
***
"Aku sangat merindukan mereka, sudah beberapa hari ini tidak bertemu, kapan ya aku memiliki anak, aku sudah tidak sabar," ucap Lily sembari menciumi Axel dan Alexa yang sedang berada di kursi dorong bayi.
Saat ini, Luna dan Lily memang sedang bertemu, Luna dan Winston akan pergi ke tempat ayahnya untuk sementara waktu, dan alangkah baiknya memberitahukan temannya ini lebih dahulu.
"Sebenarnya apa yang sedang terjadi? mengapa kau dan Winston tiba-tiba ingin pergi berlibur lagi? apakah suamimu tidak puas setelah liburan waktu itu?" tanya Lily sedikit kebingungan saat tadi Luna mengatakan akan pergi ke pulau pribadi milik ayahnya untuk liburan.
"Tidak, aku hanya merasa ingin memberikan waktu bagi ayah kandungku untuk bersama cucunya sebentar, suamiku juga ingin sekali kami berkumpul bersama, dia tidak suka ditinggalkan, jadi menurut ku memang lebih baik kami bertemu dengan ayahku dulu," jawab Luna dengan jawaban yang memang ia tahu.
Luna sendiripun sebenarnya kurang tahu mengapa mereka batal pindahan dan harus mengunjungi ayahnya dalam waktu dekat, tetapi Luna mempercayai Winston sepenuhnya, tidak ada keraguan sedikitpun dalam dirinya, dia akan mengikuti apa kata suaminya.
"Huhu, keponakan ku yang lucu ini akan berpisah dari Kakak nya yang cantik seperti ku, pasti kalian akan merindukan Kakak cantik ini kan?" seru Lily memeluk Axel dan Alexa.
Namun ucapan itu hanya disambut tawa gemas ala bayi yang seperti kebingungan melihat sikap Lily.
"Yaampunn, lucu sekali, tidak bisa dibiarkan aku harus memiliki anak secepatnya, aku harus menuntut hal ini pada suamiku!" decak Lily mengepalkan tangannya dan seperti sedang sangat bersemangat mengatakan hal itu.
Lily tidak sadar jika suaranya di dengar orang-orang yang ada disekitarnya.
Luna hanya tertawa melihat sikap spontan temannya ini, karena inilah sifat Lily yang sebenarnya, terlalu jujur dan spontan dengan apa yang ia rasakan.
Pertemuan para istri mafia ini diwarnai beberapa gosip, Lily juga meminta saran pada Luna bagaimana caranya menghempaskan wanita penggoda.
Lily menyimak begitu serius saat Luna menjelaskan bagaimana cara melawan wanita yang berani mengganggu suaminya, Lily merasa ilmu ini akan sangat berguna jika bertemu dengan gadis yang ia lupakan namanya itu nanti.
"Baiklah Luna, ilmu berharga ini akan kupelajari dan akan ku praktekkan saat aku bertemu perempuan itu lagi, awas saja jika dia berani merebut suamiku!" decak Lily begitu membara.
Kali ini, dia tidak akan kalah dari wanita itu, dia akan melakukan seperti yang diajarkan Luna padanya.
"Tapi, Luna tidakkah kau merasa aneh? sedari tadi aku merasa merinding, seperti ada yang mengikuti ku dari belakang, apakah kau merasakan nya juga?" decak Lily melihat-lihat kebelakang nya.
Sedari tadi, saat ia baru keluar dari rumah saja dia seperti diikuti oleh beberapa sosok, dan itu membuat nya merinding.
__ADS_1
Lily tidak tahu, jika yang mengikuti dirinya adalah suruhan suaminya, Rean sudah menyuruh Lily untuk tinggal di rumah saja, tetapi karena ini adalah pertemuan pentingnya dengan Luna membuat Lily bersikukuh harus pergi, karena itulah Rean memerintahkan beberapa anak buahnya untuk mengikuti Lily kemanapun ia pergi.
Luna yang tahu jika itu bukanlah sosok hantu melainkan pengawal pribadi untuk Lily hanya bisa tertawa dan pura-pura tidak tahu, Luna memang sudah melihat jika ada beberapa orang yang mengawasi mereka sedari tadi.
Luna hanya bisa geleng-geleng, dia merasa jika Rean bahkan lebih over protective dari Winston.
***
Di kediaman Braham,
Braham baru saja kembali dari aktifitas nya, dia hendak mengambil sesuatu dari rumahnya, namun baru saja sampai di pintu rumah ....
"Dor!" sebuah tembakan langsung mendarat di sisi bahunya membuat Braham berdarah dan berlari bersembunyi.
Dia tidak tahu jika dia akan disingkirkan secepat ini, tadinya dia ingin pergi setelah ini, namun Gustaf sudah satu langkah lebih cepat darinya.
Braham yang sudah terluka lari bersembunyi di ruang bawah tanahnya, dia bisa mendengar langkah kaki puluhan orang mencarinya.
"Ahh, dasar si tua Bangka itu memang benar-benar tangkas, apakah dia tidak bisa menunggu sedikit lebih lama?" decak Braham sembari meringis kesakitan.
***
"Finn, bagaimana penyelidikan rahasia yang ku perintahkan padamu tempo lalu? apakah sudah kau temukan penghianat nya?" tanya Rean pada Finn yang memang khusus melapor mengenai tugas rahasia nya itu.
