Suamiku Seorang MAFIA

Suamiku Seorang MAFIA
Aku ingin melakukannya saat aku sadar.


__ADS_3

***


“Deg … Deg … Deg!” 


Jantung Lily berdetak begitu cepat, wajahnya memerah. Saat tadi Winston mendorong Rean yang masih sedikit mabuk itu membuat Lily secara refleks menangkap Rean, sekarang ini mereka sedang berpelukan tanpa sengaja.


“Baumu tidak sama seperti mereka! kau berbeda dari mereka, aku membenci wanita tapi mengapa aku tidak bisa membencimu? malahan aku ingin memelukmu terus seperti ini,” bisik Rean mengeratkan pelukannya pada tubuh Lily.


“Ap … apa? tu … tunggu, aku masih marah! bukankah tadi kau bersama seorang perempuan? jangan kira memeluk aku seperti ini akan membuatku melupakan kesalahanmu!” ketus Lily pura-pura tegas dan marah, namun tidak bisa dibohongi entah mengapa semua amarah dan kebencian yang hendak dilampiaskan oleh Lily hilang begitu saja tidak berbekas.


“Lemah, mengapa kau lemah sekali Lily? kau harus bisa menunjukkan sedikit kekuatanmu! jangan mudah di tipu olehnya!” decak Lily mencoba menyadarkan dirinya.


Lily seolah memasang tameng besi yang sangat kuat sekarang, dia harus bisa menahan dirinya juga menunjukkan jika Rean salah telah mengingkari janjinya, apalagi tadi ada suara wanita yang mengangkat ponsel pribadinya, Lily harus tahu apa yang sudah terjadi antara Rean dan gadis itu.


“Tunggu sebentar, aku ingin seperti ini sebentar lagi,” sahut Rean yang secara tidak langsung tertidur di pundak Lily.

__ADS_1


“Emm, se … sebenarnya aku suka dipeluk olehmu, tapi ini kenapa berat ya? jangan bilang kau tertidur dan aku harus memapahmu ke dalam rumah? adegan ini tidak romantis sama sekali, haha! nasibku ini sungguh sial!” decak Lily menyadari jika Rean tertidur dan dia harus mengangkat tubuh yang jelas-jelas lebih besar darinya itu kedalam rumah.


“Ahhh! berat sekali! percuma tadi aku memikirkan hubungan ini akan berlanjut kearah yang lebih intim!” ketus Lily sudah sangat kelelahan, dia memapah tubuh itu sampai ke ruang tamu.


Lily bisa dengan mudah masuk kedalam rumah Rean karena rumah Rean sudah dilengkapi teknologi mutahir yang dimana jika ingin masuk kedalam rumah bisa dengan menggunakan sidik jari si pemilik rumah saja.


Tadi saat Rean tiba-tiba memeluknya, Lily sudah berpikiran terlalu jauh, dia mengira adegan itu akan seperti adegan di film-film romantis yang ia tonton, seperti misalnya berlanjut ke hal dewasa yang ia nantikan itu.


Lily tidak tahu letak kamar Rean berada dimana, jadi dia hanya mengantarkan Rean sampai ke sofa ruang tamu saja.


"Ahh, aku lelah!" decak Lily langsung membenamkan dirinya di sofa sebentar, dia ingin menarik nafas dulu dan mengumpulkan tenaga yang sudah terkuras habis itu.


“Kau tampan tapi tidak peka, apakah aku beruntung atau sial ya? aku juga tidak tahu! awas saja jika gadis yang tadi mengangkat ponselmu itu benar-benar ada hubungan denganmu! akan ku tuntut kau!” ketus Lily sembari melepaskan sepatu Rean dan melonggarkan kemeja yang digunakan kekasihnya itu.


"Sedari kapan tangannya luka seperti ini? apakah dia baru saja menghajar seseorang?" gumam Lily memperhatikan jika tangan Rean sedang diperban.

__ADS_1


Sedangkan Rean yang menyadari ada seseorang menyentuh tubuhnya dengan sigap menarik tangan itu dan menguncinya dengan teknik bela diri yang sering ia gunakan untuk melumpuhkan lawan-lawannya, ditengah tidurnya tadi, dia merasa ada seseorang yang menyentuhnya, dan dengan refleks tubuhnya bergerak dengan sangat cepat.


“Awww, sakit sekali tanganku! aahhh! lepaskan tanganku!” teriak Lily yang sudah berada didalam cengkeraman Rean.


“Li … Lily? mengapa kau ada disini? maafkan aku, aku kira tadi kau adalah orang asing,” decak Rean yang sudah melihat dengan jelas bayangan hitam yang ia lihat meraba-raba tubuhnya tadi adalah kekasihnya sendiri, yaitu Lily.


“Sakit, huhu, kau tidak hanya menyakiti hatiku tapi juga tanganku! kau jahat!” ketus Lily menangis meraba lengannya yang sedikit berdarah.


Karena sepertinya tadi, lengannya terkena kancing baju Rean, dan karena tenaga Rean yang begitu besar membuat lengannya sedikit terluka dan mengeluarkan darah.


“Maafkan aku, aku akan segera mengobatimu, tapi tunggu dulu, kenapa kau ada disini? dan tadi, tadi, kenapa kau meraba-raba tubuhku? kau tidak melakukan hal-hal itu kan?” decak Rean menutupi tubuhnya dan bergerak mundur dari arah Lily.


“Hah! bahkan sekarang kau menganggapku sebagai orang yang mesum disini! ahhh! sepertinya aku memang sial!” ketus Lily geleng-geleng melihat ekspresi Rean yang seperti mengatakan jika Lily telah membuat hal-hal nakal pada tubuh Rean.


“Huh! Baguslah jika kau belum melakukan apapun, aku ingin melakukan saat aku sedang sadar maksudku,” sahut Rean dengan nada yang pelan sembari tersenyum penuh arti, karena merasa sangat malu saat mengatakan itu, Rean langsung pergi mengambil kotak P3K.

__ADS_1


Saat mendengar Rean mengatakan itu, Lily terdiam dan membisu, lalu wajahnya menjadi sangat merah, suhu diruangan pun sepertinya semakin panas, karena Lily bisa merasakan panas di tubuhnya sekarang semakin meningkat.


“Apa? apa? apa yang baru saja aku dengar? aaaa! ini tidak baik! ini tidak baik untuk jantungku! ini bisa meledak! aaaa!” decak Lily dalam hatinya dan membenamkan dirinya di sofa, dia sangat malu namun senang.


__ADS_2