
***
Rean hanya terdiam saat mendengar jawaban cepat dari istrinya, dia masih sedikit ketakutan, dia tidak ingin memperlihatkan ekspresi seperti ini ke istrinya
Rean hanya mempererat pelukannya, dia menumpahkan perasaan nya tanpa kata-kata.
Setelah beberapa saat ...
Namun sepertinya waktu sebentar bagi Rean terlalu lama bagi Lily, karena Rean sudah memeluk Lily selama hampir sepuluh menit, dan kaki Lily sudah mulai pegal sekarang.
“Umm, aku senang sih sebenarnya, tapi, tapi kaki ku sudah pegal, bagaimana cara mengatakannya, aku takut jika kukatakan dia akan kecewa,” gumam Lily mencari kata-kata halus agar Rean mau melepaskannya dulu.
“Kau tidak boleh keluar dari rumah setidaknya dalam minggu ini, apakah kau mengerti?" ucap Rean yang sudah melonggarkan pelukannya sebentar dan melihat kearah wajah Lily.
__ADS_1
"Ah, akhirnya tanpa aku bersusah payah mencari cara, dia melonggarkan pelukannya sebentar, badanku sudah pegal, eh tapi tunggu dulu, kenapa dia kelihatan marah? Dan kenapa juga aku tidak bisa keluar rumah?" gumam Lily merasa ada hal yang aneh dari permintaan suaminya.
“Kenapa aku tidak boleh keluar rumah? Hari ini aku memang tidak keluar karena ada alasannya, jika di pikir-pikir lagi, sebenarnya kenapa aku harus dijaga oleh pengawal?” tanya Lily sedikit mempertanyakan kegiatan Rean diluar sana, sepertinya ada yang tidak diberitahukan oleh Rean padanya.
“Kau akan tahu nanti, jangan mengalihkan pembicaraan, kau harus menjawab pernyataanku dan kau harus berjanji,” ketus Rean tidak ingin mengalihkan arah pembicaraan ini sedikitpun.
“Aduh, bagaimana ini? Sepertinya dia serius, padahal aku ingin meminta ijin padanya agar aku bisa pulang sebentar karena ayahku sedang sakit, aduh, kenapa kondisinya tidak tepat begini sih?” ketus Lily dalam hatinya, dia semakin bingung bagaimana nanti caranya meminta ijin dari suaminya ini.
“Cup!” Rean langsung mencium Lily dan menjitak dahinya.
“Awww, sakit,” ketus Lily yang baru saja terbuyarkan dari angan-angannya dan rencana yang sedang ia coba susun di dalam imajinasinya.
“Salahmu sendiri, kau memikirkan hal lain saat aku tepat berada dihadapanmu. Jika itu kau, kau hanya harus memikirkanku dan berfokus padaku, jika tidak, aku akan memberikanmu hukuman setiap hari, setiap pagi, setiap siang, setiap waktu,” bisik Rean tersenyum sangat nakal pada istrinya ini.
__ADS_1
“Hukuman? hukuman jenis apa yang bisa dilakukan setiap waktu seperti itu? lagian apakah kau tega menghukum istrimu sendiri?"
"Tunggu ... Tunggu, apakah maksudmu hukuman seperti anak kecil yang akan dipukul tangannya dan disuruh menghadap dinding? Memangnya kesalahan apa yang sudah kulakukan? Aku tidak mau kena hukum,” Lily membayangkan jika hukuman yang sedang dibicarakan oleh Rean adalah hukuman ala anak kecil yang akan dipukul telapak tangannya saat melakukan kesalahan.
Padahal tentu saja hukuman yang dimaksud oleh Rean berbeda. Hukuman yang dikatakan Rean merujuk kehal dewasa tentunya.
“Sudahlah, kau akan tahu nanti, yang penting kau harus mengikuti apa yang aku katakan, jika kau melanggar, kau akan kena hukuman, apakah kau mengerti?’ sahut Rean geleng-geleng melihat istrinya belum juga paham akan apa yang ia katakan.
“Hmmm, aku akan menurut.” balas Lily dengan ekspresi seperti anak kecil yang takut dihukum, dia menganggukkan kepalanya dengan cepat dan mengepalkan tangannya, seperti sedang memberikan keyakinan pada suaminya jika dia akan melakukan yang terbaik.
“Hehe, kenapa kau lucu sekali? Aku ingin membawamu kemanapun kalau kau bersikap sangat lucu seperti ini,” decak Rean mencubit pipi Lily karena merasa gemas.
Sekarang dahi dan pipinya sudah memerah karena kelakuan suaminya ini.
__ADS_1