
"Mamah dengerin omongan Papah ya, apapun yang mama denger dari oranglain tentang Papah yang gak baik semuanya bohong ya Mah. Papah tuh gak macem-macem kok, dan selalu nurutin Mama kan!" kilah Heru membela diri, bagaimanapun ia tak ingin kebohongannya terbongkar.
"Iya Pah, Mama percaya kok sama Papa." Rena mulai masuk dalam jebakan suaminya sendiri.
**********
Sejak kedatangan amplop coklat itu Heru menjadi tak tenang, hari-harinya seakan tak tenang dan harus ekstra waspada. Kekhawatiran selalu menghinggapi hari-harinya hingga ia merasa tak nyaman lagi.
Namun bukan Heru namanya kalau tak mengulang kesalahan yang sama lagi dan lagi. Ia kembali mengadakan janji mabar dengan Erik, kali ini Agus menawarkan hadiah yang cukup fantastis yaitu 10 juta untuk siapa saja yang berhasil mengalahkannya.
Waktu makan siang pun tiba, sementara janji mabar dimulai jam 2 nanti dan Heru sudah menyanggupi akan datang.
"Bagaimanapun caranya, gue harus bisa ambil ijin pulang lebih awal," tekadnya.
Aktingpun dimulai, dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin ia mulai memainkan perannya. Heru menghampiri ruangan Manager personalia.
"Permisi Pak," ujarnya.
"Iya Her, masuk aja. Ada perlu apa?" tanya kepala personalia seperti sudah tau apa yang akan Heru ucapkan.
"Maaf Pak, kalo boleh. Saya mau ijin pulang lebih awal Pak, Istri dan anak saya sakit dirumah. Saya disuruh cepat pulang untuk mengantar mereka ke klinik Pak." Ujar Heru dengan kata-kata yang dibuat secemas mungkin agar tak terlihat jika ia sedang berakting ria.
"Hmm... boleh aja sih, tapi beneran kan istri dan anakmu lagi sakit. Jangan buat main loh Her kalo soal nyawa anak istri!" tanya Manager personalia meragukan alasan Heru.
"Gak mungkin lah Pak, saya sampe bohong bawa-bawa anak sama istri. Kalau Bapak gak percaya Bapak bisa baca SMS dariistri saya nih Pak!" sambil mengeluarkan ponselnya lalu menunjukkannya kepada Manager personalia. Sebelumnya Heru telah meminta tolong salah satu temannya untuk menuliskan sms kepadanya dengan kata-kata yang telah ia ketik terlebih dahulu. Namanyapun diganti dengan nama istriku, hmm ... nekad ya si Heru gaes!
Manager personalia terheran-heran melihat Heru mengeluarkan ponsel yang sangat jadul menurutnya.
"Her, gaji kamu disinikan sudah 4,5 juta perbulan. Itupun belum termasuk lemburan dan tips kamu kan? apa gak bisa kamu sisihkan untuk beli HP?" Manager itu malah bertanya.
__ADS_1
"Eum ... anu pak, saya ini orangnya suka yang antik-antik Pak. Jadi saya lebih suka pake HP jadul kayak gini Pak," jawab Heru asal.
"Ya sudah sana cepat pulang, dan langsung bawa anak istrimu itu ke dokter," Manager personalia itu lantas mengeluarkan selembar kertas yang menyatakan bahwa ia mengijinkan Heru pulang lebih awal. Kertas itu sangat berguna agar gaji Heru tidak dipotong nantinya saat gajian.
"Terima kasih Pak," Heru sumringah, ia melangkah cepat menuju pelataran parkir. Sesampainya di pos security ia menyerahkan selembar kertas yang tadi Manager personalia itu berikan.
"Hahaha bego tuh Manager, percuma sekolah tinggi-tinggi tapi gampang dibegoin," celoteh Heru merasa puas karna usahanya telah berhasil tanpa hambatan.
Heru segera menuju ke suatu Cafe yang menjadi tempat mabar kali ini dibilangan bintaro. Agak jauh dari rumah membuatnya merasa nyaman dan aman.
Dilajukan motornya dengan kecepatan penuh, alhasil hanya butuh waktu 20 menit saja ia telah sampai di tempat yang telah disepakati.
Segera setelah memarkirkan motornya Heru memasuki lobby cafe.
"Selamat siang Pak, ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang reseptionist.
