
***
Rean menghentikan aksinya saat menyadari jika istrinya tertidur karena kelelahan, dia melihat matanya yang bengkak dan sedikit menghitam.
"Kenapa kau tidak bisa mempercayai ku? jika saja kau menunggu sedikit lagi aku tidak akan melakukan ini padamu," bisik Rean mengusap lembut pipi istrinya yang sudah memerah karena cengkeraman nya tadi.
Rean yang sedang murka keluar dari kamarnya, dia langsung mengumpulkan para pengawal yang dia perintahkan untuk menjaga dan mengawasi Lily.
Rean bertanya pada satu persatu orang dan mereka memang mengakui sempat kehilangan jejak Lily sesaat di sebuah pusat perbelanjaan.
Rean yang merasa anak buahnya tidak becus langsung menghajar semua orang yang terlibat, dia semakin marah dan memberikan hukuman berat untuk para pengawal itu.
Rean tidak bisa membayangkan jika saja Lily berada dalam bahaya dan anak buahnya lalai seperti ini.
Tidak lupa, dia juga memerintahkan beberapa anak buahnya untuk memeriksa cctv atau bukti sekecil apapun yang mengindikasikan dengan siapa Lily bertemu hari itu, mengapa Lily bisa tahu jika dirinya adalah seorang mafia dan pergi ke gedung lelang bersama Gale Rolex.
Juga dia memerintahkan beberapa yang lain untuk memeriksa perihal kematian Gale Rolex secara rahasia.
Hari itu dia tidak jadi membunuh Gale Rolex, pasti ada pihak yang ikut campur dalam hal ini, apakah hanya meramaikan atau memang dia tahu apa yang sedang terjadi.
***
Waktu akhirnya berlalu, Lily terbangun namun dia tidak menemukan suaminya di sisinya, dia merasakan nyeri dan ngilu di sekujur tubuhnya, dia menangis dan berteriak.
"Aaaaaa! kenapa harus seperti ini? saat aku merasa dia adalah penyelamat ku dari kehidupan ku yang tertekan, saat aku begitu bergantung padanya, dia malah menyakiti ku, kenapa dia harus membunuh ayahku," teriak Lily menghempaskan semua barang yang ada di kamar itu.
Dia melihat tubuhnya yang polos di cermin, begitu banyak tanda biru, dia bisa melihat betapa kasarnya suaminya tadi malam.
Dia mengusap dengan kasar seluruh tubuhnya seperti ingin menghilangkan tanda biru yang ada.
__ADS_1
"Aku harus pulang, hanya karena ingin mendengar langsung darinya aku harus mengundur kepulangan ku, ayah tunggu aku," decak Lily langsung mandi dan berpakaian tertutup untuk menutupi tanda-tanda biru yang juga ada di leher dan di lengannya.
Tetapi baru juga ingin keluar rumah, dia di hadang oleh beberapa orang penjaga yang wajahnya tidak familiar, sepertinya pengawalnya pun sudah diganti oleh Rean dan jumlahnya semakin banyak.
"Brengsek! aku hanya ingin pulang dan pergi ke pemakaman ayahku, kau malah menghalangi nya, dasar tidak berperasaan!" ketus Lily mengambil ponselnya dan menelepon Rean.
"Tring ... Tring ... Tring,"
"Halo! cepat lepaskan aku dan biarkan aku pulang, aku harus pergi ke pemakaman ayahku! jika kau memiliki sedikit nurani sebaiknya kau biarkan aku pergi kesana!" teriak Lily saat panggilan nya sudah terhubung pada Rean.
"Sayang, apakah kau lupa peringatan ku tadi malam? kau mungkin tidak tahu, tetapi kehidupan mafia tidak se sederhana yang kau kira, jika kau pergi sekarang maka mungkin bukan nyawa Gale Rolex saja yang melayang tetapi juga nyawamu, kau tinggal di rumah saja dan ikuti apa yang ku katakan padamu," ketus Rean langsung mematikan panggilan dari istrinya.
Dia sekarang sedang berada dalam meeting penting, disana juga ada Winston yang datang dan membantu saudara-saudaranya, karena ternyata permasalahan yang di hadapi oleh Rean dan Sean lebih kompleks dan besar daripada yang di kira.
Sedangkan Lily yang sudah dipenuhi amarah dan dendam semakin kesal, dia ingat jika saat lalu keluarga Langirs memberikannya nomor telepon.
