
***
Masih di perjamuan,
Entah apa yang hendak disampaikan oleh Sean, namun Vincent tersentak dan dia melihat dalam kearah mata itu lagi.
Wajahnya menjadi masam dan keningnya berkerut.
"Hahaha, kau anak muda yang menarik, sebelum kau pulang ke negaramu bagaimana jika aku mengundang mu ke kediamanku," seru Vincent dengan tawa yang menggelegar.
Tawa itu membuat semua orang diam, kericuhan menjadi senyap karena terkejut melihat Vincent tertawa, hal yang sangat jarang terjadi.
"Bagaimana mungkin aku bisa menolak Tuan, saya di jadikan tamu penting oleh petinggi negara disini, aku akan dengan senang hati berkunjung," seru Sean sama sekali tidak gentar. Dia tetap santai namun senyuman dan matanya menggambarkan siapa dirinya sebenarnya.
Vincent yang baru bertemu dengan lelaki muda yang menarik mengulur kan tangannya, dia ingin berjabat tangan dengan pemuda ini.
"Kau adalah orang pertama yang tidak mengatakan kata-kata menjijikkan di hadapan ku, namaku Vincent Rolex, aku menunggu mu besok di kediaman ku," sahut Vincent dengan senyuman puas.
Dia tidak tahu datang ke perjamuan hari ini akan membuat nya senang, dia senang karena menemukan seseorang dengan pandangan mata tajam dan tidak kenal takut, dia juga senang karena lelaki muda ini tidak berkata pujian untuk mendapatkan perhatian nya, sama seperti yang ia dapatkan dari orang-orang kebanyakan.
"Haha, baik Tuan Vincent, nama saya Sean, nanti kau akan mengingatnya, mungkin sampai akhir hayat mu, hahaha" sahut Sean pura-pura bercanda, hal itu di terima dengan tawa oleh Vincent.
"Haha, sungguh nama yang bagus, mungkin aku memang akan mengingatnya sampai akhir hayat ku," balas Vincent Rolex juga dengan nada yang sedikit bercanda.
Setelah perkenalan singkat itu, Vincent Rolex langsung pergi dari perjamuan.
__ADS_1
***
"Bos, kami sudah menemukan orangnya, dia sedang bersama kami sekarang," seru salah satu anak buah Sean yang bertugas untuk mencari keberadaan seseorang di dalam istana.
Mendengar informasi dari anak buahnya melalui chip kecil yang ada di telinga membuat Sean segera undur diri dari perjamuan.
Dia yang datang bersama Logan dengan cepat langsung menuju lokasi yang sudah di tandai oleh anak buahnya.
Tubuh Sean bergetar, jantungnya berpacu dengan cepat, dia menunduk sedari tadi, dia tidak tahu kata apa yang harus ia katakan saat bertemu dengan Hera, ibunya yang telah menderita karena tragedi yang menyedihkan.
Sekarang mereka sudah berada di depan pintu, dibalik pintu itu akan ada ibunya menunggunya, ibu yang tidak seharusnya merasakan penderitaan.
Tangan Sean menyentuh gagang pintu, dia terdiam sesaat, menghela nafas panjang dan memejamkan matanya sebentar.
Logan belum pernah melihat Sean yang tidak pernah serius dalam keadaan apapun ini begitu gerogi, tidak tenang dan gemetaran.
Mata wanita itu melihat-lihat sekeliling nya yang sudah di penuhi beberapa anak buah Sean, matanya seperti sedang waspada dan tangannya mengepal seperti ketakutan.
Hera memiliki trauma dikelilingi seperti ini, dia merasa tidak nyaman dan ketakutan, semua perasaan itu terlihat dari wajahnya yang terus terlihat was-was.
Sampai pada saat ia mendengar suara pintu terbuka, dilihatnya seorang pemuda tampan, tinggi, pemuda tampan itu memiliki mata yang sama dengannya.
Seorang ibu yang tidak akan bisa melupakan wajah anaknya ini langsung bergetar hebat, air matanya mengalir begitu deras, dia berdiri dan langkah kakinya melangkah dengan lambat.
Air mata menutupi pandangannya, tetapi ia masih bisa melihat putranya tepat berada di hadapannya.
__ADS_1
Tangannya yang sudah sedikit tua hendak mengusap pipi pemuda tampan yang sekarang jauh lebih tinggi darinya, sekarang dia harus mendongak keatas agar bisa melihat jelas wajah pemuda tampan, putranya ini.
Sesaat tidak ada kata-kata yang terucap, hanya suara tangisan tipis dan getaran tangan dari Hera yang mewarnai ruangan.
"Ibu," Sean mengucapkan kata ibu dengan pelan dan penuh kerinduan.
Hera yang mendengar kata ibu terdengar di telinga nya merasakan sakit yang teramat sangat di hatinya, dia tidak mampu mengucapkan apapun.
"Kau sudah tumbuh dengan baik, kau tampan sekali, hidupmu baik-baik saja kan setelah berpisah dari ibu? maafkan ibu karena ibu tidak pantas, karena ibu gagal menjadi orang tua, ibu senang ternyata kau tumbuh dengan baik," suara pelan penuh getaran dan air mata yang terdengar dari seseorang yang sudah mengalami penderitaan yang tidak terukur itu menghancurkan hati Sean.
"Ibu, aku tidak baik-baik saja, aku tidak baik karena Ibu meninggalkan aku dan Kak Rean, aku tidak baik-baik saja karena Ibu menahan semuanya sendirian, Ibu, aku tidak baik-baik saja, Ibu aku, aku anak yang jahat, maafkan aku Ibu, maafkan aku karena hidup dengan tenang sedangkan Ibu menderita sendirian, maafkan aku Ibu,"
Pemuda tampan, kuat dan bringas itu tertunduk dan menangis tersedu-sedu, air matanya terus berjatuhan, semua orang yang ada di ruangan itu menunduk dan seperti ikut merasakan perasaan bosnya ini.
Hera yang melihat putra yang sangat ia rindukan memohon maaf dan menangis seperti anak kecil langsung memeluknya dengan erat.
"Tidak, putraku tidak salah, Ibu yang salah, maafkan Ibu, seandainya hidup Ibu lebih baik mungkin kita akan hidup bersama, mungkin Ibu bisa membesarkan kalian dengan normal, semuanya salah Ibu," ucap Hera menepuk-nepuk pundak putranya dan ikut mewarnai tangisan di ruangan itu.
Hari ini seorang ibu yang menahan semuanya di pundaknya sendirian bertemu dengan putra yang mengalami ribuan penderitaan, mereka menumpahkan kerinduan juga penyesalan.
Saat bertemu dengan ibunya, Sean semakin bertekad untuk menghancurkan Vincent Rolex dan orang-orang yang terlibat dalam menghancurkan keluarganya.
Pertemuan itu hanya terjadi sebentar, dia harus menempatkan ibunya di tempat yang aman sebelum semuanya usai.
Sean juga mengatakan pada ibunya jika Rean baik-baik saja dan nanti Rean dan juga dirinya akan menjemput ibunya lagi, mereka akan bersama setelah semuanya usai.
__ADS_1
***