
***
Time skip 5 tahun,
Suara musik yang terdengar keras membuat suara yang lain tidak akan terdengar, didalam Rean Regis sedang berpesta dan meminum banyak sekali minuman beralkohol.
"Rean, apakah kau akan seperti ini terus? kenapa kau menghancurkan hidupmu sendiri?" teriak seorang wanita terhadapnya, dia adalah Sharon, seseorang yang dulu bertengkar dengan Lily.
Sharon terus mencari Rean karena ternyata dahulu saat kecil mereka berteman, klub malam tempat Hera bekerja adalah dulunya milik ayah Sharon, karena itulah mereka berteman.
Rean mungkin melupakan Sharon tetapi Sharon tidak pernah melupakan Rean, karena Sharon menganggap jika Rean adalah kekasih masa kecilnya.
Sharon menemukan Rean sekitar tiga tahun lalu, saat Rean baru kembali ke negara dimana Winston dan kelompok mafianya tinggal, Rean berubah menjadi orang lain saat kepergian Lily, dia seperti bukan dirinya, dia seperti ingin menghancurkan dirinya sendiri.
Bagi Rean dia telah mati lima tahun yang lalu, dia tidak akan pernah bisa hidup sesuai dengan yang dia inginkan tanpa Lily.
"Ho? Sharon, teman masa kecilku, kemarilah, kau mau minum bersamaku?" Rean tertawa menyodorkan gelas berisi minuman kearah Sharon.
"Dasar bajingan! jika saja aku bukan teman masa kecilmu aku sudah menonjok mu!" teriak Sharon dengan sifatnya yang memang kasar untuk ukuran wanita.
Dia menyingkirkan semua wanita yang menempel kepada Rean dan melempar mereka dengan kasar.
"Aku ingin tahu kenapa istrimu yang dulu kalah bertengkar dariku, sedangkan dia bisa menaklukkan mu! aaahhhh! aku iri!" ketus Sharon yang sudah tahu jika hati lelaki yang sedang ia bawa keluar ini tidak akan pernah menjadi milik siapapun lagi kecuali istrinya itu.
Atau mungkin hati Rean memang sudah lama mati bersamaan dengan hilangnya Lily.
"Hah!" Sharon terlihat sangat kelelahan membawa tubuh bidang Rean hanya keluar dari klub, diluar dia bertemu anggota mafia Rean. Sharon berdecak kesal saat melihat mereka.
"Selama tiga tahun aku mencoba menculik lelaki ini, tetapi kau! aahhh! kau, Sammy selalu saja mengganggu ku!" ketus Sharon berdecak kesal saat melihat Sammy dan para anggotanya sudah berbaris menunggu bos mereka.
"Kau punya nyali juga ingin menculik seorang bos mafia ditambah dia keturunan raja," Sammy berdecak seolah ia bangga atas nama belakang yang disandang oleh Rean sekarang.
Seorang bos mafia berdarah biru, keturunan raja. Sammy begitu bangga akan itu, dia merasa derajatnya ikut naik saat bosnya menyandang gelar itu.
__ADS_1
"Cih, aku tidak akan pernah menyerah, lihat saja!" Sharon memandang tajam Sammy yang mengangkat dagunya karena sedang menunjukkan keangkuhan atas gelar bos-nya.
Sharon mengedipkan matanya lebih dulu yang artinya ia kalah dalam adu tatap mata dengan Sammy.
"Ahhh, baiklah, aku akan pergi, jangan berani-beraninya kau menyentuh tubuh berharga pria tampan yang sedang mabuk ini! awas saja kau ya!" ketus Sharon menyerah dan hendak pergi pulang.
"Ckck, dasar wanita brutal yang aneh," decak Sammy geleng-geleng.
Ia juga memapah dengan hormat bos-nya kedalam mobil untuk membawanya pulang.
"Bos, apakah kau baik-baik saja?" Sammy mencoba bertanya pada Bosnya yang sedang mabuk sembari menyetir mobil.
"Lily, maafkan aku, aku tidak akan datang kesana jika aku tahu aku akan kehilangan mu, aku tidak menginginkan itu, maafkan aku," Rean meracau seperti biasa dalam tidurnya.
