
***
Malam itu Vincent Rolex dan jajarannya berpesta di rumahnya, mereka tidak sabar menunggu matahari menyingsing, mereka tidak sabar dengan kebanggaan yang akan mereka terima.
Vincent Rolex juga demikian, dia tidak sabar garis keturunan nya akan meneruskan takhta, keinginannya yang sudah tersirat sedari dulu.
Malam akhirnya usai, pagi telah menyingsing, Sean dan Logan telah di arak menuju sebuah altar, mereka di ikat di tengah altar itu, tempat itu melingkar, jadi semuanya bisa melihat keadaan Sean dan Logan yang terlihat kepanasan akibat teriknya matahari.
Ditempat yang lain, lebih tepatnya di istana utama, anggota Vincent Rolex sudah siap sedia untuk menghabisi nyawa sang raja, mereka sudah berada di titik yang ideal untuk segera bisa menembak mati sang raja.
"Panas sekali, Kakak ku harus membayar mahal untuk ini, dia menyuruhku melakukan ini semua, cih," bisik Sean bergidik kesal pada Logan yang ada tepat dibelakang nya juga sedang di ikat.
"Sabar Bos, bentar lagi Bos Rean akan sampai," seru Logan juga harus menyipitkan matanya karena matahari benar-benar terik hari itu.
"Hei anak yang malang, jangan salahkan kami untuk sesuatu yang terjadi hari ini, salahkan lah darah yang mengalir di tubuhmu, kami hanya menuntut hak kami," seru Vincent sedang duduk di singgasana terlihat begitu teduh karena ada langit-langit yang menaungi kepalanya.
"Ah, kau pengecut Vincent Rolex, aku tahu apa yang akan terjadi hari ini, tapi bisakah kau menyuruh anggota mu untuk memayungi aku? disini panas sekali, atau bisakah kau memberikan aku air es? aku haus sekali,"
"Biasanya kan orang-orang yang akan mendapatkan eksekusi akan dituruti keinginannya, aduh panas sekali," decak Sean menyipitkan matanya dan terlihat sangat santai.
Dia hanya terganggu oleh panas nya matahari bukan terganggu oleh eksekusi yang akan ia terima.
__ADS_1
"Kau terlalu meremehkan situasi saat ini Tuan Sean, di kerajaan ini dan di dunia luar memiliki hukum yang berbeda, tidak seharusnya kau meremehkan situasi ini, kau akan menyesali fakta bahwa kau menginjakkan kaki di tanah ini, seharusnya kau bersembunyi saja seperti yang dilakukan oleh ibumu," seru Vincent sedikit kesal karena Sean terlihat santai dan bahkan tidak ketakutan sedikit pun.
Mendengar kata ibu keluar dari mulut Vincent benar-benar mempengaruhi mood Sean, dia tertunduk dan kemudian mengangkat kepalanya ke atas, tepat memandang ke arah Vincent Rolex yang sedang duduk seolah ia adalah hakim dan raja yang akan mengeksekusi Sean dan Logan.
"Hati-hati terhadap ucapan mu Vincent, kau pastinya tahu mencuri sesuatu itu memang menegangkan, akan tetapi saat si pemilik mengetahui dalang dari si pencuri maka si pencuri akan mendapatkan hukuman, hari belum usai, dan aku belum mati, siapa yang tahu darah siapa yang akan mengalir disini," seru Sean tersenyum sangat menyeramkan, dia seolah diberkati matahari yang ada di atas kepalanya.
Saat mendengar ucapan nyaring dengan nada mengejek itu, bulu kuduk Vincent bergidik, matanya membesar, instingnya mengatakan jika akan ada sesuatu yang besar akan terjadi.
Namun, sepertinya hanya dia yang bisa merasakan hal itu, semua orang yang ada disitu, para pejabat dan pemangku kepentingan hanya tertawa terbahak-bahak seolah mengolok-olok perkataan Sean.
