Suamiku Seorang MAFIA

Suamiku Seorang MAFIA
Hari bersejarah (II)


__ADS_3

***


Di kerajaan Eden,


"Bagaimana ini? apa yang terjadi? bukankah keluarga Rolex sudah menghabisi raja? lalu apa ini?" bisik seorang menteri yang hadir di situ.


"Aku juga tidak tahu, tetapi menteri pertahanan ada di pihak kita, semua prajurit memihak kita, kedatangan sang raja tidak akan merubah apapun," bisik yang lainnya begitu percaya diri.


"Permainan meriah akan segera di mulai, aku memang jenius," decak Sean tersenyum puas, dia lupa jika semuanya ini adalah rencana Rean, kakaknya.


Pertemuan rahasia yang terjadi sebelum perjamuan adalah pertemuan antara Sean dan kakeknya yaitu Saul Regis, hari ini semuanya akan di putuskan, kesepakatan yang terjadi hari itu akan di kumandangkan hari ini juga.


Tentu saja perhitungan Rean tidak pernah salah, dia dilahirkan sebagai seorang jenius, Sean datang membawa beberapa anggota, jadi para anggota Vincent sudah dihabisi oleh perkumpulan mafia Rean.


***


"Vincent Rolex, berani nya kau ingin mengakhiri darah ku? apakah kau ingin mengkhianati tanah mu? aku akan memberikanmu waktu 30 detik dan berlutut sekarang juga!" seru Saul Regis dengan nyaring.


Saul Regis tidak naik ke kursi utama yang sedang di duduki oleh Vincent, melainkan ia pergi ke tempat Sean dan Logan yang sedang di ikat.


Saul Regis melepaskan ikatan tali yang ada di tangan cucunya, dia melihat Sean penuh rasa kasih juga rasa bersalah.


Saul menggenggam erat tangan Sean yang membuang mukanya melihat Saul, langkah kaki sang raja sekarang melangkah kearah Rean yang jaraknya tidak jauh dari mereka.


Saul menggenggam tangan Rean dan Sean, dia mengucapkan sesuatu dan menitikkan air mata.


Tidak ada seorang pun yang bisa mendengar ucapan penuh kasih itu, hanya Rean dan Sean yang bisa mendengar nya. Mereka berdua mengangguk saat mendengar ucapan itu dari Kakeknya ini.


Selang beberapa detik, terdengar lagi suara ajudan raja yang berbicara dengan nyaring sampai bergema di penjuru ruangan, dia mengambil sebuah titah di tangannya dan membacakannya dengan lantang.


"Hari ini, kerajaan Eden menemukan kembali kejayaan nya, Eden memanggil penguasanya, kedua bersaudara yang telah lama hilang akhirnya kembali, tahta akan jatuh ke tangan salah satu dari kedua bersaudara ini setelah melakukan ritual leluhur kita, jadi siapapun yang berani mencelakai darah sang keturunan raja, dia menghianati tanahnya, dan hukumannya adalah mati!" itulah pengumuman yang di serukan ajudan itu membuat semua orang menjadi gempar.

__ADS_1


Semua orang berdebat dengan orang di sampingnya sampai membuat suasana menjadi tidak terkendali.


"Diam semuanya!" teriak Vincent dengan wajah merah padam, tubuhnya bergetar karena amarah yang meledak.


"Jangan lupakan tujuan kalian datang kesini, kita akan berkuasa dan itu tidak bisa di ganggu gugat lagi! jika raja dan keturunannya mati disini memangnya titah masih berlaku? hahaha! Saul Regis, kesombongan mu tidak pernah berubah dari dulu, aku akan mengajarimu bagaimana rasanya menderita! kerajaan akan jatuh ke tangan yang berkuasa dan kejayaan mu akan sirna, kejayaan keluarga Regis akan sirna!"


"Keluarga mu yang angkuh dan darah mulia yang kau agungkan akan tercurah kan di altar ini! BUNUH MEREKA SEMUA!" teriak Vincent menunjuk dengan angkuh menggunakan telunjuk jarinya.


Para prajurit itu sedikit bergetar, mereka ragu namun saat komandan dan menteri pertahanan mengangguk kan kepalanya seolah memberikan persetujuan untuk membantai raja berserta ajudannya.


"Dor ... Dor ... Dor!" tembakan nyaring akhirnya meledak, semua orang yang memiliki kepentingan yang hadir di lindungi banyak prajurit, sang raja di lindungi oleh ajudannya namun akhirnya kehilangan nyawa akibat timah panas yang menembus tubuhnya.


