dia orang citerep sana." Erik menjawab pertanyaan Rena dengan lancar meskipum dengan karangan asal.
"Pulangnya jam berapa?" Rena bertanya lagi.
"Tenang aja gak malem-melem banget kok, ya paling jam 12an lah, lu tenang aja gue bakal jagain laki tercinta lu ini, dan bakal gue balikin utuh lagi kok," janji Erik dengan cengegesan khas miliknya.
Rena nampak ragu, dipandangi wajah Heru dan Erik secara bergantian, ia tengah menelisik adanya indikasi kebohongan dan kerjasama busuk antara mereka berdua.
Kira-kira Rena bakal luluh gak ya, lalu mengijinkan Heru keluar rumah bersama Erik malam harinya?
Next .....
__ADS_1
*Hei Readers, jangan lupa terus dukung Author dengan cara like, love, rate and komen ya. Biar Author makin semangat nulisnya. Terima kasih ππ