
***
Membuat anak mungkin sudah merupakan kesenangan paling menyenangkan bagi Winston, wanita yang ia cintai, satu-satunya wanita dalam hidupnya, dia ingin wanita ini melahirkan anak-anaknya.
Seorang pria yang setiap harinya di mabuk cinta, dan setiap harinya akan semakin mencintai istrinya ini akan selalu mencari kesempatan dalam kesempitan, akalnya tidak pernah habis, tujuannya hanya satu yaitu berduaan saja dengan istrinya tanpa ada yang mengganggu.
Perlakuan lembut dan sentuhan yang hangat diterima Luna pagi itu, pertama Winston akan berbaring dan bersandar di sisi istrinya memainkan rambutnya dan menyentuh disana-sini.
Dia akan selalu berhenti lama di tempat kesukaan nya, bagian tubuh Luna yang satu ini adalah tempat favorit Winston.
"Sayang, kau tahu kah dulu saat aku kecil ibuku selalu menyanyikan lagu penghantar tidur untukku, tiba-tiba aku mengingatnya, bisakah kau menyanyi untukku," dengan suara lembut dan mata yang bulat Luna berbicara pada suaminya yang sedang bermain-main dengan nyamannya pada tubuhnya.
"Hmm? ini kan pagi sayang, bagaimana mungkin aku menyanyikan lagu pengantar tidur pagi hari begini, biarkan aku bermain-main sebentar dulu, sudah lama aku tidak memainkan kedua gunung kembar kesukaan ku ini, aku merindukan mereka," suara yang pelan dan seperti tidak terganggu atas pertanyaan istrinya, dia terus berlanjut melakukan hal kesukaan nya ini.
"Sayang," suara yang sedikit memelas dan tangan yang menahan tangan suaminya melihat dengan serius kearah Winston.
"Nyanyikan aku lagu, tidak harus lagu penghantar tidur, jika kau tidak mau bernyanyi aku akan ...." belum sempat bibir mungil Luna melanjutkan omongannya jemari suaminya sudah terlepas dengan mudah dan mengusao bibir manis nya itu.
"Kau akan apa sayang? kau semakin banyak maunya akhir-akhir ini, aku akan bernyanyi tapi kau harus memeluk aku dulu," kedua pipi istrinya ia cubit lembut.
Mengikuti permintaan suaminya, dia segera memeluk suaminya ini.
"Lalu cium aku," Winston memang suka sekali mengerjai wanitanya ini.
Tetapi pagi ini Luna sama sekali tidak kesal atau menolak dia menurut lagi, dia mencium suaminya dari mata ke pipi dan kebibir.
__ADS_1
"Wanita penggoda, beraninya mencium bibirku di pagi hari, aku akan menghukum mu, bersiaplah," senyuman penuh kemenangan dan kebahagiaan tiada Tara tergambar di wajah tampannya.
Dia menang lagi kali ini, dia sangat suka saat istrinya menciumnya duluan, rasanya dia seperti memenangkan sebuah hadiah paling mahal dan paling berharga.
Dengan lembut Winston dengan mudah mengangkat tubuh istrinya dan membuatnya berbaring diatas tubuhnya.
"Sayang, nyanyi," Luna tidak melupakan permintaan nya sedari awal.
Jemari Luna mengusap lembut rambut suaminya yang ada di bawah tubuhnya, menantikan suaminya bernyanyi untuknya.
Suara lembut dan hangat diperdengarkan oleh Winston, dia bukan penyanyi yang baik, tetapi isi lagu dan perasaan yang disampaikan terasa sampai ke hati istrinya.
"Karena aku sudah bernyanyi untuk istriku, aku akan mengambil hadiahku, kita akan melakukan nya sebanyak tiga kali pagi ini, pertama adalah karena kau menggodaku, kedua karena aku bernyanyi untukmu, dan ketiga adalah bonus," Winston berbisik, dia akan mulai berbisik dan mencium leher istrinya dan semua bagian yang bisa ia raih sebelum melakukan olahraga panas kesukaannya.