Saat pembakaran gedung perusahaan Winston, Rean memang sudah menduga adanya pengkhianatan di dalam perusahaan, gedung itu dijaga dengan sangat ketat, struktur nya pun tidak mudah dipelajari dan ditembus, jika bukan karena informasi orang dalam maka tidak mungkin orang luar bisa membakar beberapa lantai begitu saja, jadi jawaban yang benar adalah, diantara mereka ada seorang pengkhianatan.
"Sudah Bos, dia sepertinya memang adalah seseorang yang membocorkan struktur gedung dan keamanan perusahaan Bos Winston," jawab Finn memang sudah menyelidiki misi rahasianya itu.
Saat pembakaran gedung, Rean menugaskan Finn untuk menghubungi Arthur dan melakukan konferensi pers hanyalah misi sampingan, misi utamanya adalah mencari tahu secara rahasia siapa sebenarnya penghianat di antara mereka.
"Bagus sekali, rencana ini akan sangat meriah, semuanya tepat pada waktunya, bersikaplah normal selama dua hari ini, ikuti arahan dari Sean nantinya, saat aku memberikan kodenya, bunuh dia dan sambungkan ke layar yang akan aku berikan kodenya nanti," seru Rean ingin memberikan pertunjukan di lelang nanti.
Dia ingin melihat wajah terkejut dan hina lawannya, dia ingin menunjukkan pada Gustaf Sin, jika kali ini yang akan memegang kendali adalah dirinya.
__ADS_1
Ditengah tawa sinis dan puas Rean setelah mengetahui jika rencananya akan berjalan dengan lancar, teleponnya berbunyi.
"Tring ... Tring ... Tring,"
Rean melihat ada nomor tidak dikenal menghubungi dirinya, awalnya Rean mengira jika ini adalah jebakan dari lawan.
"Halo?" sahut Rean sudah sedikit waspada.
"Ahhh, aku bisa mendengarkan suaramu lagi," seru seorang pria yang terdengar sedang kesakitan.
Rean kebingungan, dia seperti mengenal suara ini tetapi siapakah dia.
"Siapa ini?" decak Rean semakin penasaran, dia juga sedikit panik karena pria itu terdengar kesakitan, suaranya pun sangat pelan seperti sedang bersembunyi dari kejaran seseorang.
"Aku Braham, sepertinya aku salah perhitungan, jika nyawaku hilang sekarang, tolong sampaikan permintaan maaf ku pada adikku, Hera, ibu kalian, aku tidak tahu dimana makamnya, juga aku tidak punya keberanian untuk menjumpainya, tetapi aku senang bisa bertemu dengan keponakan ku untuk yang terakhir kalinya,"
"Adik? ibuku? makam? aku tidak mengerti! tetapi ibuku masih hidup, walaupun aku tidak tahu dia sedang ada dimana! apa yang sedang kau bicarakan sebenarnya!" decak Rean sudah panik, dia tiba-tiba saja menerima panggilan dan mendapatkan informasi seperti itu tentunya akan mengejutkan.
"Ahh, hahahaha, jadi aku telah dibohongi? pengabdian ku sia-sia, aku bodoh! si keparat itu! ahhh!" decak Braham terdengar semakin kesakitan, nafasnya pun sudah mulai terputus-putus.
"Tolong lebih jelas, apa yang ingin kau sampaikan? jika kau adalah Kakak ibuku, jadi siapa ibuku sebenarnya? apakah dia benar-benar berasal dari kerajaan Eden? kenapa informasi tentang ibu sama sekali tidak bisa di dapat?" Rean bertanya banyak sekali, jantungnya berpacu sangat cepat sekarang.
"Ahh, Rean, kembali lah ke tempat kita pertama bertemu, di lantai bawah akan ada sebuah kotak surat berkarat, letaknya tersembunyi di balik lukisan berabu, bukalah kotak surat itu, kau akan menemukan sebuah box, di dalam box itu kau akan menemukan jawabannya, tapi ingatlah, jangan mengikuti dendam ibumu ataupun aku, pilihlah jalan hidupmu sendiri,"
"Mungkin ini akan menjadi percakapan terakhir kita, aku lupa mengatakan ini padamu, aku sangat senang bertemu dengan keluarga ku setelah berpuluh-puluh tahun lamanya, aku kira adikku sudah mati saat menyelamatkan kalian saat kecil dulu, ternyata dia masih hidup, sampaikan salam ku untuk nya, katakan jika Kakak laki-lakinya ini minta maaf karena menjadi pengecut, Oh ya, sepertinya mata kita sangat mirip,"
Setelah mengatakan semua itu panggilan telepon itu langsung mati, sebelum mati Rean bisa mendengar suara tembakan dan orang ricuh sedang datang kearah Braham.
Sebenarnya alasan mengapa Braham meninggalkan bukti-bukti penyelidikan nya sendiri di tempat ia bertemu dengan Rean adalah tindakan jaga-jaga, dia tahu nyawanya bisa hilang kapan saja, jadi dia meninggalkan bukti di lokasi itu.
***
Melihat Bos-nya bergetar dan memejamkan matanya, seolah menenangkan diri membuat Finn sedikit panik.
__ADS_1
"Ada apa Bos?" seru Finn memastikan siapa tadi yang menghubungi bosnya ini.
"Finn, panggilkan Sammy kesini, aku harus pergi ke suatu tempat!" seru Rean dengan suara yang bergetar.