
Tiga hari sudah Heru dan Rena pisah rumah. Namun tak ada tanda-tanda Heru ingin memperbaikin hubungan mereka. Jangankan datang untuk sekedar menengok anaknya, menelfonpun tak ia lakukan. Alasannya apalagi kalo bukan gengsi.
Sebagai lelaki ia merasa harga dirinya turun jika harus membujuk Rena untuk berbaikan dengannya.
"Kebiasaan perempuan itu, kalo liat suaminya ngalah nanti malah dijadikan senjata buat dia nyerang suaminya terus menerus." Angkuhnya.
Sementara Rena dan Anak-anak yang menunggu iktikad baik Heru untuk memperbaiki hubungan menjadi patah arang, ia merasa Heru mungkin saja tak membutuhkan dirinya lagi. Hingga sikap begitu acuh disaat yang menentukan seperti ini.
*******
"Her ... Yuk kita tengok anak dan istrimu. Sekalian tunjukkan kalo kamu benar-benar menyesal akan perbuatanmu," ajak Helen pagi itu.
"Ibu aja lah, Aku malas. Lagian kan kemarin aku dah minta maaf, ngapain minta maaf lagi," jawab Heru santai.
"Ya kamu harus usaha lebih untuk minta maaf atau sekedar mengambil hati istrimu, supaya dia memaafkan dan mau terima kamu kembali." ujar Helen menasehati anaknya itu.
"Bu, aku tuh kenal siapa Rena. Dia cuma gertak sambal aja, mana mungkin dia bisa hidup tanpa Aku. Sekarang aja paling dia lagi kebingungan gak ada duit buat makan! biar tau rasa dia. Makanya jadi istri jangan terlalu angkuh!" Cecar Heru.
"Kamu tuh yah kalo dibilangin susah, nanti kalo udah nyesel aja baru tau rasa kamu. Ibu dan Bapak gak akan nolong!" Sungut Ibu kesal pada keangkuhan putranya itu.
"Aku lelaki Bu, gengsi lah ngemis-ngemis minta maaf sama istri, apa kata dunia?!"
"Terserah lah kamu mau ngomong apa, yang penting Ibu sudah ingatkan. Ibu sama Bapak mau ke rumah Rena dulu. Kamu jaga tuh warung kelontong Ibu, awas ya kalo gak. Ibu usir kamu dari sini!" Ancam Ibu. Heru hari itu sedang libur makanya Ibu memintanya untuk membantu menjaga warung selagi ia dan Bapak Pergi.
__ADS_1
********
Setelah menempuh perjalanan 20 menit Bapak dan Ibu telah sampai didepan rumah, sebelumnya mereka telah memberi kabar akan maksud kedatangan mereka pada hari ini. Rena segera menghampiri 2 mertuanya itu untuk membantu membawakan beberapa barang.
"Ya Allah Bu, banyak banget bawaannya!" Rena memandang aneka rupa sembako yang dibawa mertuanya itu.
"Ia Ibu sengaja bawain ini semua buat kamu dan cucu ibu supaya kalian tetep tercukupi. Maaf ya Ibu baru datang hari ini."
"Iya Bu gak apa-apa Rena faham kok," ujarnya
"Nenek Kakek....!" Arya dan Ani segera berhamburan dan memeluk.
"Cucu nenek sehat-sehat kan?!" Tanya Helen. yang dijawab dengan anggukan oleh kedua bocah itu.
Helen yang ditanya demikian hanya mengelus pucuk rambut cucunya itu. Ia bingung hendak berkata apa, apakah ia harus berbohong!
"Papah ada di rumah kok sayang, nanti juga pulang kok. Sabar ya,"
"Papah emang gak kangen sama abang dan Ani ya Nek? padahal Ani kangen banget sama Papah," gadis kecil itu terlihat murung dan sedih.
"Liat nih kakek bawa apa buat kalian?!" Ujar Rudi kepada cucunya itu untuk mengalihkan pembicaraan. Ia sungguh tak tega melihat wajah kecewa cucunya.
"Asiik ....!" Seru Arya dan Ani kompak, dengan semangat mengambil sebuah kantong plastik yang penuh dengan aneka makanan kecil. Mereka segera sibuk membuka dan memakannya sembari menonton kartun di depan Televisi.
__ADS_1
"Ren ... Kamu sama anak-anak sehat kan?" Tanya Ibu membuka percakapan.
"Alhamdulillah Bu, sehat. Ibu dan Bapak sehat juga kan?" Tanya Rena balik.
"Alhamdulillah seperti yang kamu liat sekarang,"
"Egm ... Ren kamu gak mau tanyain kabarnya Heru?" Tanya Ibu ragu. Rena yang mendapati pertanyaan Ibu hanya tersenyum kecut.
"Oh iya Bu, Bagaimana kabar Mas Heru?" Walau sebenarnya ia enggan menanyakan sosok lelaki yang sudah perduli akan nasib anak dan istrinya itu. Namun demi menyenangkan mertua yang telah ia anggap seperti orangtuanya sendiri.
"Itu lah Ren, si Heru itu lagi gak enak badan, makanya dia gak bisa ikut kesini. Dari kemarin juga semenjak kalian pisah rumah ia murung terus," Ujar Rena berbohong.
Rena hanya tersenyum tipis mendengar ucapan mertuanya. Padahal beberapa hari belakang ini Rena telah memasang mata-mata untuk melihat gerak gerik Heru. Semua ia lakukan untuk mengetahui apakah Heru benar-benar menyesal dan merubah sikapnya atau malah semakin menjadi.
Kemarin bahkan ia mendapatkan laporan bahwa sepulang kerja Heru masih sempat mengantar Hana pulang ke kosannya. Itu artinya mereka masih berhubungan dan juga itu membuktikan jika Heru tak benar-benar menyesali perbuatannya.
"Ren .... Heru tadi titip salam buat kamu dan anak-anak. Dia juga menitipkan ini untuk kalian," sambil menyerahkan amplop coklat berisi uang. Ia sengaja memberikan uang atas nama Heru agar Rena luluh dan mau memafkan anaknya. Meski pada kenyataannya itu dari uang pribadi miliknya.
Lagi-lagi Rena hanya tersenyum tipis, dalam hati ia meragukan ucapan mertuanya itu.
Next...
*Jangan lupa tekan like, love, vote and tulis komentar kalian ya readers. Terima kasih π
__ADS_1