Suamiku Seorang MAFIA

Suamiku Seorang MAFIA
Menyingkir dari hadapanku!


__ADS_3

***


Ditenga jalan itu, lampu yang tadinya merah sudah kembali hijau, semua mobil melaju kembali sebagai mana mestinya.


Kecuali mobil yang Rean kendarai, Rean seolah membeku dan tidak bergerak, dadanya berkecamuk, sampai semua orang yang ada di belakangnya mengklakson sekuat mereka.


Namun bukannya melaju, Rean malah turun dari mobil itu dan mengejar wanita yang tadi ia lihat menyebrang tepat di hadapan mobilnya.


Dia berlari sekuat tenaga, tubuhnya bergetar dan matanya berair, semua orang yang berada di depan jalannya dan menghalanginya disingkirkan oleh Rean hanya untuk mengejar wanita itu.


Setelah beberapa saat mengejar dan mengikuti wanita itu, Rean berhenti dibalik tembok sebuah rumah yang sangat besar, wanita itu disambut oleh seorang pria yang jelas-jelas lebih muda dari wanita itu.


"Apakah dia adalah keluarga baru mu? sial! mengapa aku bisa sampai semarah dan sekesal ini! sudah tidak ada lagi hubungan antara aku dan dia!" ketus Rean mengusap dengan kasar rambut nya dan segera pergi dari tempat itu.


Wanita yang ia lihat tadi adalah ibunya, Hera, seseorang yang menaruh luka hati paling dalam bagi Rean, seseorang yang menjual mereka demi membayar hutang dari rentenir, setidaknya itulah yang Rean tahu mengenai wanita paruh baya yang masih kelihatan cantik itu.


Rean yang sudah kacau oleh memori menyakitkan yang biasanya ia tekan menggunakan obat penenang itu satu persatu muncul lagi, karena tadi melihat ibunya, seolah memacu memori itu untuk datang dan mengendalikan Rean lagi.


Dia sangat membeci ibunya, karena ibunya dia harus mengalami hal-hal mengerikan dibawah kendali orang-orang gila seperti contohnya Wira. Layaknya manusia biasa, Rean tetap merasa trauma dan selama ini Rean mengkonsumsi obat penenang untuk menekan rasa trauma itu.

__ADS_1


Walaupun Rean telah mengalami banyak pelatihan dan pengalaman untuk menjadi seorang mesin pembunuh seperti halnya Winston dan Sean, namun trauma dan rasa takut yang telah tertanam itu tetap juga berbekas dan tidak hilang.


Rasa sakit dan penderitaan lagi-lagi menghujam jantungnya, jika saja saat itu tidak ada Winston mungkin dia dan adiknya sudahlah mati.


Ditengah kekalutan dan rasa benci yang kembali muncul, Rean melupakan janjinya dengan Lily, hari semakin gelap namun Rean tidak pergi ke restoran seperti yang ia janjikan, dia bahkan meninggalkan mobilnya ditengah jalan sampai harus di derek oleh petugas keamanan sekitar.


Tubuh Rean berkeringat, matanya merah dan rasa benci yang tertanam di dalam dirinya seolah berteriak keluar, Rean sudah tidak sanggup, dia harus melampiaskan kebencian dan kekesalan ini, dia ingin melupakan hari ini, dia tidak ingin wajah wanita itu terngiang-ngiang di kepalanya.


Setelah beberapa saat berjalan seperti seseorang yang kehilangan arah, Rean sampai di sebuah klub malam, hari ini dia berencana meneguk minuman beralkohol yang sangat banyak sampai ia tidak sadarkan diri, sampai ia lupa tentang hari ini.


Saat Rean masuk kedalam ruangan penuh cahaya kelap-kelip dan suara musik yang sangat keras, semua mata wanita-wanita yang ada disitu langsung tertuju padanya.


Tanpa basa-basi Rean langsung memesan banyak sekali minuman, dia meneguk minuman itu bahkan tanpa gelas, dia langsung meneguknya dari botol yang telah di antatkan ke mejanya.


"Sayang, apakah kau butuh teman? kau menarik perhatian ku, kau pastinya sangat hebat dalam hal ranjang, apakah kita perlu menyelinap dari sini dan melakukannya?" bisik seorang wanita berpakaian terbuka dan ketat.


Sepertinya wanita itu begitu terpesona akan penampilan Rean, sampai dia rela mendekati Rean lebih dahulu, padahal biasanya pria lain lah yang mendekati nya terlebih dahulu.


Tanpa tahu malu dan dengan begitu percaya diri, gadis itu langsung duduk di pangkauan Rean dan tersenyum intens melihat Rean.

__ADS_1


"Wah, aku sudah tidak memiliki kesempatan lagi, pria tampan itu sudah didekati oleh putri pemilik klub malam ini," seru salah seorang gadis yang tadi juga berniat mendekati Rean.


"Iya, dia juga sangat cantik, pastinya pria itu langsung menerimanya," seru yang lainnya sudah tidak memiliki harapan untuk mendekati Rean.


"Bau! menyingkir dari hadapanku! sebelum kau melihat neraka!" bisik Rean tersenyum sinis pada gadis yang bernama Sharon.


Dalam keadaan yang mabuk, Rean terlihat sangat mendominasi, sifat asli di dirinya yang ia tekan selama ini sudah muncul, dia sangat membenci wanita, apalagi wanita seperti ini, yang dengan lancang berada di pangkuannya itu.


Rean membenci baunya dan cara mereka berpakaian, itu mengingatkan Rean pada ibunya.


Sharon yang melihat betapa tampan dan mendominasi nya pria yang baru ia targetkan itu semakin tertarik dan ingin mendapatkan Rean bagaimana pun caranya, Sharon tidak tahu jika dia sedang bermain api, dia tidak tahu jika Rean adalah seorang mafia dan mesin pembunuh jika dibutuhkan.


Rean yang langsung mengusir Sharon pergi sekarang ini sudah dalam keadaan mabuk, dia tidak berhenti menguk minuman beralkohol itu, karena pertemuan tidak terduga antara dirinya dan Hera sungguh bisa membuat Rean kehilangan akal sehatnya.


Deringan ponsel yang sudah tergeletak jatuh di kursi samping Rean sudah tidak bisa ia dengar lagi, karena musik yang terlalu keras juga pengaruh alkohol membuat Rean tidak menyadari ponselnya sudah terjatuh dari kantongnya.


"Tring ... Tring ... Tring"


Ponselnya terus saja berdering, sampai pada akhirnya Sharon yang masih mengawasi Rean mengangkat ponsel Rean.

__ADS_1


__ADS_2