
"Heru kamu sudah Selesai makan kan! cepet sini ibu dah nunggu dari pagi loh." tanya Ibu pada Mas Heru, sebenarnya ia telah selesai makan sedari tadi tapi sengaja ia perlama berdiam di meja makan.
"Ibu mau bicara apa sih! Heru cape bu" mulai ia mengeluarkan rengekan mautnya agar ibunya kasian dan megurungkan niatnya.
"Ibu cuma mau penjelasan dari kamu, kamu bilang uang gajimu kamu serahin semua ke istrimu, tapi tadi Ibu tanya Rena katanya kamu cm kash 20 ribu pee hari, trus kamu juga sering minta uang ongkos ke Ibu, sebenernya uangnya kamu kemanain sih" Tanya Ibu mulai mengintrogasi Mas Heru 'sukurin kamu Mas, pasti Ibu marah besar' sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Iya Bu, maafin Heru. Uangnya Heru simpan kok Bu, Heru Sengaja kasih ang belanja segitu biar istri dan anak-anak heru bisa belajar hidup prihatin. Heru tuh lagi nabung bu, buat modal usaha biar ada tambahan penghasilan, dan juga buar si Rena ada kegiatan" ucapnya yang kuyakin itu adalah sebuah kebohongan 'kualat kamu bohongin Ibumu sendiri mas' jengkel mendengar ucapannya.
"Kalo memang uangnya kamu kumpulkan coba perlihatkan mana uangnya, atau kalo misal ditabung, coba liatin buku tabungannya" Ujarku meminta buktu dari ucapannya,
"Iya bener sini coba ibu mau lihat, simpan aja diibu biar aman! " akupun memyetujui saran mertuaku itu.
"Ibu masa gak percaya sama Heru sih! Heru beneran simpen kok, sumpah bu!" ujarnya dengan sumpah demi meyakinkan Ibunya, tapi aku tak sedikitpun percaya pada kata-katanya itu.
__ADS_1
Ibu terliha berfikir sejenak, ada keraguan dqri air mukanya, dahinya pun berkerut seolah sedang berfikir keras.
"Ya sudah Ibu percaya kata-katamu kali ini, tapi ibu tidak memebenarkan jika kamu kasih uang belanja minim kayal gitu. kasian cucu Ibu dong kayak Kurang gizi gitu" pesan ibu menasehati Putra kesayangannya itu.
"Iya bu, akan Heru tambah uang belanja Rena nanti. sudah Ibu gak usah fikirin, heru lebih tau apa yang Heru lakukan untuk rumah tangga Heru" Ucapnya seolah tak suka dengan ucapan Ibunya sendiri.
"Ya sudah antar Ibu pulang" Titahnya, Heru pun tersenyum dan bergegas mengambil kunci motor.
*******
Lelah dan penat yang menerpa tubuh ini memberikan sinyal untuk segera beristirahat. Kurebahkan badan untuk sejenak memejamkan mata.
Baru beberapa menit memejamkan mata, masuk notif keponsel yang segera kulihat. Ternyata dari selelerku yang di bogor, rupanya ia memesan beberapa barang dan memberitahukan bahwa pembayaran sudah sukses, jadi aku tinggal mengirim barangnya saja, seketika rasa kantuk ini hilang berganti dengan antusias.
__ADS_1
Segara kuproses dan meminta mba Mia menyiapkan barang pesanan, dan disanggupi olehnya. Namun ia meminta lagi datang besok untuk membantunya paking barang.
Sedang asik berbalas pesan tiba-tiba pintu kamar dibuka dengan didorong kuat ke tembok oleh Heru, menimbulkan suara yang cukup keras hingga membuatku terompah diatas tempat tidur.
"bagus ya kamu, sekalinya pulang malah enak-enakan main hp. Cuciin tuh bajuku yang udah numpuk, bahkan akuhampir tak punya pakaian bersih!" ketusnya dengan suara keras serta sambil menunjuk-nunjuk dengan jari telunjuknya.
"Idih, emang aku babumu! Cuci aja sendiri sana!" balasku dengan nada tak kalah ketusnya.
"Oh.... jadi pergi beberapa hari ini kamu udah berani ngelawan ya! lakukan kewajiban mu jika tak ingin jadi istri durhaka!" Bentaknya lagi seraya mengancam. Aku tersenyum sinis sebelum membalas ucapannya.
"lalu kamu pikir, kamu itu udah menjalankan kewajibanmu heh! selama ini kurang nurut apa aku sama kamu. selama 10 tahun tak pernah kamu menganggapku selayaknya seorang istri, dimatamu selama ini aku tak ubahnya seperti upik abu dan psk yang harus selalu melayani segala keperluanmu tanpa kau pedulikan kepentingan ku maupun anak-anak. dimatamu kami ini hanya lah no 2. dan game serta teman-temanmu itu adalah no 1. Aku sudah terlalu lama bersabar dalam diam atas segala perlakuanmu Mas!!! "
Next...
__ADS_1