SUAMIKU PELIT

SUAMIKU PELIT
Sumber kekuatan (15)


__ADS_3

Baru saja ku tarik nafas lega setelah menutup telfon, tiba-tiba saja Ibu sudah ada dibelakangku, ah.... rupanya introgasinya masih berlanjut!.


"Mertuamu yang telfon Ren" Tanya Ibu mengangetkanku.


"Eh... i...Ibu dari kapan disitu" Tanya ku gugup, aku takut Ibu menguping pembicaraanku tadi, karna tadi Mertuaku berbicara dengan suara yang amat keras di telfon, sampai-sampai akupun memberi jarak beberapa inci pada telingaku.


"Wajar mertuamu marah, Ibu juga kalo jadi orang tua Heru pasti marah kalo anak Ibu ditinggal istrinya"


"Ren, sekeras apapun watak suamimu jika kamu perlakukan dia dengan lembut, membuat hatinya bahagia dan menyenangkan pandangannya, pasti suamimu juga akan berbuat yang sama" hmmm... ibu tidak tau saja, aku selama ini selalu saja diam dan mengalah diperlakukan semena-mena oleh Mas Heru, tapi nyatanya itu malah membuat sikapnya semakin menjadi-jadi terhadap ku.


"Ren, usahakan jika ada masalah rumah tangga selesaikan dirumah kalian, duduk berdua dengan kepala dingin, jangan saling egois yang tidak akan menemukan solusi apapun" Nasihat Ibu padaku. Namun apakah aku egois jika untuk memperjuangkan anak-anak, karna suami ku sangatlah abai dengan tugasnya sebagai seorang Bapak, baginya Bapak Itu hanya memberi makan saja cukup, tetapi dalam agama seorang suami adalah pemimpin dan pembimbing, ia patut memberi contoh yang baik terhadap anak-anaknya juga memberikan bekal serta bimbingan agama.


Aku tak bisa menjawab apa-apa atas nasehat Ibu, kutundukkan wajah menyembunyikan bulir air mata yang mulai menetes. Andai Ibu tau apa yang aku alami,masih kah ia akan memberi nasihat yang sama kepadaku. Tapi biarlah perih ini kusimpan sendiri.


"Setiap rumah tangga itu pasti ada masalahnya masing-masing, jika kita sudah berumah tangga maka secara tidak langsung kita memilih untuk mementingkan kebutuhan bersama dibanding kebutuhan pribadi, menikah itu bukan lagi aku dan kamu, tapi kita Ren! Kamu paham kan sayang! ibu tau kamu wanita tangguh, sedari kecil kamu jarang sekali menangis jika terjatuh, Ibu yakin kamu pasti bisa lalui ini semua, karna kamu anak ibu yang kuat" Nasihatnya lagi padaku, makin membuatku tertunduk dan menyandarkannya pada bahu Ibu Sudah sangat lama aku ingin menangis dibahunya. 'Ibu aku pasti kuat untuk anak-anak' batinku.

__ADS_1


Terisak menangis dipelukannya adalah menjadi obat pelipurku, aku merasa mendapat kekuatan lagi,


"Bu, besok pagi Rena akan pulang" ujarku pada Ibu yang masih mengenggam tanganku seolah memberi kekuatan yang kasat mata.


"Pulanglah, minta maaf dan perbaiki hubungan kalian" ucapnya menyejukkan hatiku.


Kusampaikan pula pada Bapak dan kedua anakku jika kami besok akan kembali pulang ke jakarta. Hal itu disambut Bapak dengan mengulas senyum, Anak-anak bahkan sampai melonjak kegirangan.


"Hore, kita pulang ketemu Papah" ujar si sulung.


"Benelan kan mah besok kita pulang, ade kangen sama papah, pasti papah juga kangen sama ade" celoteh anak bungsuku dengan suara cadelnya, entah mengapa aku tak yakin bahwa Mas Heru juga merindukan anak-anaknya, sedangkan saat dirumah saja ia begitu acuh bahkan hampir tak pernah untuk sekedar bersenda gurau dengan anak-anak.


******


Pagi hari menjelang, entah mengapa pertama kalinya dalam hidup aku ketika bangun pagi menjadi malas dan tidak bersemangat, bagaimana tidak! kembali kerumahnya berarti akan kembali berkutat dalam perdebatan sehari-hari denganya. Apalagi tak ada sepeserpun uang yang ia kirim sebagai bentuk perhatiannya kepada kami, Bahkan untuk pulangpun aku harus mengambil komisi dulu yang telah ditransfer oleh Mba Mia kerekeningku kemaren saat aku minta ia langsung menyanggupinya, Beruntung aku mendapatkan cukup banyak pembeli dan cabang reseler yang ikut bergabung denganku. Ah Mas Heru itu memang lelaki yang tidak bisa diandalkan.

__ADS_1


Kupersiapkan segala keperluan termasuk memesan jasa taxi online diaplikasi berlogo hijau itu. Saatku keluar kamar betapa terkejutnya aku ketika bekarung-karung berisi beras, pisang,cabe, bawang dan beberapa hasil panen lainnta.


"Bu... ini terlalu banyak, Reni gak usah bawa apa-apa, ini simpan saja buat persediaan Ibu dan Bapak di kampung" Cegahku pada Ibu yang masih saja sibuk mengemas oleh-oleh untukku, padahal yang tertumpuk ini saja sudah banyak.


"Udah bawa aja, dikota kan bahan-bahan semua mahal, lagian Bapak sama Ibu sudah ada persediaan banyak di lumbung." Jawab Ibu, aku hanya bisa pasrah sebab jika aku menolak maka ibu akan tersinggung dan marah.


"Bu, ini buat keperluan Ibu dan Bapak ya, Maaf Rena belum bisa kasih uang yang banyak buat kalian" ucapku sembari mengepalkan uang lembaran merah sebanyak sepuluh lembar ketangan Ibu.


"Gak usah Ren, Ibu dan Bapak ini sudah tua, udah gak pingin apa-apa, buat anak-anakmu saja, atau buat kebutuhan sekolahnya, Ibu dan Bapak insya Allah tidak akan kekurangan" Ujarnya menolak halus uang yang kuberikan.


"Bu, ijinkan Rena berbakti kepada kalian, tolong jangan tolak. Rena sangat jarang memberikan uang kepada Ibu bukan!" bukan jarang lagi tapi malah hampir tidak pernah bahkan untuk memberikan uang lebaran kepada kedua orangtuaku pun aku harus menabung setahun penuh menyisihkan uang belanjaku yang tidak seberapa itu, itu pun hanya berkisar 300ribuan saja, Aku memang sangat kesulitan mengumpulkan uang yang tak seberapa itu. Karna Mas Heru gak akan mau mengeluarkan uangnya.


"Tapi Ren, ini banyak banget. Apa kamu sudah bilang sama Heru, takutnya dia marah" Ah Ibu andai saja Ibu tau itu bukanlah uang Mas Heru, melainkan uang hasil jerih payahku sendiri.


"Udah, ibu ambil aja ya ini rejeki Ibu dan Bapak" ujarku meyakinkan.

__ADS_1


"Ya sudah ibu terima ya, sampai kan salam terima kasih pada suamimu" kujawab dengan senyuman ucapan ibu, biarlah Ibu mengganggap uang itu dari Mas Heru, Biarlah kuciptakan rasa bangganya pada sosok menantu lelakinya itu.


Next...


__ADS_2