"Kalo meja reservasi atas nama Agus disebelah mana ya Mbak?" Heru bertanya dengan tatapan yang lekat menatap dan menelusuri tiap lekuk wajah cantik nan ayu sang reseptionist.
"Eum ... Mbak nya cantik banget deh, Namanya juga sama kaya orangnya. Sudah berapa tahun kerja disini Mbak?" tanya Heru ia benar-benar seperyi tersihir atas kecantikan sang reseptionis. Heru mengetahui nama sang reseptionist dari name tag yang ia kenakan saat itu.
"Ah si Bapak bisa aja, saya udah 5 tahun kerja disini Pak!" jawab sang receptionist yang bernama Larasati itu.
"Eh ... kok manggilnya Bapak sih, Kaka aja biar akrab gitu. Kenalin aku Heru," tanpa malu, apalagi sungkan Heru menyulurkan tangannya mengajak berjabatan. Meskipun awalnya ragu. Namun Larasati tak kuasa menolak karna Heru adalah pengunjung tempatnya berkerja.
Tak lama merekapun sambil di salah saturuang VIP yang cukup luas dan tertutup.
"Ini dia ruangannya Pak, silahkan masuk." Larasati membukakan pintu untuk Heru. Namun Heru segera menahan pintu itu kembali.
"Saya baru mau masuk kalo udah dapet no HP kamu," kilahnya mengeluarkan bujukan maut.
__ADS_1
Larasati nampak kebingungan dengan tingkah Heru. Namun lagi-lagi ia tak memiliki pilihan lain selain memuruti permintaan Heru. Bagaimanapun Heru adalah pelanggan di Cafe tempatnya berkerja.
"Ya sudah ini no Hp saya, Kaka mau catat atau langsung di save di HP kaka?" tanya Larasati.
'Oh iya ya, Hp gue kan jadul. Tengsin kalo dia sampe tau gue bawa-bawa HP model cobek,'batin Heru.
"Dicatat aja deh, kebetulan HP kaka lagi dipinjem temen didalem," kilahnya.
Larasati pun dengan cepat menuliskan no ponsel pada notebook yang selalu ia bawa, jaga-jaga kalau ada customers yang memesan makanan atau minuman tambahan.
Laras sudah sangat muak dan ingin segera pergi dari hadapan Heru, Maka setelah memberikan no ponselnya ia segera pamit untuk kembali ke meja reseptionist.
"Baik Kak, saya kembali ke depan lagi ya kak. Selamat menikmati fasilitas kami," ucapnya sambil menautkan kedua telapak tangannya di dada.
Heru yang masih terkesima dengan kecantikan dan kemolekan tubuh Laras tak berkedip memandangnya hingga Laras menghilang dari pandangannya.
Erik yang menyadari kedatangan Heru agak sedikit keheranan karena Heru tak segera masuk, karena penasaran ia pun menghampiri Heru.
"Ru, ayo buruan masuk. Udah ditungguin dari tadi juga lu!" Panggil Erik saat jarak mereka sudah lumayan dekat. Heru yang masih larut dalam pesona Laras malah mengoceh sendiri.
"Gila cantik banget tuh cewe, gue harus milikin dia pokoknya! Bahagia banget gue kalo dia jadi milik gue," sambil meremas dadanya sendiri seakan sedang menahan gejolak cintanya untuk Laras.
"Woy, gila lu dah punya bini masih aja naksir ama cewe lain. Buat gue kali!" Erik menepak kepala Heru dari belakang untuk menyadarkan sahabatnya itu. Heru nampak kesal Erik mengganggu kekhusuannya melihat Laras.
"Ah lu ganggu aja, gak bisa liat orang seneng lu ya!" maki Heru.
"Ya maaf, lagian lu dari tadi malah ngoceh-ngoceh sendiri di ajak ngomong. Noh anak-anak dah nungguin lu dari tadi, malah asik ngeliatin cewe bening,"
"Ya udah, ayo deh mulai," Heru segera menggaet tangan Erik untuk masuk.
__ADS_1
Hmm ... kira-kira Heru bakalan menang atau kalah nih Readers, duh kasian ya si Rena dibohongin terus sama Heru!
Penasaran sama kisah kelanjutannya kan, simak dan tunggu kelanjutannya ya, jangan lupa like, love, vote, rate and komeb kalian ya. Terima kasih semuanya ππ