
***
Waktu akhirnya berlalu, malam sedang menghampiri tetapi Lily yang sedang kelelahan belum juga bangunan dari tidur nya, sepertinya dia sedang bermimpi buruk.
"Jangan, kenapa kalian semua menghancurkan kebahagiaan ku, jangan kau bunuh suami ku! aku tidak akan bisa hidup tanpanya, aku bahkan belum meminta maaf, lepaskan aku, biarkan aku bertemu suamiku," Lily berteriak dalam tidurnya, dia sedang memimpikan saat dia dikurung oleh kakeknya dan kakeknya memberitahukan jika dia akan membunuh Rean.
Sesungguhnya ingatan Lily hanyalah tertidur, dia tidak lupa, hanya saja dia terlalu takut jikalau benar suaminya dibunuh keluarga nya sendiri, demi menyelamatkan dirinya dari penderitaan Lily yang juga mengkonsumsi obat yang diberikan oleh Nick perlahan melupakan semuanya, ingatan yang akan menyakiti dirinya sendiri.
Sepertinya dia hanya ingin melarikan diri dari keputusasaannya, dia tidak tahu jika suaminya tidak dibunuh malah sebaliknya.
Dan alasan itulah yang sesungguhnya membuat Lily lebih menderita, pihak siapapun yang kalah atau mati, baik itu dari suaminya ataupun keluarga nya, yang terluka dan yang berada di tengah-tengah adalah dirinya sendiri, karena itulah mengapa ingatannya belum juga kembali, karena dia belum bisa menerima kenyataan.
Keringat sudah membasahi tubuhnya, dia sangat menderita dalam mimpi itu, hatinya tertekan dan dia tidak bisa melakukan apapun.
Sepertinya pertemuan nya dengan orang yang paling berperan dalam hidupnya membuat otaknya memaksa untuk mengingat semuanya, saat ingatan hanya tertidur, jika bertemu seseorang yang paling berpengaruh atau menjumpai tempat yang paling berkesan maka otak akan otomatis beraksi, itulah yang di rasakan oleh Lily sekarang.
"Ahhhh," dia berteriak sangat keras dan langsung bangun.
Air mata mengalir di pipinya, dia melihat sekitar dan dia mengingat saat dia bertengkar dengan suaminya, saat kata bercerai keluar dari mulutnya, saat itu adalah saat yang paling ia sesali, kata-kata yang paling ia kutuk dan membuat nya menyesal.
Tubuhnya bergetar dan dia meremas selimut nya dengan kuat, air matanya tidak berhenti mengalir, suara petir dan hujan yang mulai turun membuatnya bangun dari ingatannya yang tertidur.
__ADS_1
Dia mengingat satu persatu, segera dia bangkit dari tempat tidurnya dan melangkah, dia mencari-cari suaminya berada dimana.
"Apakah ini semuanya hanya mimpi? apakah pertemuan ku dengannya hanyalah mimpi ku? dimana dia? aku sangat merindukan nya, aku bisa gila jika saja itu hanya lah mimpi, tolong aku, aku tidak ingin mengingat apapun jika saja pertemuan ku dengannya hanya mimpi," isakan tangis yang semakin keras seolah bersahutan dengan derasnya hujan.
Tubuhnya yang masih bergetar perlahan berlari keluar dari rumah itu, dia mencari-cari suaminya yang tiba-tiba hilang dari sisinya.
Saat terbangun dan tidak melihat suaminya ada di sisinya membuat dia merasakan sakit yang teramat sangat, hal itu seolah memberitahukan Lily jika semuanya memang hanya mimpi.
Dengan kaki yang tidak mengenakan apapun,dia berlari tanpa arah, hujan deras tidak dia hiraukan lagi, dia hanya ingin menemukan suaminya secepat mungkin, jika tidak mungkin dia akan kehilangan dirinya dan tenggelam dalam imajinasinya.
(Notes : Lily udah pake baju ya, sebelum pergi di pakein suaminya 🙏 )
***
Tadi sore hari, Rean pergi sebentar saat anak buahnya menelepon dirinya mengenai Nick, dia memang sangatlah bahagia, tetapi dia akan memberikan pelajaran bagi Nick yang telah merenggut kehidupannya selama lima tahun, dia tidak akan memberikan ampun sedikit pun.
Sebelum Rean menjemput anak dan istrinya, dia sudah menghubungi saudaranya, Winston untuk menekan perusahaan Nick, dan sekarang Nick sedang diambang kebangkrutan.