"Sayang, tiga kali kebanyakan, sekali saja ya," Luna merasa jika harus melakukan hal itu tiga ronde pagi hari pasti akan membuatnya lelah.
Pagi itu bahkan setelah tiga ronde permainan Winston masih ingin nambah, saat mereka mandi bersama, Winston tetap melakukan olahraga panas kesukaannya, dia lupa jika di kantor banyak sekali pekerjaan, hanya demi menyenangkan diri dan Istri dia membiarkan semua urusannya yang dikantor ataupun diluar menjadi nomor dua.
***
Ditempat bulan madu Rean dan Lily,
"Sayang, bukankah seharusnya kita jalan-jalan jika sudah ada disini, kenapa kau malah ingin tidur?" Rean sudah mengenakan baju pantai berwarna biru, tadi istrinya juga sudah bersiap-siap untuk pergi namun tiba-tiba Lily kehilangan mood dan tiba-tiba tidur di kasur.
"Sayang, aku tidak ingin pergi, sekarang aku maunya kau mengusap-usap rambut ku dan bercerita," tubuhnya terlentang di kasur, menggunakan dress berwarna senada dengan suaminya.
__ADS_1
Rean memandangi istrinya yang berwajah imut, dia tersenyum dan melangkahkan kaki ke kasur, dia membaringkan tubuhnya di sisi istrinya dan mengusap rambutnya.
"Tanganmu hangat sekali, apakah kita belum bisa melakukan itu? aku ingin sekali," wajah mungilnya melihat kearah suaminya sembari mengatakan sesuatu yang akan membuat birahi suaminya meledak.
Rean menelan salivanya dan dia memeluk istrinya dengan sangat erat.
"Tahan Rean, tahan sebentar lagi, hanya satu hari lagi, kau akan bisa melakukannya dengan puas," Rean bergumam namun nafasnya sudah berat karena sedang menahan gairah yang sudah tertahan selama kurang lebih satu minggu.
Rean mendengar dari dokter jika masa kehamilan muda tidak boleh melakukan itu, karena akan riskan, jadi harus menunggu beberapa minggu dulu dan satu hari lagi Rean akan bisa melakukannya lagi.
Yang membuat Rean semakin tidak sabaran adalah, saat istrinya hamil, istrinya ini menjadi sangat pro aktif dan selalu menanyakan hal yang sama, Lily semakin memiliki gairah yang besar saat ia hamil, dia sudah tidak malu-malu lagi menanyakan itu pada suaminya.
"Sayang, kapan kita boleh melakukannya, sekarang aku merasa harus melakukan itu," nada yang sedikit menggoda dan ciuman yang sudah mendarat di pipi membuat kepala Rean hampir meledak karena jika diibaratkan gairahnya sudah ada di ujung pintu.
"Hah, sa ... sayang, jika kau begini terus aku akan menjadi gila, kita bisa melakukan itu besok, besok kita bisa puas melakukannya tapi untuk sekarang belum, takut terjadi apa-apa pada anak kita," suara yang memperdengarkan nafas yang berat menggambarkan bagaimana keadaan Rean sekarang.
Rean sedang menahan gairahnya, tetapi anggota kecilnya nya yang sudah terlanjur bangun dan harus segera dikeluarkan amunisinya karena akan terasa sakit dan menyiksa jika itu tidak keluar.
"Sayang, aku ke kamar mandi sebentar ya, aku akan kembali lagi dan mengusap rambut mu," dia sudah tidak tahan, dia harus melakukan nya sendiri di kamar mandi.
Lily yang tidak berpikir aneh-aneh, hanya mengangguk dan berdecak, " ah, besok kenapa lama sekali, aku ingin," suaranya terdengar di telinga Rean dan Rean dengan cepat menuju kamar mandi.
***
Semoga penggambaran nya enak dibaca dan tidak terlalu vulgar ya, yang usianya belum 21+ jangan dibaca yang ini hehe.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen 🤗