"Kau yang membuatku sampai sejauh ini Rean, kau yang membuatku membencimu, jika saja ayahku tidak kau bunuh aku tidak akan pernah meninggalkan mu, lihatlah apa yang akan kau terima saat kau dengan mudahnya mengambil nyawa ayahku," decak Lily dalam dirinya, dengan cara apapun dia harus pergi ke negaranya dan pergi menuju pemakaman ayahnya.
***
Di kerajaan Eden,
Sean dengan segala rencana yang di sebutkan oleh Rean sedang melakukan perjamuan dengan para pemangku penting di dalam kerajaan. Matanya menjelajah ke seluruh orang yang hadir.
Senyuman tergambar di wajahnya namun api amarah sedang terbakar dalam dirinya.
"Apakah mereka yang sudah bersekongkol dengan keluarga Rolex untuk membunuh keluarga ku? lihat saja bagaimana aku dan Kakak ku akan membalas kalian satu persatu," gumam Sean penuh dengan amarah namun tetap tersenyum menanggapi banyaknya omongan yang di tujukan padanya.
Sembari memegang gelas wine dia menganggapi semua pertanyaan itu dengan bijak dan pintar.
__ADS_1
"Saya dengar Tuan Sean sebelumnya adalah dokter, sungguh hebat sekarang bisa menjadi komisaris utama di perusahaan adidaya," seru salah seorang pejabat yang menghadiri pesta makan malam disitu.
Malam itu memang sedang ada perjamuan makan malam seorang pejabat, dia mengundang banyak pengusaha termasuk perusahaan Winston yang sedang menguasai berbagai bidang.
"Haha, benar sekali Tuan, semuanya terjadi karena mendadak, saudara saya memberikan saya tanggungjawab yang sedikit berat sebagai komisaris utama, haha," Sean menjawab dengan lagat sombong dan tentu saja berkelas
Jawabannya membuat beberapa orang iri, karena Sean dengan mudahnya mendapatkan posisi tinggi itu.
Tetapi tiba-tiba saat berbincang-bincang, suara menjadi sedikit ricuh, orang-orang sedikit heboh karena kepala keluarga Rolex yang tertutup dan memiliki kelas tertinggi di kerajaan datang ke pesta lelang.
"Tuan Vincent Rolex, tidak ku sangka Tuan akan datang ke pesta perjamuan sederhana saya ini," sahut tuan rumah yang mengadakan pesta perjamuan.
Perhatian yang tadinya tertuju pada Sean beralih ke perdana menteri tertinggi, juga bangsawan paling dihormati di negara ini yaitu Vincent Rolex.
Vincent Rolex sudah tua, namun masih gagah dan terlihat sangat berwibawa.
Genggaman tangan Sean pada gelas wine semakin kuat dan dia sudah tidak bisa menahan emosinya lagi.
"Dia kah? dia kah yang merencanakan pembantaian keluarga ku? dia kah si bajingan itu?" gumam Rean dengan mata yang sangat menyeramkan.
***
"Hei, kita harus hati-hati padanya, orang-orang bilang dia sangat berbahaya dan licik, aku dengar gosip nya jika negara ini berada di bawah kuasanya bukan sang raja," bisik salah seorang tamu undangan pada Sean.
"Ho? kita lihat sampai kapan dia bisa tersenyum dan bangga seperti itu, takdir yang mengikuti nya akan merenggut nya dalam sekejap!" decak Sean meneguk semua wine yang ada di gelasnya.
Vincent Rolex yang tadi berbincang dengan pemilik perjamuan di buat tertarik oleh seorang pria, matanya dan senyuman nya seperti iblis, dia teringat akan dirinya dahulu saat melihat pria itu. Ya, pria itu adalah Sean.
Vincent berjalan kearah Sean dan berbicara kepadanya.
__ADS_1
"Matamu sangat tajam, senyuman mu penuh tipu muslihat, darah muda memang membuat bersemangat," itulah kata-kata yang terlontar dari mulutnya menyapa Sean.
"Tuan, mata ini adalah mata turunan dari ibuku, mata ini akan melihat darah dan pembalasan nanti, entah siapa yang akan menjadi korban nya," seru Sean tersenyum sinis, dia sedang menahan luapan amarah sekarang, dia harus mengikuti rencana Rean.