
***
Lily yang tadi tengah memasak melanjutkan kegiatannya, tetapi ada satu hal yang mengganggunya.
“Aku sedang memasak, boleh kah kau duduk dan menunggu di sana?” Lily yang sedang memasak menghela nafasnya sembari menggenggam alat masak di tangan.
Sedari tadi Rean mengganggunya dengan memeluknya dari belakang.
“Tidak mau, hari ini aku sudah pulang cepat, aku tidak akan kehilangan kesempatan dekat denganmu,” sahut Rean sama sekali tidak merasa keberatan dengan apa yang sedang ia lakukan.
“Hah, aku tidak tahu akan selelah ini jika dia sedang manja,” gumam Lily menghela nafasnya panjang, dan tetap melanjutkan kegiatannya.
Bahkan saat ia berjalan pun, Rean akan mengikutinya, sepertinya Rean tidak ingin sedetik pun terpisah dari istrinya jika berada dirumah.
“Sayang, sejak kapan kau pintar memasak?” tanya Rean yang masih mengganggu istrinya memasak ini, dia tetap memeluk Lily dan tidak melonggarkan pelukan itu sedikitpun.
“Hmm, aku berlatih dirumah ini, masakan pertamaku adalah makanan yang aku berikan kepadamu,” sahut Lily jujur, karena dia belajar memasak memang baru-baru ini.
__ADS_1
“Wah, memang istriku sangat jenius, dan dia milikku,” sahut Rean bangga mengetahui jika istrinya berbakat dalam hal memasak.
Lily yang mendengar pujian dari suaminya sangat senang tentunya, di keluarga Lily, karena dia adalah putri satu-satunya, dia tidak diijinkan melakukan apapun yang akan mencoreng nama keluarganya, termasuk memasak, menurut keluarga Lily itu hanyalah pekerjaan untuk orang-orang kalangan bawah, yang Lily harus lakukan hanya menjadi anak gadis yang baik, belajar dan nantinya meneruskan bisnis keluarga.
"Berhenti memuji ku, itu hanya akan membuatku malu," sahut Lily tersipu saat mendengar pujian dari suaminya.
"Hehe, dia lucu sekali, semakin lucu jika aku menggodanya," gumam Rean akan semakin membuat Lily malu, menurut Rean ekspresinya sangat lucu dan dia suka melihat itu.
Akhirnya setelah beberapa lama memasak, Lily menghidangkan makanannya ke meja, dia terlihat seperti istri yang baik dan melayani suaminya.
Lily juga menyiapkan makanan ke wadah makanan suaminya, dia sering melihat dirumahnya yang melakukan itu adalah pelayan, namun di mansion Winston yang menaruh makanan untuk suaminya adalah Luna, jadi Lily berinisiatif untuk melakukan hal yang sama.
Mendengar ucapan dari istrinya Rean hanya menggeleng kepalanya.
"Kenapa? apakah kau tidak suka? kenapa kau tidak makan?" Lily bertanya, dia kebingungan mengapa suaminya menggelengkan kepalanya.
"Sreeek!" Rean menarik kursi Lily agar dekat dengannya.
__ADS_1
"Siapa suruh kau bisa jauh dariku? kenapa kau melepaskan pelukan ku dan menyuruhku duduk disini? kau membuatku marah!" ketus Rean tidak suka saat tadi Lily melepaskan pelukannya dan menuntun Rean untuk duduk di kursi yang berbeda dari Lily.
"Hah? apakah pasangan memang seperti ini? dia bisa marah hanya karena hal sesimpel itu? apa yang harus aku lakukan? aku tidak punya pengalaman, huhu, sekarang ini seperti nya aku harus konsultasi dengan temanku satu-satunya Luna, huhu, bagaimana ini? apa yang harus aku jawab," gumam Lily kebingungan harus menjawab apa, dia tidak pernah dihadapkan situasi seperti ini.
"Glek!" Lily menelan salivanya.
"Ah, jawab saja seadanya," decak Lily sama sekali tidak menemukan jawaban di kepalanya.
"Ah, tanganku sakiittt, huhu, lihatlah, tadi aku memasak dan tidak sengaja terkena air panas, jariku merah, betapa lemahnya diriku ini," Lily tiba-tiba berpura-pura kesakitan dan menunjukkan jarinya yang sedikit kemerahan.
"What? kau jenius sekali Lily, seperti nya sinetron yang kau tonton mengajarkan mu beberapa hal juga, dengan begini pembahasannya akan berubah, hahahah," Lily berkumandang dalam hatinya, dia merasa menjadi orang yang sangat jenius karena bisa menghindar secara halus dari percakapan yang menyudutkan nya tadi.
"Cup!" Rean menarik tangan Lily yang ia perlihatkan padanya dan menciumnya.
"Dengan begini tanganmu akan cepat sembuh," bisik Rean tersenyum menggenggam erat tangan Lily dan tersenyum begitu nakal pada istrinya ini.
"Duarrrr!" seperti bom yang meledak di kepalanya, Lily terdiam terpaku dan mukanya memerah, matanya terbelalak dan tubuhnya membeku.
__ADS_1
"Apakah ini nyata? kenapa dia nakal sekali? jika seperti ini aku akan semakin malu dan bingung harus bersikap seperti apa," gumam Lily semakin malu.