Suamiku Seorang MAFIA

Suamiku Seorang MAFIA
Anak kecil


__ADS_3

***


Sudah sekitar tiga minggu Hera tinggal di kediaman Rean, tetapi Rean seperti orang lain, tidak memperdulikan kesehatan nya, dan yang paling membuat Hera terluka adalah bahwa putranya ini terlihat seperti mayat hidup, raganya ada namun hatinya seperti mati.


Hera merasa sebagai seorang ibu, dia harus melakukan sesuatu, dia harus menyelamatkan putranya ini dari jurang kesakitan.


Dia pernah mengalami hal yang serupa jadi dia yakin jika cara ini adalah cara terbaik untuk Rean saat ini.


***


Hera dan Sharon sedang menyiapkan makan malam untuk mereka, jika Hera datang ke rumah Rean memang Sharon selalu berkunjung, Sharon sangat pintar mengambil hati orang lain, dia berbakat dalam hal itu, disamping itu dia juga ceria dan tidak ambil pusing jika Rean selalu tidak menganggap nya.


Sharon percaya suatu saat nanti Rean pasti membuka hati untuknya walaupun itu sedikit.


"Ada apa Ibu? kenapa Ibu sedari tadi melihat ku seperti itu?" Rean bertanya pada Ibunya di meja makan, saat ini mereka sedang menyantap makan malam bersama.


"Hmm, jadi, itu, Ibu ingin menjodohkan mu dengan kenalan Ibu," Hera mengucapkan dengan spontan dan menutupi kegugupannya.


"Apa perjodohan? Ibu, tolonglah, aku tidak mau," Rean sedikit mengeraskan suaranya, saat ibunya mengatakan perkataan itu pada dirinya.


"Rean, aku tahu bagaimana rasanya ditinggalkan oleh orang yang sangat kita cintai, tetapi lihatlah Ibu, Nak, Ibu tidak bisa membiarkan mu hancur seperti ini, kau harus tetap hidup dan bahagia demi orang yang kau cintai, dia juga pasti tidak ingin kau merusak hidup mu seperti ini," Hera mencoba membuka pikiran Rean, namun tentu saja tidak akan semudah itu.


Rean yang mendengar ucapan ibunya sedikit mengeras membuat dia mundur dan menunduk, dia bertahan sampai sekarang adalah karena ibunya dan adiknya, dia tidak bisa membuat ibunya terus khawatir dan menjadi beban pada mereka.


Tetapi tetap saja Rean belum bisa meng-iya kan perjodohan yang di atur ibunya, butuh berminggu-minggu sampai akhirnya Rean dengan terpaksa mengatakan terserah.

__ADS_1


Sharon adalah pilihan satu-satunya yang dikenal baik oleh Hera, dahulu Sharon sempat berteman dengan Rean dan Sean saat kecil, jadi menurut Hera, Sharon adalah pilihan yang tepat.


***


"Persetan dengan perjodohan itu! apakah aku mati saja? kenapa Kau tidak adil padaku?" Rean berteriak sembari menengadahkan kepalanya ke atas langit, dia merasa kehidupan nya sungguh tidak adil.


"Aku hanya mencintai satu orang dan Kau mengambil nya dariku, hanya Dia yang ku inginkan tetapi itu pun Kau ambil, kenapa? sekarang yang tinggal hanyalah imajinasi ku," isakan tangis terdengar menyahuti angin yang sedang berhembus, dia sedang berdiri di balkon kamarnya yang terbuka.


Dalam pandangan Rean sekarang dia melihat istrinya, Lily sedang menggandeng tangannya, imajinasi ini sudah ada sejak Lily tidak kunjung ditemukan.


Dan imajinasi ini hanya bisa dilihat oleh dirinya sendiri, Lily terlihat begitu nyata menggandeng tangannya membuat Rean semakin terluka.


"Kenapa kau pergi, kau berjanji tidak akan meninggalkan aku, kau berjanji padaku, tapi kau tetap pergi," dia berbicara pada Lily yang tepat ada di sisinya.


Lily hanya tersenyum dan kemudian menghilang. Rean yang sudah tahu jika itu semua hanya imajinasi nya tersungkur dan menangis.


***


Waktu terus berlalu, keadaan Rean semakin memburuk, perjodohan antara dirinya dengan Sharon membuat imajinasi nya akan Lily semakin menjadi-jadi.


Sekarang Lily akan muncul di sekitar nya jadi lebih sering, terkadang Rean sampai tidak bisa membedakan mana imajinasi dan yang mana kenyataan karena keduanya terlihat sama.


"Bagaimana menurut mu? apakah gaun ini bagus?" Sharon bertanya pada Rean yang sedang melihat nya dengan tatapan yang aneh.


Sekarang mereka sedang ada di sebuah toko, Sharon sedang mencoba baju pernikahan berwarna putih di toko itu, Hera ikut menemani agar Rean tidak akan pergi meninggalkan Sharon begitu saja seperti sebelum-sebelumnya.

__ADS_1


"Lily, kau cantik sekali," suara yang lirih terdengar dari mulut Rean, tangannya hendak mengusap lembut pipi Sharon yang dia imajinasi kan sebagai Lily.


Dia sekarang sedang melihat Lily berpakaian indah dihadapan nya dan sedang tersenyum.


Hanya beberapa detik setelah itu, dia menyadari jika itu bukan Lily melainkan Sharon.


"Ma ... maaf, kepalaku pusing, aku harus pergi," Rean yang sudah bergetar langsung berjalan dengan cepat keluar dari toko meninggalkan Sharon, ibunya dan juga Sammy yang ia paksa ikut tadi.


Melihat keadaan itu, Ibunya semakin khawatir, dia merasa jika putranya sudah jatuh terlalu dalam.


"Bos, tunggu aku," Sammy sedikit berteriak saat bos-nya tiba-tiba berjalan sangat cepat meninggalkan toko.


Rean yang berjalan sangat cepat sampai menabrak seorang anak kecil yang sepertinya sedang berjalan-jalan dengan pengasuhnya.


"Brukkk," anak kecil itu sampai terjatuh.


"Tuan muda apakah kau tidak apa-apa?" seru pelayan yang tadi sedang menggandeng anak kecil itu.


"Maafkan aku Nak, Paman tidak sengaja," seru Rean langsung dengan cepat berjongkok dan menyodorkan tangannya pada anak itu.


"Ahh, kakiku sakit sekali, aku tidak mau tahu Paman harus mentraktir ku ice cream!" seru anak itu sembari membalikkan wajahnya dan melihat tepat kedepan wajah Rean.


"Deg ... Deg ... Deg!" jantung Rean serasa mau copot saat melihat wajah anak kecil itu.


Wajahnya menjadi pucat pasi dan terkejut, tetapi bukan hanya dia saja yang terkejut, Sammy dan pengasuh anak kecil itu pun terkejut.

__ADS_1


Bagaimana tidak, anak kecil itu seperti kembar dengan Rean, wajah mereka sangat mirip, bisa dibilang anak kecil itu versi mini dari Rean.


__ADS_2