Saat perkataan nyaring dari Sean berakhir, langkah kaki seseorang muncul dari arah utara podium, dia berjalan sendirian tetapi tanpa mengeluarkan ucapan pun semua orang sudah tahu siapa pria yang berjalan menuju podium itu.
Kericuhan dan tawa yang tadi terdengar nyaris membisu, yang ada hanyalah suara sepatu dari pria yang datang ke podium utama.
"Disinikah? kalian membunuh keluarga ku? disinikah? ibuku menangis dan menahan penderitaan nya? di tangan yang kotor dan diatas tawa menjijikkan kalian hidup ibuku hancur, kau kah dalangnya? VINCENT ROLEX?" Rean berbicara dengan lantang, dia berjalan mengitari altar podium, dia melihat ke segala penjuru dan matanya berakhir pada Vincent Rolex yang duduk di kursi tertinggi yang menjadi hakim pemutus eksekusi.
"Kau sungguh datang sendirian, aku tidak tahu kau sudah mengetahui segalanya, tetapi itu sudah tidak penting, kau dan adikmu, akan mati disini, darah keturunan sang raja akan berakhir hari ini juga, tangkap dia dan mulai eksekusinya!" seru Vincent berdiri dari tempatnya duduk, namun entah mengapa getaran tubuhnya tidak bisa ia sembunyikan.
"Ayah, apakah kau tidak apa-apa?" bisik Daren pada ayahnya yang kelihatan bergetar ketakutan itu.
"Diamlah, eksekusi ini harus dilakukan dengan cepat, aku merasa jika kita tidak melakukan nya dengan cepat maka akan ada hal besar yang akan terjadi!" bisik Vincent menggenggam erat jubah besar yang sedang ia kenakan untuk meredakan kegugupan dan getaran hebat tubuhnya.
__ADS_1
"Baik Yang Mulia!" seru para prajurit yang sudah berjaga dan mengelilingi tempat itu sedari awal.
Rean sekarang sudah di kelilingi oleh puluhan prajurit yang sepertinya berpangkat jenderal, mereka mengenakan baju besi pelindung diri juga senjata api yang lengkap di pinggang mereka.
"Hm? kolot sekali cara berpakaian kalian? tidak kah Jirah besi itu terlalu berat? bagaimana kalian bergerak secara senyap jika mengenakan itu?" ketus Rean memandang rendah para prajurit yang mengelilingi nya.
"Pffft, tidak ku sangka, Kakak ku memiliki bakat mengejek yang hebat! hahaha," Sean tertawa terbahak-bahak mendengar ejekan dari Rean.
Dan bahkan Logan yang sedari tadi diam bagaikan patung ikut tertawa geli mendengar ucapan Bos-nya.
"Kurang ajar! kalian terlalu meremehkan kami! dasar pemilik darah tercemar! bunuh mereka sekarang juga!" seru Vincent merasa sangat diremehkan oleh kedua bersaudara itu.
Tepat sebelum terjadi gencatan senjata, seorang ajudan dengan suara nyaring dan menggetarkan terdengar di seluruh penjuru.
"Raja telah tiba!" seru ajudan itu membuat semua orang bergetar dan saling melihat satu sama lain, apalagi Vincent Rolex.
Jelas-jelas dia sudah mengutus pembunuh terbaik nya untuk membunuh raja saat ini juga, namun mengapa raja bisa datang ke tempat ini. Beribu-ribu pertanyaan berputar di kepalanya.
Semuanya menjadi ricuh, ada yang ingin kabur, ada juga yang tetap tinggal, karena merasa prajurit ada di pihak mereka, kedatangan raja tidak akan mengubah apapun.
Vincent mengedipkan matanya berulang kali sampai akhirnya jubah keemasan dan suara langkah kaki sampai di podium, sang raja benar-benar datang dan keadaan nya masih bugar.
__ADS_1