Setiap detik dalam hidupnya, ia tidak pernah melupakan Lily, dia membenci dirinya sendiri dari hari itu, dia tidak akan pernah mencintai orang lain selain Lily.
Sammy hanya terdiam saat mendengar hal itu, dia melanjutkan menyetir mobil sampai ke rumah bos-nya yang sudah dijaga ketat oleh anggota mafianya.
***
"Ibu, lihatlah aku bisa membuat banyak bola-bola berbusa terbang," seorang anak kecil berumur empat tahun memanggil seorang wanita bernama Grace yang tidak lain adalah Lily.
Sekarang ia memiliki putra berumur empat tahun yang ia namai Levi.
"Levi, hati-hati lari nya Nak, nanti kamu jatuh," Lily berlari mengejar putranya yang sedang berlarian di taman.
Nick yang melihat pemandangan itu tersenyum bahagia sekali, dia merasa jika sekarang mereka terlihat seperti keluarga yang baik dan lengkap.
"Paman, tangkap aku," Levi tertawa berlari dan mengajak pamannya, Nick.
"Baiklah, persiapkan dirimu anak kecil," Nick terlihat antusias dan berlari mengejar mereka berdua.
Mereka sungguh terlihat seperti keluarga yang sangat bahagia.
__ADS_1
***
"Tring ... Tring ... Tring," ponselnya tiba-tiba berbunyi membuat Nick harus mengakhiri permainannya dengan keluarga kecilnya ini.
"Halo?" seru Nick pada assiten nya yang sedang menghubungi dirinya.
"Mohon maaf Pak, tetapi cabang kita yang ada disini diputuskan akan segera ditutup, kita hanya bisa mempertahankan cabang perusahaan yang ada luar negeri," itulah laporan yang diberikan oleh assiten nya, hal itu membuat Nick menjadi risau.
Karena masalah internal, perusahaan cabang yang ada di negaranya harus di tutup dan yang bisa di pertahankan adalah cabang yang ada di luar negeri, tepatnya dimana Rean dan Lily tinggali dulu.
Nick sempat ragu, tetapi dia tidak memiliki pilihan lain, lagipula Lily juga tidak akan mengenali Rean, juga negara itu sangat luas, kemungkinan untuk bertemu akan sangat kecil.
***
Di negara Eden,
Sean yang sudah menjadi raja sangat pusing, dia kesal tapi dia tidak bisa marah pada Rean, dia seseorang yang tidak bisa serius, di haruskan menjadi raja, dan dia tidak suka betapa membosankan nya itu.
Logan dia buat menjadi penasehat pribadinya, Logan yang notabene nya juga tidak suka merasa seperti dijebak oleh bosnya ini.
"Logan, aku tahu penderitaan mu, temanilah aku dalam kebosanan ini, aku sepertinya telah dihukum oleh Tuhan sampai harus menjadi raja seperti ini, hah," Sean menghela nafasnya dan meminum jus yang ada di gelas nya.
"Haaaaaaa!" Tiba-tiba Sean menangis tersedu-sedu saat meminum jus itu.
"Bahkan sekarang aku harus meminum jus untuk kesehatan seorang raja, aku padahal ingin miras, kembalikan kehidupan ku yang dulu," Sean merengek dan menarik-narik jubah Logan.
"Bos, kembalikan kehidupan ku yang dulu juga," seru Logan memandang lurus pada Sean.
"Ehemm ehem, jus ini enak juga, haha, Logan, hanya kaulah orang yang ku punya di dunia ini, jangan mencoba kabur dari kebosanan ini!" decak Sean mengusap-usap jubah yang tadi ia tarik itu.
Sedangkan Hera yang khawatir dengan putranya rutin mengunjungi Rean, kali ini dia sudah dalam perjalanan ke kediaman putra nya.
Hera telah dinyatakan sembuh dua tahun lalu, jadi sekarang Hera sudah dalam kondisi baik dan melupakan semua rasa sakitnya.
__ADS_1
***
Jangan lupa di like dan dikasih komentar membangun nya yaa. Thankyou somuch 🖤