Sedangkan Rean seolah menunggu waktu yang tepat untuk melancarkan serangan balik, yang ia lakukan sekarang adalah bertahan dan menyerang seadanya.


Ucapan pelan dari Saul Regis adalah penyebabnya, dia ingin keinginan Saul terpenuhi dan setelah itu ia bisa melancarkan serangan.


"Dor!" suara tembakan yang nyaring akhirnya menembus dada Saul Regis, darah bercucuran di altar, dia tersungkur dan dia melihat kearah langit.


"Inilah harga yang harus aku bayar, atas kebodohan dan ketamakan ku! setelah aku membayar dengan darahku, aku ingin tanah ini melindungi cucuku, permintaan maaf ku untuk semua yang menderita karena ku, untuk Hera dan keluarganya, biarkanlah darahku membayar itu semua!" Saul berteriak pada leluhurnya, seorang raja yang menundukkan dirinya dan memohon ampun atas dosanya.


Langit seolah ikut menyahuti teriakan penuh darahnya, langit yang cerah berubah menjadi gelap, hujan dan petir menyahuti teriakannya sampai akhir nafasnya.


Darah Sang raja mengalir di altar, namun keturunannya hidup dan akan meneruskan perjalanan nya.


***


Pertemuan rahasia antara Saul Regis dan Sean tempo lalu seolah menjadi titik terang bagi Saul, dia memikirkan ini dengan keras, apa yang harus ia lakukan sebagai pengampunan dosa, apa yang harus ia lakukan untuk membawa kemalangan bersamanya.


Akhirnya ia tahu, dengan darahnya yang mengalir di tanah kelahirannya, maka semua penghianatan dan kemalangan akan ikut bersamanya.


Hanya dengan darahnya lah salah satu cucunya akan bisa duduk di atas takhta, saat kematiannya sisa-sisa keadilan yang masih memihak sang raja akan menjadi tombak pendukung bagi kedua cucunya ini.

__ADS_1


***


Sebelum kematian Saul Regis, saat ia menggenggam tangan kedua cucunya, kata-kata yang ia bisikkan adalah,


"Biarkan lah aku mati disini, jika darahku mengalir maka dukungan penuh tidak akan terpecah lagi, maafkan kebodohan dan ketamakan ku, dan terimakasih telah membawa Hera saat lalu, dia hanyalah awal dari tindakan ku agar kalian kembali ke tanah ini, maafkan aku untuk ke egoisan ku yang terakhir ini! aku tahu ini terlambat tetapi ayah kalian, putraku tidak pernah menghianati ibu kalian juga kalian, dia membawa cintanya sampai ia mati, akulah yang berdosa maka biarkanlah aku menebus dengan darahku!"


Hal itulah yang mengakibatkan Rean dan Sean tidak bertindak saat timah panas menuju Kakek mereka, karena hal itu adalah permintaan terakhir Saul Regis, Raja dari kerajaan Eden.


***


Hujan deras dan petir menyambar, sang raja telah kehilangan nyawanya juga beserta ajudan setianya.


Namun api dan penguasa tanah Eden belum lah sirna, Rean dan Sean adalah masa depan kerajaan Eden.


"Raja telah mati, kekuasaan akan jatuh ke tangan kita! hahahaha! tidak ku sangka hari seperti ini akan datang! bunuh sisanya!" seru Vincent seperti seorang yang gila karena terlalu bersemangat dan tenggelam dalam ketamakan nya.


Sedangkan Rean dan Sean yang sedari tadi bertahan sekarang sudah di kerumuni oleh puluhan prajurit lengkap dengan senjatanya. Belum lagi yang ada di luar, sekarang mereka telah di kepung.


"Hei bajingan! tidak bisa kah kau berkabung sedikit? majikan mu baru mati dengan hormat! dasar orang buangan!" decak Rean sudah membunyikan sinyal yang ada di kantung nya.


Sinyal yang akan diterima Winston dari tempat persembunyiannya, dan akan membunuh semua orang yang ada di gedung terbuka itu.


Vincent yang mendengar hinaan itu menjadi semakin murka, dia mengambil sendiri senjata api di tangannya dan membidik kearah Rean.


"Jangan berbicara seolah kau yang menang anak muda! keluarga ku tidak lagi hina seperti dulu, keluarga Rolex akan memimpin di tanah ini!" seru Vincent meluapkan emosi nya.


"Kita lihat saja!" decak Rean yang sudah basah kuyup, dia tersenyum sinis membuat Vincent semakin cemas dan takut, dia sadar jika ada yang tidak beres telah terjadi.


***


Jangan lupa di like 🖤

__ADS_1


__ADS_2