Suamiku Seorang MAFIA

Suamiku Seorang MAFIA
Apapun asal dia bahagia


__ADS_3

***


"Tidak mungkin," suara kecil tidak terdengar namun senyuman yang harus terlihat jelas, celingak-celinguk mencuri pandang sesekali kearah cermin, ingin rasanya menangis melihat dirinya sendiri di pantulan cermin itu.


Seolah tidak lelah tangan Lily sedari tadi mengoleskan kuas kecil yang sering ia gunakan untuk memoles wajahnya, tapi kali ini bukan untuk wajahnya tentunya, tapi ke wajah suaminya.


Kali ini Rean sedang dipolesi macam-macam make-up yang harusnya digunakan oleh perempuan, kepasrahan hati namun juga ketidakrela-an berbentrokan dalam diri Rean.


Sembari bergumam lagu-lagu berbahasa asing yang tidak dimengerti oleh Rean, istrinya ini terlihat sangat bahagia saat memoles wajah Rean seperti memoles wajahnya sendiri.


Terkadang ia tertawa sampai memegangi perut saat memperhatikan lebih detail maha karyanya yang ia torehkan diwajah suaminya ini.


Gugup? ya, tentu saja Rean gugup akan hasil akhirnya, dia bahkan lebih gugup dibandingkan saat menyelesaikan misi penting.


"Tada, maha karyaku sudah selesai, kau ... hahaha," dia memegangi perutnya, berguling-guling di ranjang sampai ia terbatuk. "Kau cantik sekali,"


Dia melihat wajahnya di cermin, hanya satu yang ada di kepalanya saat itu, "Jangan sampai ada yang melihatku seperti ini, bisa hancur image ku jika begini!" dia bahkan tidak sudi melihat wajahnya sendiri.

__ADS_1


Bagaimana tidak, wajahnya sekarang penuh riasan yang sering digunakan oleh wanita, dan seorang bos mafia sedang mengenakannya. Jika ketiga anak buahnya yang sedang begadang mencari jenis-jenis dan cara menanggulangi ibu-ibu hamil, mereka pasti menangis darah dan memilih menggantikan bos-nya ini.


Dia kembali menyadarkan diri dari lamunan dan rasa syok saat melihat pantulan dirinya di cermin, dia mendengar tawa istrinya yang masih belum mereda, melihat wajah bahagia dan polos istrinya membuat Rean tersenyum.


"Ah, inikah yang dinamakan cinta? aku tidak masalah berpenampilan seperti ini asalkan dia bisa bahagia seperti itu," dia tersenyum dan lupa dengan penampilannya, dia hanya berfokus pada istrinya yang tertawa dan merasa senang.


"Sudah selesai tertawanya?" setelah menunggu beberapa saat ia bertanya pada sang istri yang masih memandangi wajahnya, Rean datang mendekat dan mengusap perut istrinya yang masih rata.


"Hei, lihatlah ibumu ini, dia mentertawakan ayahmu yang hebat, tapi tidak masalah jika dia bisa bahagia, ya kan?" Rean mengusap perut istrinya, berbicara sembari tersenyum, matanya berbinar dan jantungnya berdebar-debar.


Mendengar itu Lily entah mengapa tiba-tiba terharu, dia menangis tiba-tiba membuat Rean panik.


Lily geleng-geleng tetapi air matanya tidak berhenti mengalir, "Ternyata kau rela melakukan ini hanya untuk kebahagiaan ku, huhu, aku merasa terharu, ini seperti film-film romantis yang sering aku tonton, kau membuatku terharu, ini salahmu!" dia memukul dada suaminya, masih menangis sampai sesenggukan.


Sungguh perubahan suasana yang ekstrim, tadi tertawa terpingkal-pingkal sekarang menangis sesenggukan.


Rean lalu mencubit lembut pipi istrinya, "Sayang, beraninya kau menyamakan dirimu dengan film-film romantis yang kau tonton, kau lebih berharga dan cerita cintamu lebih hebat dari antara film-film itu, karena aku disini, dan aku mencintaimu," dia memandang wajah Lily dari jarak yang sangat dekat, tersenyum. dahi mereka bersentuhan dan mereka memejamkan mata seperti menikmati momen indah ini.

__ADS_1


Bunga yang sangat banyak seperti meledak di jantung Lily, dia berdebar-debar dan pipinya merona, "Benarkah? aku juga mencintaimu," suaranya malu-malu dan senyuman lebar yang tidak bisa ditutupi sampai giginya terus terpampang.


"Deg ... Deg ... Deg,"


Jantung Rean yang berdegup semakin cepat melihat keimutan hakiki istrinya ini membuatnya membara.


"Aku lupa jika aku sudah menahan ini beberapa saat, haha, kita akan melakukan pembibitan eh olahraga panas sepanjang malam, jangan mengeluh," senyumannya nakal, dan pandangannya menggoda.


"Kyaa! aku malu sekali," Lily tersenyum namun tiba-tiba menjadi serius. "Mari kita lakukan, aku tidak akan kalah," wajahnya serius sekali dan seperti hendak terjun ke medan perang.


Mereka berdua bersemangat, membara dan banyak bentuk hati bertebaran di seluruh ruangan.


Sungguh sangat berbeda dengan ruangan tiga anggota mafia, yang sama-sama mengetuai divisi-divisi mafia Rean, mereka sedang suntuk memikirkan tugas dan melakukan tugas yang di emban kan oleh bosnya.


Semakin mereka mencari penyebab mengidam, jenis-jenisnya dan cara menanggulanginya semakin jauh dan semakin rumit jawabannya.


Ruangan itu penuh dengan kegelapan dan keputusasaan.

__ADS_1


***


Hei semuanya, aku baru buka aplikasi ini lagi dan banyak yang nanya kenapa ini gantung 😭 aku infokan sekali lagi ya, sebenarnya novel ini sudah tamat dan ini hanyalah bonus sekuel, tapi semoga Minggu depan aku bisa kelarin semuanya biar kalian ga nyari2 lagi, maaf ya 🙏


__ADS_2