Nick yang telah tahu apa yang akan menjadi upahnya saat mengusik Rean sedang duduk di ruangan interogasi markas mafia yang di kepalai oleh Rean. Ya, dia memang sadar jika selamanya dia tidak akan bisa menyembunyikan Lily.
Dihadapan nya sudah ada Rean yang sedari tadi langsung datang ke tempat itu.
__ADS_1
Sembari menyentuh jam tangan yang dia gunakan, Rean menanyakan sebuah pertanyaan untuk Nick.
"Kenapa kau lakukan itu?" suara rendah namun mata tajam sungguh sudah membuat Nick merinding, dia melihat bagaimana wajah seorang mafia saat sedang serius dan hal itu ternyata sangat menyeramkan.
"Aku sangat mencintai nya, kau mungkin tidak tahu tetapi sebelum kau mengenal nya aku sudah menyukainya, aku hanya mengambil kesempatan yang tidak akan pernah datang lagi, aku hanya ingin mencoba apakah dia akan mencintaiku juga jika kami hidup bersama ...." belum sempat Nick melanjutkan ucapannya sebuah pukulan kuat mendarat di pipinya, sampai ia tersungkur dari kursi dan pinggiran bibirnya yang juga terkena pukulan mengeluarkan darah.
"Tahu kah kau karena keegoisan mu seberat apa hidup yang kujalani? aku hampir mati dan aku merindukan nya setiap hari, itu sangat mencekik dan kau bilang karena kau mencintai nya dan ingin dia mencintaimu jika kalian hidup bersama? lelucon apa yang ingin kau mainkan? jika saja jawaban menjijikkan itu keluar dari mulut mu lagi, aku akan membunuhmu sekarang juga!" suaranya yang nyaring dan menggetarkan membuat semua anggotanya yang juga berada di tempat itu terdiam, mereka bisa melihat jika nyawa pria yang sedang tersungkur itu tidak akan bisa selamat.
"Persetan dengan itu! obat apa yang kau berikan kepadanya sampai ia lupa semuanya!" sekarang Rean sedang menggulung lengan bajunya, jika Nick salah menjawab sedikit saja maka dia akan meninju nya dengan sangat kuat.
"Aku memberinya obat yang diracik oleh dokter pribadi ku, dia mengkonsumsi obat itu hanya selama satu bulan, harusnya efek obat itu tidak akan bertahan lama dan tidak akan menghapus semua ingatan, tetapi sepertinya bukan obat itu yang membuatnya lupa segalanya, tetapi tekanan dan dia tidak siap menerima kenyataan," sekarang Nick tidak menutupi apapun, dia memberitahukan segala yang ia tahu, karena berbohong pun tidak akan ada gunanya lagi, dia telah kehilangan segalanya, dan dia tahu konsekuensi ini sejak saat dia memutuskan menyembunyikan Lily untuk dirinya sendiri.
"Pertanyaan terakhir! apakah kau pernah menyentuhnya?" sekarang sebuah pistol sudah mengarah ke kepala Nick, dan mata Rean menunjukkan jika ia sudah siap membunuh nya.
Nick tersenyum lalu dia memandang langit-langit, dia menghela nafasnya dan air matanya keluar.
"Aku ingin, setiap hari, setiap kali aku melihatnya aku ingin menyentuhnya, tapi aku tidak bisa, karena di hatinya selalu saja ada orang lain, walaupun dia melupakan ingatannya sepertinya hatinya tidak, di matanya selalu ada kerinduan dan kesedihan, dan bodohnya aku, aku selalu membodohi diriku sendiri dan mengatakan jika aku masih memiliki kesempatan, padahal jelas itu tidak ada,"
"Aku beberapa kali mencoba melamarnya, tetapi matanya tidak pernah melihat kearah ku, dia selalu merindukan orang lain, sepertinya orang itu adalah kau, seseorang yang aku pikir dulu akan membuatnya menderita,"
"Bunuh lah aku sekarang, karena semua perjuangan ku sudah hancur, perusahaan ku, Lily dan Levi sudah kembali kepadamu, aku sudah tidak memiliki apapun,"
__ADS_1
Nick berbicara dengan jujur, matanya kosong dan menunjukkan sakit hati yang dalam, sebesar itulah dia menginginkan Lily namun tempat di hati wanita itu sudah lama di isi oleh orang lain.
"Dorr!" akhirnya satu tembakan berbunyi dan membuat semua pembicaraan berkahir.